TERAS

Restorasi Warangka Keris Lawas

  • Administrator
  • Kamis, 23 April 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Restorasi Warangka Keris Lawas

Restorasi Warangka Keris Lawas di Banyusumurup 

Bantul, jogja-ngangkring.com (23/04/26) - Di sebuah lorong tenang di Dusun Banyusumurup, Imogiri, Bantul—yang sejak lama dikenal sebagai sentra perajin warangka keris—suara serut kayu terdengar lirih, teratur, seperti napas yang dijaga. Di ruang sederhana itulah Sulistyo bekerja: merestorasi warangka lawas, sekaligus merawat jejak sejarah yang melekat pada sebilah keris.

Sulistyo bukan sekadar perajin. Ia kerap dijuluki “tabib warangka”—sebuah sebutan yang lahir dari ketelatenannya membaca usia, karakter, hingga “rasa” kayu. Di bengkel kecilnya, Yessul Art, ia menangani warangka tua yang lapuk dimakan waktu, retak oleh perubahan cuaca, atau kusam karena lama tak tersentuh perawatan. Baginya, warangka bukan hanya pelindung bilah keris, tetapi bagian dari jiwa yang menyertainya.

Kayu menjadi elemen utama dalam setiap proses restorasi. Ia sering menggunakan kayu timoho—kayu khas Jawa dengan motif alami menyerupai batik. Seratnya yang unik memberi identitas visual sekaligus menandai status sosial pemiliknya di masa lalu.

Namun, tidak semua warangka bisa dipulihkan dengan timoho. Dalam kondisi tertentu, Sulistyo memilih kayu cendana—lebih halus, beraroma khas, dan bernilai tinggi. Cendana dari Nusa Tenggara Timur, menurutnya, memiliki kualitas terbaik: serat padat, aroma tahan lama, dan nilai simbolik yang kuat sebagai warisan.

Ada pula kayu trembalo dari Aceh, yang dahulu masuk melalui jalur perdagangan Tionghoa. Karakternya keras dan tahan lama, mencerminkan sejarah panjang perjumpaan budaya. Bagi Sulistyo, setiap jenis kayu bukan sekadar material, melainkan bagian dari narasi.

Proses restorasi dijalankan dengan presisi dan kesabaran. Ia dimulai dari membaca struktur warangka lama, menyesuaikan potongan kayu baru, hingga menyatukan bagian yang retak tanpa menghapus keaslian bentuk. Warangka tidak diubah menjadi baru, melainkan dikembalikan pada martabat asalnya.

Pasarnya datang dari berbagai penjuru—Jakarta, Kalimantan Timur, hingga Yogyakarta. Para kolektor dan pecinta keris tidak sekadar membeli, tetapi juga mempercayakan pusaka keluarga untuk dirawat.

Harga restorasi berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp5 juta, bergantung pada jenis kayu, tingkat kerumitan, dan nilai historisnya. Namun bagi para pemiliknya, nilai tersebut melampaui angka—ia.

Di Banyusumurup, di antara serpihan kayu dan aroma cendana, warangka-warangka tua itu menemukan hidupnya kembali. Dan menyangkut ingatan, identitas, dan warisan keluarga. Di tengah derasnya produk massal dan industri modern, kerja Sulistyo menjadi semacam perlawanan sunyi. Ia menjaga agar tradisi tetap bernyawa, merawat bukan hanya benda, tetapi juga makna yang dikandungnya di tangan Sulistyo, tradisi tidak pernah benar-benar usang—ia hanya menunggu untuk dirawat. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar