Wonosobo, jogja-ngangkring.com - Masjid Al Manshur di Wonosobo, Jawa Tengah, menempati posisi sentral di Jalan Pemuda, Kelurahan Kauman Utara, Kecamatan Wonosobo Timur. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 7800 m², dengan bangunan mencakup kira-kira 576 m². Daya tampung masjid ini sekitar 800 jamaah di dalamnya. Masjid ini adalah yang tertua di Wonosobo dan menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Pada tahun 1825, terletak di sebelah barat alun-alun berdiri sebuah langgar (musholla kecil). Karena dianggap tidak sesuai dengan perencanaan tata ruang kota, bangunan langgar ini dipindahkan sekitar 300 m ke arah utara dari lokasi aslinya dan akhirnya menjadi Masjid Al Manshur Wonosobo. Pada tahun 1842, Bupati Wonosobo, Raden Mangoen Koesoemo menunjuk KH Manshur sebagai penghulu kabupatendan diamanahi menjadi imam serta pengelola bangunan langgar (mushola) yang merupakan awal dari Masjid Besar Wonosobo.
Tahun 1847, KH Manshur memutuskan untuk mewakafkan tanah seluas ± 7800 m² di Kampung Kauman, sekitar 500 meter dari alun-alun yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo. Wakaf ini dilakukan untuk memindahkan bangunan langgar menjadi sebuah masjid yang lebih besar. Proses pembangunan Masjid Besar Wonosobo dimulai pada tahun tersebut dan selesai sepenuhnya pada tahun 1856.
Pada tahun 1924, Masjid Besar Wonosobo mengalami perbaikan setelah gempa besar merusak atapnya yang terbuat dari ijuk. Perbaikan tersebut melibatkan penggantian atap masjid dengan genteng. Pada tahun 1972, takmir masjid di bawah kepemimpinan H.Moch Sjoekoer, cucu dari KH Manshur, mengubah nama masjid dari Masjid Besar Wonosobo menjadi Masjid Al Manshur Wonosobo. Ini dilakukan untuk menghormati sejarah dan mengabadikan jasa wakif, KH Manshur. Takmir tersebut juga mendirikan Yayasan Masjid Al Manshur (YASMA) untuk mengelola masjid.
Selain perubahan nama dan pendirian yayasan, tahun 1972 juga menjadi waktu untuk renovasi masjid. Atap genteng diganti dengan atap seng, dan bagian serambi masjid diubah menyerupai arsitektur bangunan Spanyol. Pada tahun 2018, Masjid Al Manshur direnovasi lagi, desain serambi dipulihkan ke bentuk awal seperti sebelum renovasi tahun 1972, nya. Di samping itu, juga ada penambahan serambi untuk menampung lebih banyak jamaah.
Adapun kegiatan harian yang dijalankan di Masjid Al Manshur meliputi sholat fardhu lima waktu secara berjamaah, pengajian ba'da sholat subuh, pengumpulan serta penyaluran infaq dan sedekah, dan pendidikan diniyah.
Secara mingguan, kegiatan meliputi sholat Jum'at, pengajian Jum'at pagi untuk para bapak dan ibu-ibu sekitar Wonosobo yang diikuti oleh ratusan jamaah, pengajian Seton yang dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah, serta pengajian Ahad pagi untuk para ibu-ibu sekitar Wonosobo. Kegiatan bulanan mencakup pengajian Rabu Pon untuk selapanan jamaah haji dan pengajian Ahad Pon untuk selapanan alumni Pondok Pesantren Al Manshur.
Pada Sabtu, 15 Juli 1961, dimulailah pengajian Seton yang diselenggarakan secara rutin setiap minggu sekali pada hari Sabtu. Awalnya, kegiatan pengajian Seton ini dicanangkan oleh KH Muntaha, H Moch Sjoekoer, KH Masjkur, dan Kyai Idris. Pengajian Seton tidak hanya diikuti oleh masyarakat lokal Wonosobo, tetapi juga dari daerah-daerah lain di sekitarnya. Bahkan, jumlah jamaah yang menghadiri pengajian ini setiap minggunya mencapai ribuan orang dan terus bertambah hingga kini. Semua kegiatan ini menjadi jadwal rutin yang dijalankan oleh Masjid Al Manshur sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan pendidikan bagi masyarakat Wonosobo dan sekitarnya. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar