YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com - Sebagaimana andong dan bus, hingga tiga dekade lalu becak adalah moda transportasi umum pilihan warga Jogja. Giarto, ayah dari tiga anak dan kakek dari dua cucu, sejak tahun 1984 mengabdikan hidupnya sebagai tukang becak Dengan kegiatan sama berpuluh tahun, ia yang setiap hari mangkal di kawasan Pasar Beringharjo menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di sana. Selain di Beringharjo, wilayah operasional Giarto juga di bekas shopping center yang kini dikenal sebagai Taman Pintar dan Taman Budaya.
Setiap jam 08.00 WIB dia berangkat dari tempat tinggalnya di Balong, Gabusan, Sewon, Bantul, dan akan kembali pulang jam 16.00 WIB.
Bagi Giarto, Beringharjo tak hanya sekadar pasar atau tempat jual-beli. Baginya, pasar ini mencerminkan kehidupan sosial sebagian warga Jogja. Giarto bahkan menyebut sebagai rumah kedua, tempat di mana hubungan antara pedagang, pelanggan, dan semua yang rutin terlibat di sana melampaui transaksi, membentuk ikatan keluarga.
Dalam perjalanan panjangnya sebagai tukang becak, Giarto menyaksikan banyak momen berharga, termasuk ketika ia melihat Sultan HB IX mengunjungi Beringharjo. "Saya pernah melihat Ngarso Dalem di Beringharjo," ucapnya.
Saat itu Sultan tampil sebagaimana warga biasa dan tanpa pengawalan mencolok. Namun penyamarannya terungkap. Mereka yang saat itu berada di lokasi kemudian melakukan penghormatan, duduk bersimpuh sembari berterimakasih. “Matur nuwun sampun dirawuhi”.
Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam pada Giarto, menunjukkan kedekatan Sultan dengan rakyat kecil. “Begitulah seharusnya seorang pemimpin, Sosok yang merakyat”, Giarto mengakhiri perbincangan. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar