AGENDA

Wismono "Xobiez" Dukung MORSA 2026, Seni Harus Jujur, Merdeka, dan Membebaskan Jiwa

  • Administrator
  • Kamis, 04 Juni 2026
  • menit membaca
  • 6x baca
Wismono

Wismono "Xobiez" Dukung MORSA 2026, Seni Harus Jujur, Merdeka, dan Membebaskan Jiwa

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Seniman dan aktor teater Wismono Pandu Guritno atau Xobiez menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Musik Orkestra dan Sastra (MORSA) 2026 yang akan digelar pada 23 Juni 2026 di Purawisata Amphitheater, Yogyakarta. Pagelaran yang dipersembahkan Pagar Betis Nusantara tersebut mengusung tajuk Gelar Seni Budaya Indonesia sekaligus menjadi momentum peluncuran dua buku puisi karya Joko Pranoto, Yang Kutitipkan Kepada Langit dan Negeri Retak.

Bagi Xobiez, MORSA tidak semata menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka ruang bagi para seniman untuk mengekspresikan identitas, kegelisahan, dan kebebasan kreatif. Seni yang bermakna lahir dari kejujuran batin serta keberanian menjaga kemerdekaan berpikir. Kebebasan berkarya berakar pada kesadaran terhadap jati diri, sementara kekuatan sebuah karya tumbuh dari proses kreatif yang jujur, membahagiakan, dan terbebas dari berbagai tekanan yang mengekang daya cipta. Pandangan tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjangnya di dunia teater. Melalui keterlibatannya bersama Teater Braille, Xobiez turut membuka ruang kreatif bagi penyandang disabilitas netra untuk berkarya dan tampil di berbagai panggung pertunjukan. Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa seni memiliki daya emansipatoris yang mampu membebaskan manusia dari berbagai sekat sosial, fisik, maupun psikologis.

MORSA 2026 sendiri dipersiapkan sebagai salah satu agenda budaya yang diharapkan memberi warna penting bagi kehidupan seni di Yogyakarta. Sejumlah tokoh seni dan budaya tingkat nasional maupun internasional dijadwalkan hadir, di antaranya Sutardji Calzoum Bachri, Clara Shinta Rendra, serta Alvin Bin Adam melalui penampilan Sholawat Reggae. Kelompok musik tradisional Gondang Batak Beta Hita juga akan tampil bersama sejumlah seniman dan budayawan dari berbagai daerah.

Aswarun Barera dan Nayaka Esty selaku penanggung jawab promosi dan pemasaran memandang MORSA sebagai ruang perjumpaan berbagai cabang seni dalam satu panggung yang terintegrasi. Perhelatan ini diharapkan menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan sastra, musik, dan seni pertunjukan dalam satu kesatuan ekspresi.

Optimisme para pelaku seni terhadap MORSA 2026 menunjukkan besarnya harapan agar acara ini menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan budaya Yogyakarta. Aswarun mengajak masyarakat turut mengambil bagian dalam momentum tersebut. "Saya secara pribadi mengajak teman-teman semua turut hadir dan menjadi saksi peristiwa budaya besar dan langka ini," ujarnya. (Yul)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar