Sanggar Teater Muara Tampilkan Sandiwara Bahasa Jawa "Geseh"
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com – Sanggar Teater Muara kembali menggairahkan seni tradisional dengan mementaskan sandiwara berbahasa Jawa berjudul “Geseh”. Naskah karya Kelompok Sandiwara Sedhut Senut ini disutradarai oleh Surasa Khocil Birawa dan sukses dipentaskan di Omah Limasan Ponggalan, Giwangan, Umbulharjo, pada Jumat malam, 24 Januari 2024.
Selama 2,5 jam, pementasan ini memukau penonton dengan penampilan apik para pemain, di antaranya Seteng Agus Yuniawan, Luwi Darto, Eko Winardi, Hargi Sundari, Warih Nugroho, Tedjo Badut, Menik Sithik, Ningsih Maharani, dan Dwi Yanti.
Menurut Surasa, “Geseh” menggambarkan dinamika kehidupan RT 01 Kampung Sedhut Senut di bawah kepemimpinan RT Darto. Dalam rapat akhir masa jabatannya, RT Darto menyampaikan laporan kegiatan dan keuangan kampung, dengan semangat filosofi “Dari Warga, Kembali untuk Warga”. Dana sebesar Rp127 juta berhasil terkumpul untuk berbagai kebutuhan, termasuk pemilihan RT baru, pembelian kostum jathilan Turangga Senut, dan hiburan warga.
Namun, konflik muncul saat warga berbeda pendapat tentang hiburan. Kaum ibu menginginkan piknik, sementara bapak-bapak memilih dangdutan. Setelah dilakukan voting, usulan hiburan dangdut menang.
Masalah semakin rumit ketika uang kas sebesar Rp127 juta hilang karena Pakdhe Mirkoen, bendahara RT, menjadi korban gendam di Stasiun Lempuyangan. Mbokdhe Mirkoen berjanji mengganti uang tersebut dalam setahun dengan syarat tanah warisannya di Gunungkidul terjual. Akibatnya, rencana hiburan dangdut harus ditunda tanpa batas waktu.
Pementasan ini mendapatkan dukungan dari Nasirun Studio, Djoko Tirtono (Gembira Loka), dan Toelis Semero, sehingga semakin menarik perhatian pecinta seni tradisional.
Selain menjadi hiburan, “Geseh” menyajikan kritik sosial yang relevan dan bermakna, membuktikan bahwa seni tradisional masih mampu menyuarakan persoalan masyarakat dengan cara yang menarik dan mengena. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar