YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com - Di sudut-sudut Yogyakarta, di tengah keramaian kota dan bayang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, ada sekelompok masyarakat yang sering terlupakan. Mereka adalah kaum marginal, yang menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan dan tantangan yang melekat padanya. Bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Yogyakarta, meski kadang terabaikan dalam diskusi tentang pemerintahan dan kebijakan.
Pasar Beringharjo, yang terletak dekat dengan Malioboro, telah mengalami perubahan besar selama bertahun-tahun. Pasar ini adalah jantung ekonomi dan budaya Yogyakarta, tetapi seiring berjalannya waktu, pasar ini juga mengalami tantangan besar.
Bu Isah, seorang wanita berusia 49 tahun, adalah salah satu dari mereka yang mengais rejeki di kawasan Pasar Beringharjo dan sekitarnya. Dia adalah ketua dari satu diantara beberapa paguyuban buruh gendong Pasar Beringharjo. Paguyuban yang diketuai Bu Isah beranggotakan 210 orang, sebagian besar berasal dari Kulonprogro. Setiap pukul tujuh pagi Bu Isah dan teman-temannya berangkat dari Sentolo, sekitar 40 km dari Pasar Beringharjo. Dengan menggunakan bus yang sama, pada pukul empat sore mereka akan kembali ke rumah.
Dulu, Bu Isah dan rekan-rekannya bisa membawa barang 4-5 kali dalam sehari dengan bayaran bervariasi tergantung pada berat barang dan jarak pengantaran. Namun, situasinya telah berubah. Penataan Pasar Beringarjo dan Malioboro membuat pengunjung bertambah namun pembeli yang membutuhkan jasa gendong justru berkurang.
Bu Isah, "Sekarang tidak setiap hari bisa mengangkat barang. Tapi ya bagaimana lagi, hanya hal ini yang bisa kami lakukan karena tidak punya sawah. Semoga Pasar Beringharjo rejo (ramai) lagi, agar buruh gendong seperti saya bisa ikut mendapat rejeki," kata Bu Isah mengakhiri perbincangan. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar