Bintaos, Pasar Dini Hari di Pojok Gunungkidul
Gunungkidul, jogja-ngangkring.com - Pada area seluas sekitar 100 meter persegi, sepuluh orang perempuan paruh baya tampak duduk dengan timbangan digital besar di hadapan masing-masing. Beberapa saat kemudian, datang sebuah minibus penuh penumpang perempuan paruh baya hingga nenek-nenek. Mereka turun dari minibus dengan beragam barang bawaan seperti jagung pipil, kacang tanah, serta hasil bumi panen lainnya.
"Iki 13 kg. Duite 65.000 ewu," ucap seorang bakul perempuan usai menimbang kacang tanah berkulit dengan bahasa Jawa Ngoko serta logat setempat.
"Tambahi tho." Si perempuan penjual menawar bayaran kacang tanah.
"Iki kacangmu ijik teles. Tur iki isine yo kurang mentes. Yo wes tak tambahi," ucap si bakul pengepul sembari memberi tambahan uang 2000.
Itulah potret sepenggal cerita kehidupan di Pasar Bintaos Kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul, sebuah pasar dini hari yang berada di pojok selatan wilayah Gunungkidul. Kegiatan jual beli dimulai tepat tengah malam dan berakhir setelah adzan subuh berkumandang.
Para mbok bakul dengan perlengkapan timbangan digital itu bertindak sebagai pengepul hasil bumi dari pekarangan para penjual. Ada kacang tanah, jagung pipil, ubi-ubian lainnya, sayur, pete, ketela pohon serta hasil bumi lainnya terutama yang sedang musim. Baik penjual maupun pembeli yang terlibat transaksi hasil bumi di Pasar Bintaos kebanyakan adalah perempuan paruh baya hingga lanjut usia.
Salah satu pengepul hasil bumi Pasar Bintaos, Ny. Praptiningsih, menceritakan bahwa pekerjaannya sebagai pengepul hasil bumi sudah dilakukan sejak masih kecil. Ia mewarisi kegiatan itu dari orang tuanya yang juga menjadi pengepul kacang tanah, jagung, ketela pohon, gadung, labu dan hasil bumi lainnya yang sedang panen.
"Ini pas musim panen kacang tanah sama jagung. Kita ngepul hasil dari warga Tepus ini. Kadang juga di luar Tepus, seperti Rongkop, Indrayanti, dan Bintaos sini. Kalau musim ketela transaksi ya didominasi ketela, musim kedelai ya kedelai."
Pasar Bintaos berlangsung setiap tiap Pahing. Pasar itu adalah tempat bertemu nya warga Tepus dan sekitarnya dalam melakukan kegiatan ekonomi. Mereka yang dari rumah membawa hasil bumi pekarangannya dijual dijadikan uang. Kemudian dibelanjakan kebutuhan harian lainnya di bawa pulang. "Kok wes bali," celetuk seorang perempuan mengomentari seseorang yang tengah menaiki angkutan. "Wis rampung. Jagunghe payu. Duithe nggo tuku dele Sik nggo gawe tempe," jawab yang ditanya. Semoga pasar tradisional yang telah berlangsung selama puluhan ini terjaga kelestariannya. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar