MULOK BAHASA JAWA BUKAN MOMOK
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com —Bahasa ibu merupakan bagian dari akar kehidupan seseorang. Melalui bahasa, anak pertama kali mengenal lingkungan, menyerap nilai-nilai keluarga, memahami kebiasaan masyarakat, dan membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menyimpan ingatan, pengetahuan, dan identitas budaya yang diwariskan antargenerasi.
Ketika seseorang semakin jauh dari bahasa ibunya, ada bagian dari akar budaya yang perlahan kehilangan keterhubungan. Bukan berarti seseorang kehilangan identitasnya, tetapi ada kekayaan pengetahuan dan pengalaman budaya yang tidak sepenuhnya dapat dikenali. Karena itu, pengenalan bahasa daerah kepada anak sejak dini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan warisan budaya.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki perhatian khusus terhadap pemeliharaan bahasa Jawa. Pemerintah DIY telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 64 Tahun 2013 tentang Mata Pelajaran Bahasa Jawa sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah atau Madrasah. Kebijakan tersebut diperkuat melalui Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa.
Pergub Nomor 64 Tahun 2013 telah mengamanatkan agar pembelajaran bahasa Jawa dilaksanakan secara pragmatis, atraktif, rekreatif, dan menyenangkan serta berdaya guna bagi kehidupan siswa. Artinya, semangat pembelajaran yang menyenangkan sebenarnya sudah menjadi bagian dari arah kebijakan pendidikan bahasa Jawa di Yogyakarta. Tantangannya adalah bagaimana prinsip tersebut benar-benar hadir dalam pengalaman belajar sehari-hari di sekolah.
Bahasa Jawa perlu dikenalkan sebagai pengalaman hidup, bukan semata-mata materi pelajaran. Anak-anak dapat mulai belajar melalui kosakata yang mereka temui setiap hari, seperti nama anggota keluarga, benda di rumah, warna, angka, dan kegiatan sederhana. Kata adus atau mandi, misalnya, dapat digunakan untuk memperkenalkan perbedaan ungkapan berdasarkan lawan bicara. Anak kemudian memahami bahwa seseorang dapat mengatakan aku arep adus dalam percakapan ngoko, sedangkan kepada orang yang dihormati digunakan ungkapan krama yang sesuai. Pengenalan tingkatan tutur seperti ngoko, krama madya, dan krama alus akan lebih mudah ketika anak memahami penggunaannya dalam situasi nyata.
Pembelajaran aksara Jawa tetap penting sebagai bagian dari kekayaan budaya. Namun, pengenalannya dapat dilakukan secara bertahap melalui kartu huruf, permainan mencocokkan aksara, teka-teki, atau kegiatan kreatif lainnya. Anak tidak harus langsung dibebani berbagai aturan penulisan sebelum memiliki ketertarikan terhadap bentuk dan fungsi aksara tersebut.
Materi sastra dan pewayangan juga dapat disampaikan melalui dongeng berbahasa Jawa yang dekat dengan dunia anak. Kisah tentang kerajaan, tokoh pewayangan, atau cerita rakyat bisa menjadi bahan percakapan sebelum peserta didik diajak memahami karakter tokoh, pesan cerita, dan kosakata baru. Anak akan lebih mudah tertarik ketika bahasa Jawa hadir sebagai media untuk menikmati cerita, bukan hanya sebagai kumpulan materi yang harus dihafalkan.
Kajian UNESCO mengenai pendidikan multibahasa menjelaskan pentingnya penggunaan bahasa yang dipahami peserta didik untuk mendukung proses belajar. Bahasa yang akrab dapat membantu anak membangun pemahaman awal sebelum mempelajari ungkapan atau struktur bahasa yang lebih kompleks. Pengalaman mengenali perbedaan kosakata, makna, dan cara menyampaikan sesuatu juga memperkaya kemampuan berbahasa. Kemampuan memahami lebih dari satu bahasa memberi kesempatan kepada anak untuk mengenali keragaman cara berpikir dan berkomunikasi. Dengan demikian, bahasa ibu dapat menjadi fondasi untuk memperluas pengetahuan sekaligus mempelajari bahasa lain.
Penilaian tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan anak. Namun, penilaian sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembelajaran bahasa Jawa. Anak yang memperoleh nilai tinggi belum tentu terbiasa menggunakannya dalam percakapan, sedangkan anak yang kesulitan menguasai aksara belum tentu tidak memiliki minat terhadap bahasa dan budaya Jawa.
Kegiatan pengayaan dapat dikembangkan melalui ekstrakurikuler mendongeng, bermain drama, tembang dolanan, percakapan, atau pengenalan aksara. Ruang eksplorasi tersebut memungkinkan peserta didik memperdalam pengetahuan tanpa selalu merasa berhadapan dengan ujian. Materi wajib tetap diajarkan, tetapi pengalaman belajar perlu dirancang agar tidak menimbulkan ketakutan yang justru menghambat minat.
Pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Orang tua dapat membiasakan percakapan sederhana di rumah, sementara sekolah menyediakan ruang bagi anak untuk menggunakan bahasa Jawa secara wajar dan sesuai konteks. Guru berperan penting dalam menciptakan suasana belajar yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki penggunaan bahasa tanpa merasa dipermalukan. Penguatan muatan lokal pun perlu diarahkan pada kemampuan berkomunikasi, pemahaman budaya, dan penghargaan terhadap warisan bahasa. Dengan demikian, bahasa Jawa tidak hanya bertahan dalam buku pelajaran, tetapi tetap hidup dalam percakapan dan keseharian generasi muda.
Tujuan pembelajaran bahasa Jawa bukan semata-mata membuat anak mampu menjawab soal atau memperoleh nilai yang baik. Lebih dari itu, anak diharapkan memahami kekayaan bahasanya, mengenali nilai budaya yang menyertainya, dan bersedia menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Aksara, sastra, dan unggah-ungguh tetap menjadi bagian penting yang perlu dipelajari, tetapi semuanya dapat diperkenalkan melalui tahapan yang sesuai dengan perkembangan anak. Rasa suka tidak menggantikan kedisiplinan belajar, melainkan menjadi modal untuk membangun ketekunan. Ketika anak merasa bahasa Jawa dekat, menarik, dan berguna, mereka tidak hanya sedang mempelajari sebuah bahasa, tetapi juga sedang mengenali kembali akar budaya yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar