Dialog Kebinekaan Nasional KOSETA DIY

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - KOSETA DIY menginisiasi pelaksanaan “SALAMAN ISTIMEWA: Roundtable Rumah Kebhinekaan Indonesia 2026” dengan tema Merajut Keberagaman, Memperkokoh Persatuan. Forum ini mendorong penguatan ruang dialog kebhinekaan sebagai langkah strategis menghadapi meningkatnya intoleransi dan polarisasi sosial di Indonesia. Program tersebut menyasar berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, tokoh agama, komunitas budaya, hingga masyarakat umum.
Ketua KOSETA DIY, Sigit Sugito, menilai keberagaman yang dimiliki bangsa merupakan kekuatan utama, namun berpotensi memicu perpecahan jika interaksi lintas identitas tidak dikelola secara aktif dan berkelanjutan.
Melalui inisiatif Rumah Kebhinekaan, KOSETA DIY menghadirkan ruang dialog yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga operasional—menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok dalam suasana terbuka dan dialogis. Program ini dijalankan dengan menggandeng Indonesia Rumah Kebhinekaan serta didukung oleh RRI dan TVRI Nasional untuk memperluas jangkauan edukasi kebudayaan melalui media publik.
Sigit juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memahami keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan potensi konflik. Edukasi budaya dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif tersebut.
KOSETA DIY juga berkomitmen menyelenggarakan diskusi lintas iman dan etnis secara rutin agar masyarakat terbiasa menyelesaikan perbedaan melalui dialog, bukan konflik. Program ini dirancang sebagai forum bulanan yang mendorong kolaborasi nyata antar komunitas, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Selain itu, peran media publik seperti RRI dan TVRI dinilai krusial dalam menyebarluaskan narasi kebhinekaan ke tingkat nasional. Melalui siaran dialog interaktif, berbagai perspektif dari tokoh agama dan pemuda diharapkan dapat memperkaya pemahaman masyarakat tentang pentingnya hidup dalam keberagaman.
Dengan pendekatan kolaboratif, KOSETA DIY mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam merawat harmoni sosial. Program Rumah Kebhinekaan diharapkan mampu menjadi model gerakan inklusif yang berkelanjutan dalam memperkuat persatuan bangsa.
Sigit Sugito menegaskan bahwa menjaga persatuan bukan sekadar wacana, melainkan kerja kolektif yang harus diwujudkan melalui dialog, edukasi, dan kolaborasi nyata di tengah kehidupan masyarakat. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar