Gunung Kidul, jogja-ngangkring.com - Hutan Wanagama, yang dikenal sebagai rumah bagi lebah hutan apis cerana, saat ini tengah mengalami paceklik madu yang berlangsung sejak akhir 2021 hingga awal 2024 ini. Faktor utama penyebabnya adalah kondisi cuaca yang tidak bersahabat bagi lebah. Lebah apis cerana membutuhkan cuaca kering dan panas untuk memproduksi madu secara optimal. Namun, sejak akhir 2021 hingga awal 2023, frekuensi curah hujan tinggi dan panas matahari yang jarang terjadi telah menyebabkan rendahnya produksi nectar dan pollen, bahan utama pembentuk madu. Ini mengakibatkan produksi madu menjadi sangat terbatas, bahkan tidak mencukupi kebutuhan konsumsi lebah sendiri.
Pada trimester kedua hingga akhir 2023, kemarau panjang melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk Wanagama. Koloni lebah mengalami serangan penyakit Sacbrood virus (SBV), yang menyebabkan kematian massal. Situasi ini jauh dari kondisi normal, di mana bulan September hingga Oktober biasanya menjadi waktu panen raya madu.
Purwanto (67), peternak lebah di Desa Banaran, Playen, Gunung Kidul, DIY, menyampaikan kekhawatirannya, "Lebih dari 700 kotak lebah jenis Cerana milik peternak mati akibat diserang penyakit Sacbrood virus (SBV)." Penyakit ini menyerang larva lebah dan pekerjanya, menyebabkan kematian massal.” Lebih lanjut dijelaskannya bahwa SBV adalah virus serupa dengan disentri, menyerang larva lebah dan pekerjanya. Meskipun obatnya pernah ditemukan oleh peneliti Jepang pada tahun 1989, namun, saat ini, obat tersebut hanya tersedia di Jepang.
Pemandangan menyedihkan terlihat di Hutan Wanagama, dengan ratusan kotak lebah yang kosong tanpa koloni. Pohon-pohon penghasil nectar lebah cerana terlihat meranggas kering tanpa daun, menciptakan pemandangan gersang. Lebah cerana yang terinfeksi SBV menghasilkan madu yang tidak boleh diambil, karena dapat menyebabkan kematian lebah.
Paceklik madu ini juga menyebabkan lebah cerana hijrah meninggalkan kotak mereka, mencari kebutuhan makanan yang kurang terpenuhi. Fenomena ini, bersamaan dengan rendahnya produksi nectar dan pollen, memicu migrasi ratusan koloni lebah dari Hutan Wanagama.
Meskipun warga telah mencoba memasang jebakan untuk menangkap koloni lebah yang bermigrasi, tak satupun yang berhasil tertangkap. Fenomena paceklik madu ini menjadi suatu kejadian yang belum pernah dialami dalam puluhan tahun oleh petani madu seperti Purwanto. Sementara lebah cerana berjuang untuk bertahan hidup, para peternak dan peneliti mencari solusi untuk mengatasi krisis madu dan melindungi keberlanjutan koloni lebah. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar