TERAS

Peningkatan PAD Kota Yogyakarta Melalui Ekspor Produk UMKM

  • Administrator
  • Rabu, 17 Juli 2024
  • menit membaca
  • 132x baca
Peningkatan PAD Kota Yogyakarta Melalui Ekspor Produk UMKM

Opini:
Peningkatan PAD Kota Yogyakarta melalui Ekspor Produk UMKM

Penulis: Arya Ariyanto SE MMPar (Penggiat Pariwisata & UMKM Yogyakarta/Dosen Pariwisata Universitas BSI & Akademi Pariwisata API Yogyakarta) 

Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pariwisata di Indonesia, memiliki potensi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui peningkatan ekspor produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Potensi ini dapat dimaksimalkan melalui beberapa strategi yang bertujuan untuk memperkuat daya saing produk UMKM di pasar internasional. 


Salah satu persyaratan eksport  adalah harus memenuhi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk, karena itu peningkatan kualitas produk UMKM adalah langkah pertama yang krusial. Produk yang berkualitas tinggi akan lebih mudah bersaing di pasar internasional. Pemerintah Daerah Kota (Pemkot) dapat bekerja sama dengan institusi pendidikan dan ahli industri untuk menyelenggarakan program pelatihan yang mencakup standar kualitas internasional, teknik produksi yang efisien, dan manajemen mutu. Pelatihan ini juga bisa mencakup aspek estetika produk seperti desain dan pengemasan yang menarik. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi UMKM untuk mendapatkan sertifikasi yang diakui secara internasional, seperti ISO atau HACCP, agar produk mereka lebih dipercaya oleh pasar global.


Setelah ada peningkatan kualitas produk, teknologi dan digitalisasi sangat berperan penting dalam mendukung UMKM untuk menembus pasar ekspor. Pelaku UMKM perlu diberikan akses dan pelatihan mengenai e-commerce dan pemasaran digital. Caranya dapat dilakuan dengan menyelenggarakan workshop dan seminar yang mengajarkan keterampilan e-commerce, seperti pembuatan dan pengelolaan toko online, penggunaan media sosial untuk pemasaran, SEO, dan strategi pemasaran digital lainnya. Pemkot  juga bisa membangun atau memperkuat platform digital lokal yang dapat menjadi marketplace bagi produk UMKM Yogyakarta. Platform ini dapat menghubungkan UMKM dengan konsumen global, menyediakan fitur pembayaran internasional, dan mendukung pengiriman produk ke luar negeri.


Hal lain yang perlu disiapkan adalah akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau bagi UMKM.  Pemkot dapat menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan untuk menyediakan program pembiayaan yang khusus ditujukan bagi UMKM dengan bunga rendah atau tanpa bunga, serta proses yang mudah dan cepat. Ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan bank, koperasi, dan lembaga keuangan mikro. Selain itu, perlu adanya fasilitasi akses ke modal ventura dan investor yang tertarik pada potensi UMKM lokal. Menyelenggarakan forum investasi dan pameran bisnis yang menghubungkan UMKM dengan investor dan modal ventura bisa menjadi salah satu solusinya. Pemkot dapat bertindak sebagai mediator untuk mempertemukan kedua belah pihak.


Produk-produk unggulan UMKM Yogyakarta juga perlu diikutsertakan dalam berbagai pameran internasional dan program-program promosi di luar negeri. Dalam hal ini Pemkot dapat memberikan subsidi atau bantuan logistik untuk UMKM yang ingin berpartisipasi dalam pameran dagang internasional. Ini termasuk bantuan biaya stand, transportasi, dan akomodasi. Selain itu, menyelenggarakan event promosi di kedutaan besar, konsulat, atau pusat kebudayaan Indonesia di luar negeri juga bisa menjadi langkah strategis. Event ini bisa melibatkan demo produk, tasting, atau showcase budaya yang mempromosikan produk-produk lokal.
Keberadaan diaspora Indonesia di luar negeri dan komunitas internasional yang ada di Yogyakarta juga bisa menjadi jembatan bagi UMKM untuk menembus pasar ekspor. Diaspora ini dapat membantu memperkenalkan dan memasarkan produk di negara tempat mereka tinggal. Di sisi lain mengadakan event bersama komunitas internasional di Yogyakarta, seperti bazar atau festival budaya  juga merupakan strategi yang efektif untuk mempromosikan produk UMKM kepada mereka.


Strategi terakhir yang sangat penting adalah adanya regulasi dan kebijakan dari Pemkot yang mendukung ekspor produk UMKM. Ini termasuk penyederhanaan proses perizinan ekspor dengan menerapkan sistem perizinan yang mudah, cepat, dan transparan. Pengurangan biaya perizinan dan waktu pengurusan yang lebih singkat akan sangat membantu UMKM. Selain itu, memberikan insentif bagi UMKM yang berhasil mengekspor produknya, seperti potongan pajak, subsidi biaya logistik, atau penghargaan khusus, akan menjadi dorongan tambahan.

Dukungan logistik juga perlu ditingkatkan dengan pembangunan gudang berstandar internasional dan peningkatan fasilitas pelabuhan. Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan perusahaan logistik untuk memberikan tarif khusus bagi UMKM.


Dengan strategi-strategi yang terarah dan kolaboratif ini, diharapkan UMKM di Yogyakarta menjadi lebih kompetitif dan mampu menembus pasar internasional, menjadikan produk lokal sebagai kebanggaan global. Langkah-langkah ini tidak hanya akan memperkuat posisi produk lokal di kancah internasional tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan PAD, dan akhirnya membawa kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat Yogyakarta. ***

 

***

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar