Ramadhan di Kapal Pesiar
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Jelang senja. Langit lembayung dan kilau keemasan di permukan laut tampak begitu indah. Pada satu titik di geladak atas sebuah kapal pesiar besar, belasan pria muda tampak takzim mendengarkan seorang senior yang tengah menyampaikan nasehat agama. Di sebelah kanan mereka tampak aneka hidangan memenuhi sebuah meja. Botol-botol air mineral, kurma, pinggan besar penuh nasi goreng, puluhan tusuk sate ayam, semangkok acar, kerupuk di toples, buah potong segar di atas nampan, dan sepanci bakso hangat dengan aroma gurih yang menggoda.
Satriya Hanung, seorang staff pengajar di LP2K Sun Marino Indonesia, berbagi pengalaman tentang menunaikan puasa di kapal pesiar. Dia menyoroti tantangan yang dihadapi oleh kru kapal pesiar, seperti perbedaan waktu berpuasa yang signifikan terutama di daerah kutub utara, Alaska, dan Finlandia. Beberapa kru bahkan harus berpuasa hingga 21 jam, dengan waktu sahur yang dimulai pukul 02.00 dini hari dan berbuka pukul 23.30.
Hanung juga menekankan perbedaan suhu yang ekstrim di wilayah kutub utara, dimana suhu bisa mencapai -34 hingga -49 derajat Celsius. Bagi kru kapal pesiar yang berasal dari daerah tropis seperti Indonesia, ini merupakan tantangan ekstra karena mereka harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang sangat berbeda.
Selain itu, menentukan waktu berbuka juga menjadi masalah karena kru tidak dapat mengandalkan adzan. Mereka harus mencari data kapan matahari yang tenggelam, namun di daerah-daerah seperti Laplandia di Finlandia, matahari bisa terbit hampir sepanjang hari, membuat penentuan waktu berbuka menjadi sulit.
Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, Hanung menekankan pentingnya niat yang kuat dan persiapan mental dan fisik bagi kru kapal pesiar yang ingin menunaikan puasa di atas kapal. Pengalaman ini menjadi referensi berharga bagi calon kru kapal pesiar yang ingin menghadapi tantangan serupa di masa depan. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar