ANGKRINGAN

YANI MENGENANG MAESTRO SENIRUPA, SAPTOHOEDOJO

  • Administrator
  • Jumat, 02 Februari 2024
  • menit membaca
  • 389x baca
YANI MENGENANG MAESTRO SENIRUPA, SAPTOHOEDOJO

Kurangono dhahar lan guling. Urip sak madya. Makan seperlunya dan tidur secukupnya. Karena hidup itu hanya sebentar. Itu pesan Papi kepada kami,” papar Yani Soedjono ketika ditemui Jogja Ngangkring di gallerynya siang tadi. Papi adalah panggilan sayang Yani untuk almarhum suaminya, seniman Saptohoedojo.

Dr. Hc. R.M. Saptohoedojo, lahir 6 Februari 1925 di Solo sebagai anak ketujuh dari 18 bersaudara keturunan dari KRT dr. Hendronoto dari garis ayah dan  pujangga Ranggawarsito dari jalur ibu. Pieq, begitu panggilan Saptohoedojo saat kecil, menunjukkan bakat dan keahlian dalam melukis. Bahkan, ia pernah menjadi juara pertama dalam lomba melukis antar sekolah se-kota Solo. Sapto memang dilahirkan di kalangan seniman. Ronggowarsito yang dimakamkan di desa Palar, Klaten, Jawa Tengah, terkenal dengan karyanya “Zaman Edan”. Kakeknya, Ki.Padmo Susastro, merupakan pujangga keraton Surakarta yang menulis tentang adat istiadat Jawa atau Kejawen serta menulis dongeng rakyat yang terkenal Kancil Nyolong Timun (Kancil mencuri timun). Pamannya, Ki Harjowirogo, adalah seorang penulis yang purwa dan salah seorang pendiri Balai Pustaka, Jakarta.

Dengan jiwa petualang dan pemberani, Pieq tidak hanya memiliki hobi melukis dan olahraga, tetapi juga gemar berkelahi. Saat bersekolah di HIS Ksatriyan Solo, ia sering bertemu dengan seorang pemuda bertubuh besar dan berkulit agak gelap, yang selalu menatapnya dengan tajam. Pieq kemudian mengetahui bahwa pemuda tersebut bernama Slamet, murid dari Arjuna School. Pieq pun mengirim surat tantangan duel ke Arjuna School, dan tantangan itu pun diterima. Tempat duel ditentukan di tanah rumput dekat pohon beringin, tak jauh dari Arjuna School. Di sana, Sapto dan Slamet saling bertarung dengan piting, tonjok, dan bergulingan. Namun, sebelum pertarungan selesai, kontrolir perkebunan datang dan memisahkan mereka. Pertarungan berakhir tanpa pemenang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Sapto bergabung dengan Tentara Pelajar dan bertemu kembali dengan Slamet, lawan duelnya dahulu. Mereka menjadi sangat akrab dan Sapto akhirnya mengetahui bahwa nama lengkap Slamet adalah Slamet Riyadi, sebuah nama yang kemudian menjadi sangat terkenal di kalangan pejuang dan menjadi Pahlawan Nasional.

Pada masa revolusi fisik tahun 1945, Saptohoedojo bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) dan turut berperang di Surabaya bersama Bung Tomo serta di front Ambarawa. Setelah Indonesia merdeka, dunia pendidikan menjadi tidak pasti karena Belanda bekerja sama dengan tentara sekutu yang ingin melucuti tentara Jepang untuk kembali menjajah Indonesia. Saptohoedojo, seorang yang tidak pernah lulus HIS yang kemudian menjadi SMP Negeri 1 Solo, menghadapi ketidakpastian ini. Setelah tidak lagi bersekolah, dia mulai sering berkhayal untuk "minggat" ke luar negeri. Akhirnya, dia memutuskan bahwa Singapura akan menjadi tempat tujuannya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Pada bulan Maret 1947, dengan tekad yang kuat, Saptohoedojo berusia 22 tahun memutuskan untuk berangkat. Hanya membawa uang dua ribu perak hasil penjualan sepeda kesayangannya, ranselnya berisi beberapa potong baju, perlengkapan melukis, pastel, kuas, dan gulungan kanvas. Tanpa ragu, dia berjalan kaki menuju Pelabuhan Tegal dengan hati penuh ketekunan.

Di Pelabuhan Tegal, ia menumpang kapal tongkang milik pedagang Cina. Meskipun seumur hidupnya belum pernah naik kapal, Saptohoedojo menghadapi 19 hari yang penuh tantangan di Laut Jawa. Selama perjalanan, ia merasakan betapa tipisnya garis antara hidup dan mati. Menuju Singapura, sebuah negara yang hanya dikenalnya melalui peta karena kurangnya pelajaran geografi pada waktu itu.

Setelah tiba di Singapura, Saptohoedojo dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia harus mencari makan untuk bertahan hidup. Dengan bekerja sebagai penjaga malam toko Bombay, mencari makan dari sisa tong sampah restoran Cina, dan bahkan menjadi tukang angkut ember berisi tinja, dia berjuang untuk memenuhi panggilan perutnya setiap hari. Namun, dengan ketekunan dan tabungan yang terkumpul, ia akhirnya dapat menyewa kamar berdinding bambu.

Harapan mulai muncul ketika Saptohoedojo bertemu dengan pendatang asal Jawa yang memiliki beberapa taksi. Dengan pengetahuannya tentang mobil dari masa kecil, dia menjadi sopir taksi. Sambil mencari penumpang, ia tetap setia pada hasrat seninya, mengangkat kuas dan melukis di kanvas yang menghiasi kamar kecilnya.

Saat menjadi sopir taksi, Saptohoedojo memiliki langganan bernama Mr. Russel, seorang konsul Inggris di Singapura yang tertarik pada seni. Dengan tekad dan sedikit desakan, Saptohoedojo berhasil meyakinkan Mr. Russel tentang bakat seninya. Dengan bantuan konsul, dia diperbolehkan memamerkan lukisannya di British Council. Pameran inilah yang menjadi titik awal bagi Saptohoedojo untuk menjalani hidupnya sebagai pelukis, menggantungkan hidupnya pada kuas dan cat.

Pada tahun 1948, Saptohoedojo meraih hadiah pertama dalam suatu pameran di Malaysia untuk lukisan cat air dan cat minyak. Prestasinya dalam seni lukis membukakan pintu untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti Sutan Sjahrir dan Kusumo Utoyo. Bersama mereka, ia mendirikan Indonesia Office di Singapura. Karier menjadi pelukis makin terang. Ia makin tenar.  Kerajaan Malaysia pernah mempercayakan lukisan keluarga kepadanya dan dilanjut hingga mengadakan pameran di Penang. 

Saptohoedojo melanjutkan karir seninya dengan merantau ke luar negeri, belajar di Rijks Academic Amsterdam, Belanda, pada tahun 1950-1951, dan di State School of Arts London pada tahun 1952-1953 dengan subsidi dari pemerintah Republik Indonesia. Di London, ia bertemu dengan Kartika, putri pelukis Affandi, mereka kemudian menikah dan dari pernikahan ini  memiliki delapan orang anak. Namun pada tahun 1970 SaptoHoedojo dan Kartika Affandi memutuskan untuk berpisah.

Setelah merasa cukup belajar, Saptohoedojo pulang ke Indonesia dan menjadi dosen di ASRI Yogyakarta. Namun, karena merasa terhambat dalam kreativitasnya, ia memutuskan untuk menjadi seniman independen. Kebebasannya membuka peluang untuk menghasilkan karya-karya luar biasa dalam berbagai bidang seni, seperti lukisan, patung, desain, kolase, batik, dan kriya seni. Pada tahun 1972 Saptohoedojo menikah lagi dengan Yani, seorang gadis asal Purwokerto, dan bersama-sama mereka mendirikan Saptohoedojo Art Gallery di Yogyakarta serta memiliki seora putra, Sekar Langit.

Kesuksesan Saptohoedojo tidak hanya terlihat dalam karyanya sebagai seniman, tetapi juga dalam peranannya dalam meningkatkan nilai seni "kelas kampung". Ia dianggap sebagai salah satu ikon penting dunia kesenian, mampu mengubah produk seni lokal menjadi karya seni dengan nilai tinggi. Pengaruh cukup besar dalam pengembangan berbagai bidang seni, termasuk batik, kriya, dan desain. Bersama Yani, Saptohoedojo berhasil membina lebih dari 700 pengrajin batik yang tersebar di Yogya, Sragen, Solo, Delanggu, Kartosuro, dan Pekalongan. Tidak hanya menjadi seniman yang produktif, Sapto juga seorang pengajar dan pembina bagi banyak seniman, misalnya pengrajin ukir tembaga di Cepogo (Boyolali), pengrajin gerabah di Kasongan, dan pengrajin perak di Kotagede, Yogyakarta.

Semasa hidupnya Saptohoedojo juga dikenal sebagai seniman barang rongsokan. Dia memiliki keahlian khusus dalam mengubah kaca, kaleng, dan barang rongsokan lainnya yang awalnya dianggap tidak berharga menjadi karya seni yang tak ternilai. Saptohoedojo juga terlibat dalam proyek-proyek besar seperti dekorasi mural pada Stadion Utama Senayan Jakarta, mural dan desain interior semen Gresik, serta interior pada Food Factory di Bandung. Pesanan seni dari luar negeri datang dari kota-kota besar seperti Cannes, Hamburg, Frankfurt, Roma, London, Perancis, Denmark, dan Rio de Janeiro, Brazil.

Pada masa kejayaannya galeri seninya tersebar di beberapa kota, antara lain di Airport Semarang, Denpasar Bali, Kaliurang, Sahid Garden Hotel Yogyakarta, dan Pondok Indah Jakarta Selatan. Di galeri-galeri ini, karya-karya Saptohoedojo dipamerkan, termasuk lukisan, batik, dan baju-baju dengan kualitas tinggi.

Saptohoedojo selalu muncul dengan gagasan-gagasannya yang segar dan terkadang kotnroversial. Misalnya, tahun 1985 di hadapan para wartawan dan seniman dalam suatu makan siang di galerinya, Sapto melontarkan ide untuk mendirikan koperasi bagi para seniman. Koperasi di TIM Jakarta itu sempat berjalan selama beberapa bulan sebelum akhirnya berhenti.

Gagasan Sapto lain yang dianggap cukup kontroversial adalah soal makam seniman. Pada mulanya gagasan itu dianggap sepi bahkan dilecehkan sesama seniman Yogyakarta sendiri. Gagasan itu pada awalnya dikonsultasikan dengan mantan mertuanya, Affandi. Ternyata, Affandi menyambug dengan antusias. Ia bahkan tercatat sebagai pendaftar pertama penghuni Makam Seniman yang terletak di Bukit Gajah, dekat Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Sayang sekali, ketika maestro pelukis Indonesia itu meninggal, ia tak jadi dimakamkan di sana. Affandi, atas permintaan isterinya Maryati (almarhum) dimakamkan di Museum Affandi, Jalan Sala, Yogyakarta.

Pada tahun 1988, Saptohoedojo dianugerahi Upakarti oleh Presiden Soeharto, suatu penghargaan yang menegaskan kontribusinya yang luar biasa dalam dunia seni di Indonesia. Kesuksesan dan pengaruh Saptohoedojo sebagai seniman serba bisa dan pembina seni diakui oleh banyak pihak, menjadikannya salah satu ikon seni Indonesia. Prestasinya diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk Upakarti dari Presiden Soeharto pada tahun 1988 dan penganugerahan sebagai Academician of Merit pada tahun 1987.

Seniman serba bisa, Saptohoedojo, menghembuskan nafas terakhir pada Rabu, 3 September 2003 di rumah sekaligus galerinya yang unik dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Makan Seniman Giri Sapto. Ia meninggalkan Yani Saptohudoyo, serta sembilan anak dan tiga cucu. Warisannya terus hidup melalui karya-karyanya dan pengaruhnya dalam dunia seni Indonesia.

“Papi delapan tahun tahun terserang stroke. Satu tahun terakhir sebelum meninggal i sudah tidak mampu berbicara. Namun jauh sebelumnya Beliau sudah berpesan agar Gallery dan karya-karyanya dilestarikan, dan agar mempertahankan kebudayaan Indonesia”, kata Yani menutup perbincangan.

 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar