AGENDA

MORSA dan Ikhtiar Membangun Ekosistem Seni yang Bermartabat

  • Administrator
  • Minggu, 31 Mei 2026
  • menit membaca
  • 7x baca
MORSA dan Ikhtiar Membangun Ekosistem Seni yang Bermartabat

MORSA dan Ikhtiar Membangun Ekosistem Seni yang Bermartabat

jogja-ngangkring.com — Seni sering ditempatkan sebagai salah satu penanda kemajuan peradaban. Melalui seni, manusia merawat ingatan, menyampaikan kritik, mengekspresikan kegelisahan, sekaligus membangun imajinasi tentang masa depan. Namun di balik karya-karya yang dipentaskan dan diapresiasi publik, masih banyak seniman yang berhadapan dengan persoalan mendasar, yaitu terbatasnya ruang hidup yang memungkinkan mereka berkarya secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi latar lahirnya MORSA (Musik Orkestra, dan Sastra), sebuah gerakan kebudayaan yang digagas sebagai ruang pertemuan berbagai cabang kesenian dalam satu ekosistem bersama. Penyelenggaraan MORSA yang pertama akan berlangsung pada 23 Juni 2026 di Purawisata Amphitheater Yogyakarta. Even ini sekaligus menjadi momentum peluncuran dua buku puisi karya H. Joko Pranoto, "Yang Kutitipkan kepada Langit" dan "Negeri Retak".

Joko Pranoto menjabarkan bahwa MORSA lahir dari pengamatan panjang terhadap kondisi dunia seni dan sastra yang selama ini berjalan dalam ruang-ruang yang relatif terpisah. Banyak seniman, musisi, penyair, dan pelaku budaya bekerja dengan dedikasi tinggi, tetapi belum sepenuhnya memperoleh ruang apresiasi yang mampu menopang keberlanjutan proses kreatif mereka. Keadaan ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menciptakan ruang yang mampu mempertemukan berbagai ekspresi kesenian sekaligus membuka peluang tumbuhnya ekosistem budaya yang lebih sehat. Dari pencarian itulah lahir gagasan membangun sebuah panggung kolaboratif yang tidak membatasi diri pada satu bentuk kesenian tertentu.

"Awalnya kami mencari bentuk kolaborasi yang dapat mempertemukan berbagai aliran dan ekspresi kesenian. Bahkan bentuk-bentuk seni yang eksperimental sekalipun perlu mendapat ruang. Dari proses itu lahirlah MORSA," ujar Joko Pranoto saat memberikan penjelasan kepada awak media di Tarumartani Yogyakarta, Jumat (29/5/2026). Menurut Joko, tantangan terbesar dunia seni bukan terletak pada kurangnya kreativitas atau karya. Indonesia memiliki banyak seniman dengan beragam potensi. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan sistem yang memungkinkan karya-karya tersebut terus hidup, bertemu dengan publik, dan memberikan manfaat ekonomi bagi para penciptanya. Pandangan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa banyak pelaku seni masih hidup dalam paradoks. Karyanya diapresiasi, tetapi nilai ekonominya belum selalu memadai. Pertunjukan hadir secara terbatas, sementara profesi seniman masih kerap dipandang sebagai aktivitas sampingan, bukan pekerjaan yang layak memperoleh penghargaan setara dengan profesi lainnya.

MORSA tidak hanya diposisikan sebagai sebuah pertunjukan, melainkan ikhtiar membangun jejaring yang mempertemukan seniman, komunitas budaya, publik, akademisi, hingga pelaku usaha. Harapannya, seni tidak berhenti sebagai ekspresi kreatif semata, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang mampu memberi nilai sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. Persoalan regenerasi juga menjadi perhatian. Penyelenggara menilai bahwa keberlangsungan seni dan sastra sangat ditentukan oleh hadirnya ruang perjumpaan antargenerasi. Kesadaran tersebut mendorong lahirnya berbagai program yang melibatkan generasi muda, termasuk lomba esai dan konten kreatif berbasis karya sastra.

Rangkaian acara MORSA akan melibatkan 22 seniman dari berbagai daerah dengan beragam bentuk pertunjukan yang mencerminkan semangat kolaborasi dan keterbukaan ruang ekspresi karena kebudayaan tidak cukup dirawat melalui perayaan dan seremoni. Kebudayaan membutuhkan ekosistem yang memungkinkan para pelakunya hidup, tumbuh, dan terus berkarya. Di titik itulah MORSA mencoba menempatkan seni bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai ruang kehidupan yang bermartabat bagi para penciptanya. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar