TERAS

Masjid Pathok Negoro Mlangi

  • Administrator
  • Senin, 03 Juni 2024
  • menit membaca
  • 90x baca
Masjid Pathok Negoro Mlangi

Masjid Pathok Negoro Mlangi


Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Masjid Pathok Negoro Mlangi adalah salah satu dari lima Masjid Pathok Negoro yang dimiliki Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang berfungsi sebagai batas wilayah negara (Negaragung) dalam tata ruang kerajaan Mataram Islam. Masjid Pathok Negoro Mlangi, juga dikenal sebagai Masjid Jami Mlangi, berlokasi di Dusun Mlangi, Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 1.000 meter persegi, dengan bangunan utama seluas 20 x 20 meter persegi, serambi seluas 12 x 20 meter persegi, ruang perpustakaan seluas 7 x 7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi.


Setelah pembangunan Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I memberikan tanah di wilayah Mlangi kepada Kyai Nur Iman pada tahun 1758 untuk menyebarkan ajaran Islam. Di wilayah tersebut, Kyai Nur Iman mendirikan pesantren dan masjid, yang menjadi asal usul nama Mlangi, dari kata "mulangi" yang berarti mengajarkan dalam bahasa Jawa. 


Pada awal pendiriannya, Masjid Pathok Negoro Mlangi memiliki 16 tiang utama dari kayu jati, terdiri dari 4 saka guru dan 12 saka penanggep. Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono II, masjid ini dipindahkan sedikit ke timur dari bangunan lama dan dibangun kembali dengan gaya arsitektur Jawa, dengan penyangga-penyangga kayu dan atap tumpang. Di bagian depan masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid, dan pohon sawo kecik di halaman masjid. 


Pada tahun 1955, Keraton Yogyakarta menyerahkan pengelolaan masjid kepada masyarakat Mlangi. Meskipun begitu Keraton Yogyakarta masih menempatkan Abdi Dalem sebagai penanda bahwa masjid ini adalah Kagungan Dalem. 


Seiring kebutuhan masyarakat, pada tahun 1985 masjid ini mengalami perubahan besar-besaran untuk menampung lebih banyak jamaah. Masjid dibuat bertingkat dengan pilar-pilar beton, sementara bentuk asli masjid dipertahankan dengan cara diangkat ke lantai atas. Mustaka atau mahkota masjid tetap tidak berubah, dan di dalam masjid masih terdapat mimbar, bedug, dan kentongan yang merupakan replika dari masa Kyai Nur Iman.


Di sekeliling masjid terdapat makam-makam anggota keluarga keraton, antara lain makam Pangeran Bei di sisi barat, makam Pangeran Sedo Kedaton di sisi utara, dan makam Pangeran Prabuningrat di sisi timur. Saat ini terdapat sekitar sembilan pondok pesantren yang dipimpin oleh keturunan Kyai Nur Iman, dengan sekitar 1.000 santri yang belajar di sana. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar