TERAS

Komunitas Seni Tali Tasbih Gelar "Harmonisasi Sholawat Asghil"

  • Administrator
  • Senin, 21 Oktober 2024
  • menit membaca
  • 113x baca
Komunitas Seni Tali Tasbih Gelar

Komunitas Seni Tali Tasbih Gelar "Harmonisasi Shalawat Asghil" 

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com – Di tengah era digital dan hiruk-pikuk politik, menemukan jati diri menjadi tantangan tersendiri. Bagi masyarakat Yogyakarta, kembali ke akar budaya menjadi salah satu cara untuk meresapi nilai-nilai kearifan lokal yang tertanam dalam sejarah. Seni tradisional, sebagai salah satu aspek kebudayaan yang dominan di Yogyakarta, kerap menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai budaya dan agama. Namun, ruang publik yang memungkinkan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai tersebut semakin terbatas. Merespons hal tersebut, Komunitas Seni "Tali Tasbih Indonesia" meluncurkan program musikal bertajuk Harmonisasi Shalawat Asghil. Acara ini diselenggarakan pada Minggu, 20 Oktober 2024, pukul 19.30 WIB, di Cagar Budaya Tamansari, Jl. S. Parman No. 34A, Yogyakarta. Program ini bertujuan menciptakan ruang kreatif bagi para seniman, khususnya di Yogyakarta, untuk mengeksplorasi seni yang bernuansa keagamaan Islam dalam bentuk tradisional maupun modern.

​​​​​​Resita Alisyahbana dan Dewo PLO, pendiri Tali Tasbih, menyatakan bahwa hubungan antara seni dan budaya membutuhkan proses kreatif yang selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga harus aktif dalam kehidupan sosial dan budaya, serta meningkatkan harkat manusia," ujar Dewo. Ia menambahkan bahwa kesenian harus menjadi sarana kebersamaan yang menguatkan identitas budaya dan spiritual. Harmonisasi Shalawat Asghil akan memadukan instrumen musik rock metal sebagai media ekspresi.

Kubroglow, salah satu kreator hiburan dari Tali Tasbih, menjelaskan bahwa proyek ini terinspirasi oleh Salman Ahmed, musisi internasional yang memadukan musik modern dengan tradisi sufistik. "Kami berharap kolaborasi ini menjadi bagian dari dinamika seni masa kini dan masa depan Yogyakarta," ungkap Kubroglow. Dengan perpaduan elemen modern dan tradisi, acara ini diharapkan dapat menghidupkan kembali seni shalawat sekaligus menjadi titik temu antara nilai-nilai agama, budaya, dan kreativitas kontemporer. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar