Tantangan Mendesak UMKM Yogyakarta untuk Naik Kelas
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Yogyakarta memiliki potensi besar untuk naik kelas dan berkontribusi lebih besar dalam perekonomian lokal. Namun untuk mencapai hal itu ada tantangan utama yang harus diatasi yaitu terkait kurangnya konsistensi dan komitmen.
"Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan kuat pemerintah serta pihak terkait lainnya, UMKM Yogyakarta dapat melangkah maju bersaing di tingkat lebih tinggi," kata Arya Ariyanto SE., M.M.Par.
Arya Ariyanto, penggiat dan pelaku UMKM di Yogyakarta, mengatakan hal tersebut di sela-selw acara Donor Darah Bakpia Jogkem dan Joxzin Lawas ke-7 di Kampus LP2 K Sun Marino Indonesia dan Outlet Bakpia Jogkem Alkid, Jl. Langenastran Lor, Panembahan, Kraton, Yogyakarta (5/5/2024).
Lebih lanjut, Arya Ariyanto yang juga Dirut PT Jogkem Grup dan saat ini juga tengah meramaikan bursa Balon Wakil Walikota Yogyakarta mengatakan, bahwa pendampingan dari pemerintah seharusnya tidak hanya sebatas pada pelatihan dan menyelenggaraan pameran. Lebih dari itu, pendampingan yang efektif harus mampu memperkuat komitmen dan konsistensi para pelaku UMKM.
"Ini bisa dilakukan melalui pembinaan manajerial, pelatihan keterampilan atau pengembangan jaringan kerja yang kokoh," tegas Arya Ariyanto.
Dikatakan, Arya Ariyanto, terdapat sejumlah penghambat dan kendala untuk naik kelas, yaitu rendahnya konsistensi dan komitmen pelaku UMKM Yogyakarta. Ketika UMKM terus-menerus beralih dari satu bidang usaha ke bidang usaha lain dengan cepat, hal ini dapat menyebabkan ketidakstabilan dan kehilangan fokus. Terbatasnya sumber daya keuangan membuat UMKM sulit untuk menjaga konsistensi dalam operasional mereka. Kurangnya modal menghambat investasi dalam bahan baku berkualitas atau pengembangan produk baru, yang pada gilirannya dapat mengganggu aliran produksi dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Tak hanya itu, persaingan di pasar tenaga kerja yang ketat juga menjadi tantangan besar. UMKM sering kesulitan merekrut dan mempertahankan karyawan yang berkualitas. Kurangnya personel dapat membebani sisa staf yang ada dan mengganggu produktivitas, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas produk dan layanan yang ditawarkan.
Selain itu, UMKM juga mengandalkan pemasok untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mereka. Namun, ketidakstabilan dalam pasokan bahan baku dapat mengganggu aliran produksi dan menyebabkan penundaan dalam pengiriman produk kepada pelanggan. Faktor-faktor seperti fluktuasi harga, keterlambatan pengiriman, atau bahkan kualitas bahan baku yang buruk bisa menjadi penyebab utama masalah ini.
Dengan tekad dan kerja keras, UMKM terus berusaha untuk mengatasi kendala-kendala ini demi meraih kesuksesan dan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam dunia usaha yang kompetitif. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar