Nyadran 2025 di Masjid Attaqwa Wonokromo
Bantul, jogja-ngangkring.com – Nyadran, sebuah tradisi tahunan yang dinantikan oleh banyak orang, kembali digelar di Masjid Attaqwa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul. Acara ini menjadi momen refleksi, penghormatan kepada leluhur, serta kesempatan mempererat silaturahmi antarwarga.
Kyai Abdul Haris Hamid, salah satu tokoh yang hadir dalam acara ini, mengungkapkan betapa nyadran memiliki makna mendalam baginya. "Tahun lalu, saya masih bisa menyimak bacaan Al-Qur'an dari almarhum Kyai Syafiq dan almarhum Kyai Fauzan. Dulu keduanya mengirim doa, kini keduanya telah berpulang dan kita mengirim doa untuk mereka. Belum tentu aku tahun depan masih bisa duduk di tempat ini, bisa jadi sudah meninggal. Dan inilah yang membuat mengapa nyadran ini di hatiku selalu istimewa selain momen untuk berbakti pada kedua orang tuaku pada leluhur juga momen persiapan besok balik," ujarnya penuh haru.
Tradisi nyadran ini diisi dengan berbagai kegiatan religius, seperti sema’an Al-Qur’an yang digelar pada 5 Februari 2025, serta tahlil pada 6 Februari 2025. Acara ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang, tetapi juga pengingat bagi yang masih hidup untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, Masjid Pathok Negoro Wonokromo tetap berdiri megah, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Yogyakarta. Masjid yang terletak di Kecamatan Pleret, Bantul ini merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negoro yang didirikan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Dulunya, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat dakwah dan pertahanan spiritual Keraton Yogyakarta. Keberadaannya menandai batas wilayah kekuasaan keraton serta memperkuat penyebaran Islam di wilayah selatan.
Masjid Pathok Negoro Wonokromo memiliki arsitektur khas Jawa dengan atap tumpang tiga yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Tiang-tiang kayunya yang kokoh serta ukiran khas Yogyakarta memberikan nuansa klasik yang tetap terjaga hingga kini.
Selain nilai sejarahnya, masjid ini juga dikenal karena tradisi keagamaannya yang terus dipertahankan. Setiap malam Jumat, masyarakat menggelar pengajian dan doa bersama, meneruskan warisan leluhur dalam menjaga ukhuwah Islamiyah. Pada bulan Maulid, masjid ini menjadi pusat perayaan Sekaten, yang menarik perhatian banyak peziarah.
Di sekitar masjid, masih terdapat makam para ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Yogyakarta, menjadikannya sebagai destinasi wisata religi yang kaya akan sejarah dan spiritualitas.
Hingga kini, Masjid Pathok Negoro Wonokromo tetap menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan sejarah dan nilai-nilai keislaman. Bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan spiritual dan napak tilas sejarah Islam di Yogyakarta, masjid ini adalah tempat yang tak boleh dilewatkan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar