PEKAN DEWANTARA 2026
Belajar dari Nyi Hadjar Dewantara

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com (26/04/26) - Pekan Dewantara 2026 dibuka dengan suasana hangat sekaligus reflektif di Pendapa Tamansiswa, Yogyakarta, Sabtu (25/3). Puluhan anak muda usia 18–25 tahun dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam komunitas Cakra Dewantara memulai rangkaian kegiatan ini dengan semangat belajar dari sosok yang kerap luput dari sorotan, Raden Ayu Sutartinah (Nyi Hadjar Dewantara). Dalam nuansa guyub dan khidmat acara pembukaan ini menjadi penegasan bahwa sejarah pendidikan nasional tidak hanya ditopang oleh tokoh besar di panggung depan, tetapi juga oleh peran-peran sunyi yang bekerja di baliknya.
Kegiatan yang berlangsung di Jalan Tamansiswa 25 Yogyakarta ini dihadiri oleh Ki Murwanto selaku Kepala Museum Dewantara Kirti Griya serta Purbo Wijoyo cucu dari putra kedua Ki Hadjar Dewantara. Tampak pula hadir para kepala museum anggota Barahmus DIY, wakil Majelis Luhur Tamansiswa, para senior dan alumni, perwakilan keluarga pahlawan nasional, anggota komunitas, hingga masyarakat umum.
Ketua Cakra Dewantara, Shintia Putri, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengangkat peran fundamental Raden Ayu Sutartinah dalam membangun fondasi keluarga sekaligus dalam proses lahir, tumbuh, dan berkembangnya Tamansiswa. Mengusung tema “Bukan Sekadar Isteri, Berdikari Seperti Sutartinah”, ia menekankan bahwa sosok Nyi Hadjar tidak bisa dilepaskan dari perjalanan perjuangan Ki Hadjar Dewantara.
Shintia memaparkan setidaknya ada empat peran penting Nyi Hadjar. Pertama, kesediaannya dipinang oleh Suwardi Suryoningrat saat sang tokoh tengah berstatus narapidana politik dan harus menjalani pembuangan ke Belanda. Kedua, selama di negeri pembuangan, ia tidak hanya mendampingi, tetapi juga menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai guru, karena pemerintah kolonial hanya memberikan jaminan hidup bagi suaminya. Ketiga, saat kembali ke tanah air dan Suwardi kembali ditangkap akibat aktivitas politiknya, Nyi Hadjar justru mendorongnya untuk memilih jalur perjuangan di bidang pendidikan. Keempat, ketika Tamansiswa berdiri dan belum memiliki pamong, dialah yang menjadi pamong pertama, meneguhkan perannya sebagai fondasi awal sistem pendidikan tersebut.
Perspektif historis semakin diperdalam dalam sesi talkshow yang menghadirkan Priyo Dwiarso, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta sekaligus pinisepuh Tamansiswa. Ia berbagi pengalaman personal karena pernah tinggal berdekatan dengan keluarga Ki Hadjar pada masa kecilnya.
Menurutnya, Raden Ayu Sutartinah adalah seorang aristokrat yang menjalankan perannya sebagai istri dengan penuh kesadaran, tanpa kebutuhan untuk menonjolkan diri. Namun justru dalam sikap itulah terletak kekuatan pengaruhnya. Saat mendampingi suaminya di Belanda, ia mengajar di lembaga pendidikan anak usia dini Frabel de Garten, yang saat itu telah menerapkan pendekatan pendidikan progresif—bergeser dari model top-down menjadi bottom-up. Pengalaman ini, menurut Priyo, sangat mungkin memberi inspirasi bagi lahirnya sistem pendidikan Tamansiswa yang menolak corak kolonial yang diskriminatif dan tidak berakar pada budaya sendiri. Ia juga mengisahkan bahwa sepulang dari pembuangan pada 1919, Ki dan Nyi Hadjar sempat bertemu dengan Ahmad Dahlan yang mendorong pendirian sekolah nasional. Dari proses itulah lahir Perguruan Tamansiswa di Jalan Tanjung 26 (kini Jalan Gadjah Mada 26).
Gagasan pendidikan usia dini oleh Nyai Ahmad Dahlan juga tidak lepas dari kontribusi pemikiran Nyi Hadjar. Peran tersebut diakui langsung oleh Ki Hadjar Dewantara dalam pidatonya saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari UGM pada 1956, bahwa tanpa kehadiran Nyi Hadjar di sisinya, ia bukanlah siapa-siapa. Pernyataan ini menegaskan bahwa sejarah besar sering kali bertumpu pada relasi yang tidak selalu tampak di permukaan.
Usai pembukaan, peserta diajak menuju Museum Dewantara Kirti Griya untuk menelusuri jejak historis perjuangan Ki dan Nyi Hadjar. Museum yang dahulu merupakan rumah kedua keluarga ini memiliki arsitektur bergaya Indies dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi autentik, mulai dari mesin ketik yang digunakan untuk menulis artikel legendaris Als Ik Eens Nederlander Was hingga artefak yang berkaitan dengan masa pemenjaraan akibat delik pers. Menurut pemandu museum, seluruh koleksi tersebut tidak hanya merekam biografi, tetapi juga menggambarkan lanskap perjuangan intelektual dan politik yang melatarbelakangi lahirnya gagasan pendidikan nasional yang merdeka.
Ketua kegiatan, Febry Fajar Mabruroh, menjelaskan bahwa Pekan Dewantara 2026 dirancang sebagai ruang belajar terbuka bagi publik. Rangkaian kegiatan meliputi pameran, lomba dolanan anak, workshop, seminar, hingga napak tilas, yang berlangsung dari 25 Maret hingga 3 Mei. Ia juga menekankan pentingnya menggali kembali konsep pendidikan Tamansiswa yang bertumpu pada sistem among yang berlandaskan prinsip kemerdekaan dan kodrat alam. Dalam kerangka ini, peserta didik tidak hanya diajar, tetapi dibimbing untuk merasakan, memahami, dan memelihara kebebasan secara bertanggung jawab, baik dalam batin, pikiran, maupun tenaga.
Menutup rangkaian pembukaan, Pekan Dewantara 2026 tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan ruang pemaknaan ulang tentang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Dari jejak Ki Hadjar Dewantara dan Raden Ayu Sutartinah, publik diajak memahami bahwa pendidikan sejati lahir dari keteladanan, keberanian berinovasi, dan kesediaan untuk terus belajar dari sejarah. Harapannya sederhana adalah agar setiap yang hadir tidak hanya menyaksikan, tetapi pulang dengan kesadaran baru tentang arti kemerdekaan dalam belajar dan kehidupan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar