"Sembahan" dari Habituasi Tradisi Menjadi Koreografi
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Halal bi halal, sebuah tradisi yang berakar dalam budaya Indonesia, telah mengalami evolusi yang menarik. Dari pertemuan formal untuk bersilahturahmi dan memaafkan, tradisi ini telah berubah menjadi sebuah tarian kolosal "Sembahan". Melalui perubahan ini, kita dapat melihat bagaimana tradisi dapat mengalami perubahan dan reinterpretasi oleh masyarakat.
Prof Kuswarsantyo dari UNY mengatakan bahwa tarian kolosal ini merupakan ekspresi dari nilai-nilai budaya yang mendalam. Pada dasarnya, tarian kolosal ini merupakan penafsiran ulang dari tradisi halal bi halal. Melalui gerak dan koreografi, momen memaafkan itu dinyatakan dalam bentuk seni yang mempesona. Tidak hanya itu, tarian ini juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk memahami dan meneruskan nilai-nilai budaya yang ada.
Dalam konteks Indonesia, halal bi halal bukan sekadar sebuah peristiwa, tetapi telah menjadi simbol dari kebersamaan, toleransi, dan pengampunan. Melalui tarian kolosal ini, pesan-pesan tersebut disampaikan dengan penuh makna, baik kepada mereka yang terlibat langsung maupun kepada penonton yang menyaksikannya.
Tarian kolosal ini juga menunjukkan betapa ruang fisik dan sosial dapat menjadi panggung bagi ekspresi budaya. Baik itu dilakukan di masjid, rumah, atau bahkan pabrik, selama ruang tersebut diubah menjadi tempat di mana interaksi sosial dan perayaan ritual dapat terjadi.
Dengan demikian, tarian kolosal Sembahan tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan, tetapi juga merupakan sebuah pernyataan bahwa budaya adalah proses dinamis. Melalui eksplorasi terhadap tradisi halal bi halal kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai lokal dan global saling berinteraksi, menciptakan sebuah karya seni yang indah dan bermakna.
Secara keseluruhan, tarian kolosal Sembahan adalah bukti nyata bahwa tradisi budaya dapat terus hidup dan berkembang, asalkan masyarakat terus terlibat dalam prosesnya. Hal ini menegaskan pentingnya pengampunan, kebersamaan, dan transmisi nilai budaya sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat. Dengan demikian, halal bi halal yang juga diwujudkan dalam tari kolosal Sembahan bukan hanya sebuah peristiwa, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar