Makam Giri Sapto, Tempat Abadi bagi para Seniman
BANTUL, jogja-ngangkring.com - “Dalam pandangan Pak Sapto melukis itu tidak mesti di atas kanvas. Melukis di atas alam pun bisa. Contoh karya lukisan di atas alam dari Pak Sapto itu ya Makam Seniman Giri Sapto Imogiri,” papar Yani Saptohoedojo, istri almarhum Maestro seni rupa Dr. (HC) RM. Sapto Hoedojo FRSA.
Makam Seniman Giri Sapto terletak di Bukit Gajah, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Ini adalah satu-satunya makam seniman dan budayawan di Indonesia yang penuh estetika, tidak seperti makam-makam pada umumnya yang menimbulkan kesan angker. Tidak sekedar areal pemakaman, tempat ini juga menjadi saarana berkumpul dan mengenang karya-karya mereka.
Makam dengan desain berjenjang yang mengikuti bentuk mbukit ini berada 15 km selatan Yogyakarta dengan area seluas 5 hektare. Tempat ini juga menawarkan keindahan bentang alam. Di musim penghujan, hijaunya dedaunan sejauh mata memandang terasa menyejukkan. Di musim kemarau, desir angin dan daun kering yang berserakan akan menghadirkan suasana berbeda.
Pembangunan Makam Seniman Giri Sapto dimulai pada tahun 1988 oleh Maestro seni rupa almarhum Dr. (HC) RM. Sapto Hoedojo FRSA. Dengan keyakinan bahwa seniman layak dihargai melalui karya-karyanya, gagasan Saptohoedojo mendapatkan dukungan dari banyak pihak, terutama dari pelukis Affandi. Meski setelah meninggal Affandi tidak dimakamkan di sana, namun dukungannya menguatkan ide pembuatan makan seniman tersebut.
“Gagasan pembangunan kompleks makam seniman ini mendapatkan persetujuan dari Bupati Bantul waktu itu, KRT Suryapamo Hadiningrat. Sebidang tanah di perbukitan pun disediakan untuk kompleks pemakaman ini. Kemudian Pak Sapto membelinya. Papi (begitu Yani memanggil suaminya Saptohoedojo – red) nggak mau diberi tanah secara cuma-Cuma. Tanah harus dibeli dengan uang sendiri,” Yani mengisahkan akhwal awal mula pembangunan Makam Giri Sapto.
Begitu mendapatkan lahan tanah, pembangunan langsung dilakukan hingga kompleks pemakaman tersebut diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan nama "Taman Makam Seniman Budayawan Pengharum Bangsa (TSBPB)". Namun kemudian namanya berganti menjadi "Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto”, sebagai sebentuk penghargaan bagi pemrakarsanya".
Seniman pertama yang dimakamkan di Makam Seniman Giri Sapto adalah almarhum Soedarmadji (pimpinan keroncong RRI Semarang) tahun 1990. Hingga saat ini ada sekitar 60 seniman dan budayawan telah dikebumikan di sana. Di antara mereka ada pematung Edhi Sunarso, pelukis Widayat, , Jemek Supardi, Kusbini, L. Manik, dan Djoko Pekik
Setiap makam menceritakan kisah perjalanan dan kontribusi unik dari para penghuninya, menciptakan ruang yang penuh dengan inspirasi dan penghargaan terhadap seni dan budaya. “Terbaru yang dimakamkan di Giri Sapto adalah pelukis Joko Pekik tahun 2023 lalu. R.M Saptohoedojo sendiri dimakamkan 3 September 2003,” kata Yani.
Makam Seniman Giri Sapto bukan hanya tempat peristirahatan terakhir para seniman, tetapi juga menjadi titik sentral penghargaan terhadap karya-karya mereka. Di tengah keindahan alam dan keheningan, tempat ini menjadi simbol keabadian seni dan budaya yang terus hidup dan memberikan inspirasi kepada generasi selanjutnya. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar