UAD Gandeng Kalurahan Caturharjo Kembangkan Pengelolaan Sampah Berbasis IoT dan Living Lab

BANTUL, jogja-ngangkring.com — Upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan mulai dikembangkan di Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. Melalui kolaborasi antara Universitas Ahmad Dahlan, pemerintah kalurahan, dan masyarakat, program pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi Internet of Things (IoT) resmi dimulai melalui Program BESTARI SAINTEK. Program penelitian tersebut mengusung pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu yang dilengkapi teknologi deteksi emisi gas berbahaya serta metode pemantauan visual berbiaya rendah berbasis IoT. Pendekatan tersebut dikembangkan untuk memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah.
Kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan pada Selasa (19/5/2026) sebagai tahapan awal pelaksanaan riset dan pendampingan masyarakat selama satu tahun ke depan. Tim peneliti dipimpin oleh Anton Yudhana bersama sejumlah akademisi lintas disiplin dari bidang kimia, hukum, pendidikan, hingga sastra.
Lurah Kalurahan Caturharjo, Wasdiyanto, mengatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan utama di masyarakat. Namun di sisi lain, pengelolaan sampah yang tepat mampu menghadirkan dampak ekonomi dan sosial yang nyata. Menurutnya, Caturharjo selama ini telah menjalankan Program 4000 Jogangan dan Rumah Kumpul Sampah (RKS). Sampah organik diolah melalui jogangan, sementara sampah nonorganik dipilah berdasarkan nilai jualnya untuk didaur ulang maupun dijual kembali. “Kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat program yang sudah berjalan, terutama untuk penanganan sampah residu yang hingga kini masih menjadi tantangan,” ujarnya. Saat ini terdapat 14 Rumah Kumpul Sampah yang tersebar di wilayah Caturharjo. Sistem pengelolaannya mengusung pendekatan “alam ke alam” dan “pabrik ke pabrik” melalui proses daur ulang. Sampah bernilai ekonomi dipisahkan menjadi kategori seperti botol plastik, kertas, dan karton untuk mendukung keberlanjutan program lingkungan masyarakat. Selain aspek lingkungan, pengelolaan sampah di wilayah tersebut juga telah berkembang menjadi gerakan sosial melalui program Sedekah Sampah. Hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan untuk santunan warga lanjut usia, bantuan bagi guru TK, hingga mendukung renovasi rumah warga yang membutuhkan.
Pimpinan Padukuhan Gluntung Kidul, Ngadiono, menyebut Rumah Kumpul Sampah di wilayahnya telah berjalan selama empat tahun dan memberikan manfaat sosial yang dirasakan langsung masyarakat. “Permasalahan sampah akan selalu ada. Tetapi ketika dikelola bersama, justru bisa menjadi sumber manfaat dan kemandirian warga,” katanya.
Ketua tim penelitian sekaligus pimpinan LPPM UAD, Anton Yudhana, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada transfer teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Dalam program ini, tim peneliti juga akan mengembangkan fasilitas insinerator untuk membantu penanganan sampah residu secara mandiri. Selain itu, teknologi sensor deteksi emisi gas dan sistem pemantauan visual berbasis IoT akan diterapkan guna meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di tingkat kalurahan. Pendekatan living laboratory dan co-creation menjadi bagian penting dalam program tersebut. Masyarakat tidak hanya menjadi objek pendampingan, tetapi juga dilibatkan dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, hingga pengembangan solusi lingkungan secara bersama-sama.
Program ini juga terintegrasi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi yang melibatkan 34 mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Ahmad Dahlan. Para mahasiswa akan terjun langsung mendampingi masyarakat dalam edukasi lingkungan serta implementasi teknologi pengelolaan sampah berbasis IoT. Kegiatan perdana yang digelar di Rumah Dilan atau Rumah Pendidikan dan Pelatihan itu turut dihadiri perangkat kalurahan, pengelola Rumah Kumpul Sampah, pengurus bank sampah, komunitas lingkungan, ketua RT, relawan, hingga para lansia penerima bantuan sosial dari hasil pengelolaan sampah masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, Kalurahan Caturharjo diharapkan dapat berkembang menjadi model pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang bisa direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar