Dinas Pariwisata DIY dan Komunitas Nusantara Siap Semarakkan MORSA 2026
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Yogyakarta kembali menjadi ruang perjumpaan beragam ekspresi seni budaya Nusantara melalui gelaran MORSA (Musik orkestra dan sastra) 2026. Perhelatan yang akan berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026 di Purawisata Amphitheater ini memperoleh sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, pelaku budaya, hingga berbagai komunitas.
Antusiasme tersebut tercermin dalam keterlibatan sejumlah pihak sejak tahap persiapan.
Rina Puspa dari Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY menyatakan komitmennya untuk membantu sosialisasi dan promosi MORSA agar menjangkau publik yang lebih luas. Upaya promosi tidak hanya menyasar penikmat seni yang selama ini sudah akrab dengan dunia pertunjukan, tetapi juga generasi muda yang belum banyak bersentuhan dengan kegiatan kebudayaan. Berbagai konten kreatif akan disiapkan untuk mendekatkan MORSA kepada kalangan Gen Z dan masyarakat umum.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui sejumlah program partisipatif yang dirancang panitia. Salah satunya lomba esai yang mewajibkan peserta menyaksikan pertunjukan terlebih dahulu sebelum menuliskan ulasannya. Selain itu, akan digelar lomba pembuatan konten kreatif berbasis dua buku kumpulan puisi karya H. Joko Pranoto, yakni “Yang Kutitipkan kepada Langit” dan “Negeri Retak”, yang akan diluncurkan bersamaan dengan penyelenggaraan MORSA.
MORSA dipastikan menghadirkan panggung yang kaya warna. Sedikitnya 22 penampil dari berbagai daerah akan terlibat dalam satu perhelatan kolaboratif. Publik akan disuguhi pertunjukan musik tradisional, pembacaan puisi, teater, monolog, selawat reggae, penampilan seniman tunanetra, hingga orkestra yang melibatkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Suasana acara juga akan diperkaya dengan pameran budaya yang menampilkan beragam kekayaan tradisi Nusantara.
Dimensi kebangsaan menjadi salah satu kekuatan utama MORSA. Keluarga besar Sulawesi, Minang, dan Batak telah menyatakan partisipasinya dalam agenda tersebut. Dari unsur masyarakat Batak, kelompok musik Gondang Beta Hita dijadwalkan tampil dengan sajian musikal khas Sumatera Utara yang akan melengkapi keragaman ekspresi budaya di atas panggung.
Partisipasi lintas daerah tersebut memperlihatkan bahwa MORSA tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, melainkan juga arena perjumpaan sosial dan budaya. Interaksi antar seniman, komunitas, serta masyarakat dari beragam latar belakang menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi, memperkuat jejaring kebudayaan sekaligus meneguhkan nilai persaudaraan dalam bingkai kebhinekaan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar