TERAS

PESAN PERDAMAIAN DARI LERENG MERAPI

  • Administrator
  • Jumat, 05 Juli 2024
  • menit membaca
  • 237x baca
PESAN PERDAMAIAN DARI LERENG MERAPI

PESAN PERDAMAIAN DARI LERENG MERAPI

​​​​​Sleman, jogja-ngangkring.com - "Aku tak menghendaki rudal nuklir. Dia adalah ancaman bagi kelestarian alam dan isinya." Pesan ini tertera di Monumen Perdamaian Pecinta Alam "Rudal Merapi" yang  ditandatangani KGPH Mangkubumi SH tanggal 11 Maret 1984 di Desa Kinahrejo Desa Umbulharjo Kapanewonan Cangkringan Sleman.

Belum lama ini, Sabtu - Minggu (29-30/6/24), Perhimpunan Pecinta Alam SMA Negeri 6 Yogyakarta, alumni pecinta alam SMA Namche, Muda Wijaya Hiking Club (MWHC) dan beberapa pegiat Pecinta Alam di Jogja melakukan bersih-bersih dan perawatan di lingkungan Monumen Perdamaian "Rudal Merapi". Di tengah kesejukan udara, sesekali diselimuti kabut Gunung Merapi, puluhan orang bahu membahu membersihkan, merawat keberadaan monumen dengan membuat pagar rantai dan pengerasan lantai. ​​​

Ketua Panitia, Soni Damai Anggoro menyatakan, kegiatan perawatan ini digelar dalam rangka memberikan pesan Perdamaian, di mana akhir-akhir ini terjadi situasi perang lagi yang belum berkesudahan antara Israel dan Palestina dan berpotensi melibatkan negara negara lain, sehingga mengancam perdamaian dunia. “Semangat cinta perdamaian ini perlu dikobarkan lagi oleh Insan Pecinta Alam Jogja, demi terjaganya kelestarian umat manusia dan alamnya dari kerusakan yang diakibatkan perang,” ucap siswa kelas XI SMAN 6 Yogyakarta itu.

Doa & Simbol Perdamaian di Merapi
Monumen Perdamaian ini di buat pada 1984 oleh Pecinta Alam Jogja yang dimotori MWHC, kegiatan ekstrakurikuler siswa-siswa SMAN 6 Yogyakarta. Pada awalnya, monumen ini ditempatkan di Pos 2 jalur pendakian puncak Gunung Merapi sisi selatan. Namun ketika terjadi letusan besar Gunung Merapi 2010, monumen ini mengalami kerusakan berat, sehingga terpaksa harus diturunkan ke desa terakhir Kinahrejo untuk didirikan lagi 23 April 2017.

“Karena Pos 2 Merapi pasca erupsi Merapi hingga saat ini ditutup. Jalur pendakian sisi selatan ditutup karena tidak memungkinkan dilalui akibat  erupsi tersebut,” timpal Heru Wahyu Prasetyo, sesepuh MWHC, yang ikut mendampingi siswa SMAN 6 Yogyakarta di acara ini.
Tujuan pembuatan Monumen Doa atau Monumen Rudal Merapi adalah untuk menyampaikan pesan perdamaian ke seluruh dunia. Monumen ini dibuat sebagai respon terhadap Perang Malvinas yang terjadi pada tahun 1982-1983 oleh pecinta alam dari MWHC SMA N 6.


“Pembuatan,  bahan dan pembiayaan di support oleh KGPH Mangkubumi (nama Sri Sultan Hamengkubuwono X sebelum naik tahta dan menjadi Gubernur DIY) yang juga alumni SMA 6. Beliau menyediakan bahan-bahan dari pabrik Madukismo, seperti cerobong, serta memberikan bantuan biaya operasional. Monumen ini dipasang di Pos 2 Merapi, sebuah tempat yang sering digunakan untuk acara labuhan. Monumen ini mendapat sambutan luas dari masyarakat. Responnya hingga internasional bahkan diliput oleh CNN ketika itu,” Heru Wahyu Prasetyo  mengisahkan.

Tidak mudah mendirikannya di Pos 2 Merapi pada waktu itu, Pecinta alam jogja bahu membahu, sampai harus menginap di Lokasi beberapa hari untuk menyelesaikannya, semangat gotong royong dibangun untuk mewujudkan keinginan bersama itu. Potongan potongan besi di angkut dari bawah dirangkai ulang diatas, dan buatkan semacam batu penyangga yang dibuat dari tatanan bata dan di cover semen PC. Rasa Lelah terbayar Ketika monument itu selesai dibuat, karena sambutan Masyarakat luas sangat antusias dengan adanya Monumen tersebut. Sekecil apapun yang di perbuat, pesan itu sudah tersampaikan ke Masyarakat luas.


Kendati tak lagi berada di Pos 2 pendakian, keberadaan monumen saat ini menjadi kelebihan. Di mana di tempat baru itu, monumen Rudal bisa disaksikan banyak orang, karena terletak di lokasi yang sering dilewati jalur Wisata Merapi. “Harapannya, agar semakin banyak masyarakat menjadi tahu dan semakin sadar, betapa penting fungsi monumen ini untuk mengingatkan tentang perdamaian, dan kelestarian alam. Kami berharap pesan perdamaian dapat terus disebarkan dan diingat oleh semua orang yang berkunjung. Monumen Doa bukan hanya simbol fisik, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga perdamaian di dunia,” Heru Wahyu Prasetyo memungkasi perbincangan. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar