TERAS

FKMB: Membangun Sejarah Peradaban Lewat Museum

  • Administrator
  • Selasa, 19 Mei 2026
  • menit membaca
  • 12x baca
FKMB: Membangun Sejarah Peradaban Lewat Museum

FKMB: Membangun Sejarah Peradaban Lewat Museum

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com (19/5/26) -  Peringatan Hari Museum Internasional 2026 yang digelar Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB) menjadi penanda semakin pentingnya peran museum di tengah kehidupan masyarakat modern.

Mengusung tema “Museum yang Menyatukan Dunia yang Terpecah”, kegiatan yang berlangsung di Andi Bayou Museum dan Galeri Musik, Kasihan, Bantul, Selasa (18/5), mempertemukan pengelola museum, pegiat budaya, akademisi, hingga komunitas sejarah untuk membahas arah baru dunia permuseuman di DIY.


Kegiatan yang menjadi bagian dari Badan Musyawarah Musea (BARAHMUS) DIY tersebut diikuti 17 museum anggota wilayah Bantul. Tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, forum itu berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, sekaligus merumuskan strategi agar museum semakin dekat dengan masyarakat dan mampu mengikuti perkembangan zaman.


Suasana acara berlangsung hangat melalui talkshow yang dipandu Joana Zettira, M.Sc. Sejumlah narasumber turut hadir, di antaranya Kustap, S.Sn., M.Sn., Kaprodi Musik FSP ISI Yogyakarta, Praktisi Museum DIY Fajar Wijanarko, S.S., serta pemilik Andi Bayou Museum dan Galeri Musik, Andi Haryo Setiawan, S.H., M.H.

Acara juga dimeriahkan penampilan Marcella Dee bersama kibordis Hastono yang membawakan lagu dari pentas musikal Java War dan Ilir-Ilir sehingga menghadirkan nuansa museum yang lebih hidup dan akrab bagi pengunjung.


Dalam sambutan Kepala Dinas Kundha Kabudayan Bantul yang diwakili Sekretaris Dinas, Sarjiman, S.I.P., M.E., pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Museum dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan sejarah dan budaya daerah. Pemerintah berharap forum semacam ini mampu memperkuat ekosistem permuseuman sekaligus melahirkan inovasi baru bagi pengembangan museum di Yogyakarta.


Ketua FKMB, Gatot Nugroho, S.Pd., menegaskan museum saat ini harus mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang aktif dan edukatif. Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan dengan museum sejak dini karena museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar, dialog, dan pembentukan identitas budaya masyarakat. FKMB bersama BARAHMUS DIY juga mulai mendorong lahirnya regulasi daerah berupa Perda Museum DIY guna memperkuat posisi museum dalam pembangunan kebudayaan.


Pandangan serupa disampaikan Penasehat FKMB dan BARAHMUS DIY, Drs. Budiharja, M.M., yang menilai museum perlu dikelola secara kreatif dan inovatif agar mampu menjangkau publik lebih luas. Sementara Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Bantul, Purwanto, S.Pd., M.Si., menyebut museum memiliki peluang besar menjadi pusat interaksi budaya masyarakat, mulai dari ruang belajar sejarah hingga tempat berdiskusi dan membangun kesadaran budaya bersama.


Gagasan lain muncul dari Pengelola Museum dan Galeri Keris Sanggar Keris Mataram Yogyakarta, Ki Arya Pandhu, yang mengusulkan agar museum dilibatkan dalam Kurikulum Pendidikan Khas Ke-Jogja-an (PKK). Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM museum melalui sertifikasi profesi bagi tenaga museum.

Peringatan Hari Museum Internasional 2026 di Bantul pun memperlihatkan bahwa museum kini terus bergerak menuju wajah baru sebagai ruang publik yang inklusif, kreatif, dan relevan dalam menjaga sejarah serta membangun kesadaran budaya masyarakat. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar