Sadranan Agung Wotgaleh 2024 M/1445H
Sleman (3/3/20040, jogja-ngangkring.com - Tradisi nyadran, sebuah ritual budaya yang masih berlanjut di kalangan masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta, memiliki tujuan untuk menghormati dan mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia sekaligus pengingat bahwa kematian adalah sebuah kepastian bagi mereka yang hidup. Seiring berjalannya waktu, tradisi Nyadran yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah (Syakban) berkembang dengan menyertakan berbagai kesenian dan aspek budaya lainnya yang disesuaikan dengan konteks zaman namun tanpa meninggalkan kegiatan utamanya yaitu ziarah makam leluhur.
Sadranan Agung Wotgaleh merupakan sebuah tradisi tahunan yang diselenggarakan di di kompleks Masjid Sulthoni Wot Galeh, Sendangtirto, Berbah, Sleman, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Pangeran Purbaya, Putra Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam. Tradisi Sadranan Agung Wot Galeh ini menjadi bagian dari Calendar of Event Upacara Adat Kabupaten Sleman tahun 2024 dan diadakan pada Minggu (3/3/2024).
Perayaan ini dimulai dengan kirab budaya dari kantor Kapenewon Berbah menuju Komplek Masjid Sulthoni Wotgaleh, diiringi oleh bregodo Purboyo. Pejabat dan perwakilan dari kalurahan setempat mengenakan busana adat Jawa dan naik kereta kuda, sementara diikuti oleh bregodo dari padukuhan-padukuhan di Sendangtirto. Dalam kirab kali ini terdapat dua gunungan berisi hasil pertanian yang kemudian dibagikan kepada warga.
Sebelum memasuki iringan kirab memasuki kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh, upacara UJUB diadakan untuk menyerahkan berbagai uba rampe nyadran, termasuk gunungan hasil pertanian dan jajanan pasar. Jadi selain sarana untuk mendoakan arwah leluhur upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia-Nya. Dalam esensinya, tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar