TERAS

Keluarga KHD Apresiasi Semangat Anak Muda Literasi Sejarah Kebangsaan

  • Administrator
  • Senin, 18 Mei 2026
  • menit membaca
  • 14x baca
Keluarga KHD Apresiasi Semangat Anak Muda Literasi Sejarah Kebangsaan

KELUARGA KHD APRESIASI SEMANGAT ANAK MUDA LITERASI SEJARAH KEBANGSAAN

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com (18/5/26) - Semangat literasi sejarah dan kebangsaan terasa hidup saat puluhan anak muda dari berbagai daerah mengikuti wisata sejarah menelusuri jejak perjuangan Ki Hadjar Dewantara (KHD), Yogyakarta, Minggu (17/5). Sebanyak 30 peserta yang tergabung dalam komunitas Social Movement Institut (SMI) disambut hangat di rumah pertama Ki Hadjar Dewantara di Jalan Gadjah Mada No. 26 Yogyakarta. Rumah yang pernah ditempati Ki Hadjar Dewantara pada 1919–1935 itu menjadi saksi lahirnya Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Hadir menyambut rombongan antara lain drg. Widyawati dan Purbo Wijaya selaku cucu Ki Hadjar Dewantara, Retno W sebagai pemilik rumah, Hary Sutrasno cucu Mr. Kasman Singodimedjo, serta para guru TK Al Husna. TK Al Husna sendiri saat ini menampati bangunan bersejarah itu.

“Sebagai keluarga KHD, kami sangat mengapresiasi kegiatan literasi sejarah kebangsaan Indonesia ini. Pesertanya mayoritas anak muda yang dengan kesadaran sendiri menelusuri jejak perjuangan para pendiri bangsa. Mereka datang untuk memahami lebih dalam perjuangan dan gagasan-gagasan kebangsaan Ki Hadjar Dewantara,” ujar drg. Widyawati.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa spirit pemikiran Ki Hadjar Dewantara bertumpu pada pendidikan yang memerdekakan dan berakar pada budaya bangsa sendiri. Konsep Trikon yang diwariskan KHD menekankan pendidikan yang kontinyu, konvergen, dan konsentris atau berkarakter. Menurutnya, kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila penguasaan ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan pembentukan budi pekerti.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Koordinator Wilayah Yogyakarta. Hary Sutrasno yang hadir dalam kegiatan menegaskan bahwa upaya merawat ingatan sejarah merupakan bagian dari amanat undang-undang.
“Kegiatan seperti ini selaras dengan tugas IKPNI sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Kami memiliki tanggung jawab menjaga, melestarikan perjuangan serta menumbuhkan semangat kepahlawanan kepada generasi muda,” katanya.

Rangkaian wisata sejarah itu turut didampingi sejarawan JJ Rizal, aktivis Eko Prasetyo, serta Logo Situmorang dari Komunitas Bambu (KOBAM) Jakarta. Sementara Social Movement Institut (SMI) dikenal sebagai komunitas nirlaba yang menjadi ruang belajar bagi anak muda untuk menumbuhkan pemikiran kritis, terbuka, dan berpihak pada nilai keadilan.


Peserta diajak mengunjungi sejumlah situs penting, mulai dari gedung awal Taman Siswa, Pura Pakualaman, Museum Dewantara Kirti Griya, Pendapa Taman Siswa hingga Makam Wijaya Brata. Selain kunjungan lapangan, kegiatan juga diisi diskusi kebudayaan bersama budayawan Butet Kertaradjasa, JJ Rizal, Eko Prasetyo, dan pendiri Laboratorium Sariswara Cak Listyo.

Dalam catatan sejarah, RM Soewardi Soerjaningrat—yang kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara karena alasan egaliter—dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, pendidik, kolumnis, dan pelopor pendidikan Indonesia.

“Kegiatan wisata sejarah ini sudah berlangsung sebanyak 37 kali dan baru pertama kali digelar di Yogyakarta. Kami ingin anak muda tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri dan terus melanjutkan nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa,” ujar Logo Situmorang, putra penyair ternama Sitor Situmorang.

Kegiatan ini menjadi penanda bahwa sejarah tidak hanya disimpan di ruang arsip dan museum, tetapi juga dapat dihidupkan kembali melalui keterlibatan aktif generasi muda yang ingin belajar langsung dari jejak perjuangan para pendiri bangsa. (Yul)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar