TERAS

Pemilik Media yang Berpolitik Praktis Jadi Ancaman bagi Demokrasi

  • Administrator
  • Selasa, 08 Oktober 2024
  • menit membaca
  • 79x baca
Pemilik Media yang Berpolitik Praktis Jadi Ancaman bagi Demokrasi

Pemilik Media yang Berpolitik Praktis Jadi Ancaman bagi Demokrasi

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Pemilik media yang terlibat dalam politik praktis dinilai sebagai ancaman serius bagi demokrasi, dengan memanfaatkan media sebagai alat untuk merekayasa narasi politik demi mengendalikan aspirasi publik sesuai dengan ambisi politik pribadi. Tindakan ini dilakukan melalui strategi newspeak serta filter kepemilikan, uang, dan monopoli informasi.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram, Dr. Mukhijab, MA, dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-42 Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Senin (7/10/24). 

 

Dalam orasi bertajuk Kuasa Pemilik Media dalam Menarasikan Demokrasi, Mukhijab menegaskan bahwa para pemilik media ini secara efektif "mengambil alih" ruang publik dan menjadikannya arena politik privat, di mana informasi yang disajikan cenderung eksklusif dan sesuai dengan kepentingan pemodal.

Menurut Mukhijab, langkah tersebut menjadi penghalang bagi tiga proses inti demokrasi, yaitu transparansi, publisitas, dan akuntabilitas. Di bawah kendali pemilik media, manipulasi informasi menjadi senjata untuk mempraktikkan politik predatoris dan mengaburkan kompetisi politik yang sehat.

Lebih lanjut, Mukhijab menegaskan bahwa keterlibatan pemilik media dalam politik tidak sekadar mencerminkan paralelisme politik atau politisasi media. Sebaliknya, manipulasi politik yang dilakukan oleh para pemodal media menyebabkan kemunduran demokrasi. Media yang seharusnya berfungsi menetralisir pengaruh politik dan kekuasaan, kini berubah menjadi alat untuk menjalankan mandat ekonomi-politik dan menyalurkan kepentingan politik pemilik modal.

 

Mengembalikan peran pemilik media sebagai penjaga independensi media menjadi tantangan besar bagi dunia jurnalisme di Indonesia. Mukhijab juga menyoroti bagaimana pasar bisnis media konvensional seperti cetak, radio, dan televisi mengalami penurunan drastis di era disrupsi digital. Banyak media cetak besar gulung tikar karena persaingan ketat dengan media daring dan media sosial. Tekanan ekonomi ini tidak hanya memengaruhi bisnis media mereka, tetapi juga karier politik beberapa pemilik media.

 

Namun, beberapa pemilik media besar yang masih terlibat dalam politik praktis tetap bertahan berkat bisnis media multiplatform yang mereka miliki. Mereka tenggelam dalam pusaran politik yang begitu kuat, hingga melupakan peran mereka sebagai penjaga independensi media dan penopang demokrasi. Upaya untuk mengembalikan nilai-nilai demokrasi di media menjadi tantangan besar, terutama karena kebiasaan predator demokrasi telah menjadi habitus baru di kalangan pemilik media. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar