Kenang Presiden Malioboro Seniman Gagas Museum Umbu
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Malioboro kembali menjadi saksi perhelatan budaya dengan diselenggarakannya acara "Ngobrol SUMBU dan UMBU" untuk mengenang sosok legendaris, Umbu Landu Paranggi, yang dijuluki sebagai Presiden Malioboro. Acara ini diinisiasi oleh Koperasi Seniman dan Budayawan Yogyakarta bersama Rumah Sastra Evi Idawati, Baleseni Condroradono, dan Institut Kahade, dan berlangsung di ruang audio visual Jogja Library, Jalan Malioboro, pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.
Acara ini bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga sebuah pengakuan atas peran penting Malioboro sebagai sumbu filosofis yang telah diakui oleh UNESCO. Dalam suasana yang hangat, para tokoh budaya dan seniman akan berkumpul untuk mengenang Umbu Landu Paranggi, seorang penyair yang meninggalkan jejak mendalam dalam dunia seni dan budaya di Yogyakarta.
Beberapa tokoh yang hadir dalam acara ini antara lain Ekan Ardana, Rommy Heryanto dari Yogya Semesta, Evi Idawati, Priyo Salim, serta Yuda Wirajaya. Acara ini dipandu oleh Sarwanto H Swarso yang akan mengarahkan diskusi tentang kontribusi dan warisan Umbu dalam dunia seni.
Eka Ardana bercerita bahwa dulu, orang-orang berkarya dalam diam. Suasana yang begitu hening, penuh dengan inspirasi. Malioboro, dengan segala keheningannya, menjadi legenda tersendiri. Kini, suasana berbeda. Riuh dan ramai, meskipun banyak yang mabuk, mereka tak mengganggu pengunjung lain, bahkan kadang berkumpul bersama. Ada syik tersendiri, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan di masa kini.
Eka juga berpesan kepada Evi Idawati, semoga 'anak-anaknya' dapat menulis di tengah riuh ini. Apalagi sekarang, dengan kemajuan teknologi, semuanya bisa dilakukan di mana saja. Umbu adalah provokator dalam konteks positif—membangkitkan semangat dan kreativitas di antara para seniman.
Namun, akan sulit mengulang masa-masa kejayaan Malioboro sebagai kawah candradimuka bagi seniman Yogyakarta. Sebagai seorang penyair, Umbu memang layak dibanggakan. Jejaknya dalam dunia seni, khususnya di Yogyakarta, luar biasa dan tak tergantikan.
Selain itu,menurut Eka, upaya untuk mendirikan museum Umbu bukanlah perkara mudah. Ini adalah tantangan bagi kita semua, karena banyak yang mungkin tidak mengenal sosok Umbu. Tetapi di sinilah tugas kita—untuk mengenalkan dan mengabadikan jejaknya."
Sementara itu Rommy Heryanto menekankan pentingnya adaptasi dan kolaborasi dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Malioboro. Priyo Salim juga menyoroti tantangan perkembangan ekonomi yang pesat, yang dapat menghambat pertumbuhan budaya jika tidak diimbangi dengan ruang yang cukup untuk ekspresi seni. Evi Idawati menyampaikan bahwa upayanya menggiring anak-anak agar berkesenian, berpuisi, dan mengenalkan Malioboro yang perna menjadi sumbu berkesenian di Jogja berawal dari ayat pertama Al Quran yang dari diturunkan, Iqra.
Acara ini ditutup dengan pembacaan puisi karya Umbu Landu Paranggi "Ronggeng Sumba" oleh Anastasia, memperingati kontribusi besar sang penyair terhadap dunia seni Yogyakarta.
"Dengan acara ini, diharapkan jejak Umbu Landu Paranggi tetap abadi di hati para seniman dan budayawan, serta menginspirasi generasi mendatang untuk terus berkarya di tengah arus perubahan zaman," kata Sigit Sugito selaku panitia. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar