TERAS

Shandhong Quanxi Biotecnology - FK UAD Jajaki Kerja Sama Penelitian & Pengembangan Terapi Stem Cell

  • Administrator
  • Rabu, 18 September 2024
  • menit membaca
  • 200x baca
Shandhong Quanxi Biotecnology - FK UAD Jajaki Kerja Sama Penelitian & Pengembangan Terapi Stem Cell

Shandong Quanxi Biotech  -  FK UAD Jajaki Kerja Sama Penelitian  & Pengembangan Terapi Stem Cell

Yogyakarta, jogja–ngangkring.com -  Shandong Quanxi Biotech, perusahaan bioteknologi asal China, menjajaki peluang kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam bidang terapi stem cell. Kerja sama ini diproyeksikan menjadi langkah strategis dalam pengembangan teknologi kesehatan modern di Indonesia, khususnya di bawah naungan jaringan perguruan tinggi dan rumah sakit Muhammadiyah.

"Shandong Quanxi Biothech memilih FK UAD sebagai mitra strategis berkat representasi Muhammadiyah yang memiliki jaringan luas di bidang kedokteran," demikian disampaikan Arofiq selaku Media Relation dari Shandong Quanxi Biothech di sela acara Partnership Initiation For Research and development on stem cell between Faculty of Medicine University Ahmad Dahlan and Shandong Quanxi Biothech di Kampus FK UAD Jalan UAD Kampus 4 Kragilan Tamanan, Banguntapan Bantul, Rabu (18/9/24).

Hadir dalam kesempatan tersebut You Qinyan (CEO Quanxi) dan tim.      Sementara dari pihak UAD hadir Prof Sunardi selaku Wakil Rektor Bidang Akademik,  Prof. dr. Rusdi Lamsudin selaku Dekan FK, dr.M.Juanidy Heriyanto selaku Wakil Dekan Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan,   Akademi dan Kemahasiswaan, serta anggota tim lainnya. 

​​​​​Lebih lanjut Arofik menjelaskan bahwa saat ini Muhammadiyah mengelola 17 fakultas kedokteran di berbagai universitas di seluruh Indonesia, serta mengoperasikan lebih dari 105 rumah sakit umum (RSU). Potensi besar ini membuka jalan bagi pengembangan riset dan pengumpulan data medis skala besar, yang sangat diperlukan untuk penelitian terapi stem cell.

Stem cell adalah teknologi regeneratif yang memiliki potensi besar untuk mengatasi berbagai penyakit degeneratif, seperti osteoarthritis pada lansia. Saat ini, banyak orang lanjut usia yang mengalami masalah pada lutut akibat berkurangnya produksi pelumas alami. Terapi stem cell diharapkan mampu membantu tubuh memproduksi pelumas secara alami dan memperbaiki jaringan yang rusak, sehingga pasien tidak hanya merasakan efek sementara, tetapi juga memiliki solusi jangka panjang. Saat ini biaya terapi stem cell dapat mencapai antara Rp 50 juta hingga Rp 200 juta per sesi, tergantung jumlah sel yang ditransfer.

​​​​​Melalui kerja sama ini, Shandong Quanxi dan UAD berencana menekan harga produksi terapi stem cell, dengan target menurunkan biaya hingga 50% dari harga pasar. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan efisiensi proses produksi dan memperluas distribusi melalui jaringan rumah sakit Muhammadiyah. Diharapkan dengan penurunan harga, terapi ini dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat, tidak hanya terbatas pada kalangan kelas atas.

"Salah satu misi utama dari kerja sama ini adalah membuat terapi stem cell menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah. Stem cell telah dikenal sebagai terapi yang sangat efektif untuk berbagai penyakit degeneratif, namun biaya tinggi sering kali menjadi kendala bagi banyak pasien," papar Arofiq lebih lanjut.

Kerja sama dengan UAD juga dipandang sebagai pintu pembuka untuk kolaborasi lebih luas di masa mendatang, tidak hanya di bidang penelitian stem cell tetapi juga di sektor kesehatan secara umum.

Dengan hadirnya teknologi yang lebih terjangkau dan akses yang lebih luas, kerja sama ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar