Pembukaan D’Galeri 5 Jari di Karangdowo, Klaten
Klaten, jogja-ngangkring.com — Sebuah ruang seni baru hadir di Kabupaten Klaten. D’Galeri 5 Jari, yang berlokasi di Karangdowo, dibuka untuk publik pada Senin (30/12/2025), ditandai dengan pembukaan pameran lukisan tunggal kedua karya perupa Debora Rini. Pameran berlangsung hingga 2 Januari 2026 dan menjadi penanda dimulainya aktivitas galeri sebagai ruang seni, edukasi, dan perjumpaan komunitas.
Pembukaan galeri dihadiri sejumlah seniman, akademisi, tokoh masyarakat, serta jejaring perupa dari Klaten, Yogyakarta, dan Solo. Prof. Widodo Hadisaputro, S.P., M.Sc., Ph.D (UGM) membuka pameran didampingi seniman senior Klaten Haji Ansori Mozaik, Pdt. Raditya, dan para perupa lintas komunitas.

Dalam sambutannya, Prof. Widodo menegaskan bahwa seni memiliki peran penting sebagai medium kemanusiaan. Seni, menurutnya, bersifat universal, mampu merekatkan perbedaan, menjadi sarana penyembuhan, sekaligus menghadirkan nilai-nilai yang dibutuhkan dalam membangun peradaban secara lebih humanis. Ia juga berharap ruang-ruang seni lokal seperti D’Galeri 5 Jari dapat semakin diperhatikan sebagai bagian dari ekosistem sosial dan budaya.
D’Galeri 5 Jari tidak sekadar difungsikan sebagai ruang pamer. Galeri ini dirancang menjadi pusat aktivitas seni dan edukasi yang terbuka bagi pelajar, komunitas seni, dan masyarakat sekitar. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari lomba melukis, fotografi, macapat, geguritan, hingga kegiatan seni kolaboratif, terutama pada masa liburan sekolah.

Pameran pembuka di D’Galeri 5 Jari menampilkan karya-karya Debora Rini, perupa alumni ISI Surakarta yang akrab disapa Debrin. Perjalanan berkarya Debora tidak dapat dilepaskan dari peristiwa kecelakaan serius yang dialaminya pada 2017. Kecelakaan tersebut berdampak pada saraf dan penglihatan, serta memengaruhi kondisi fisik dan mentalnya secara signifikan.
Melukis kemudian menjadi jalan pemulihan. Awalnya, aktivitas ini dijalani sebagai terapi untuk menjaga kesehatan mental dan melatih kembali ketajaman rasa serta persepsi visual. Namun dalam prosesnya, melukis justru berkembang menjadi ruang refleksi dan pemaknaan hidup. Debora memaknai pengalaman tersebut sebagai proses mengelola tragedi agar berbuah transformasi.
Pada 2020, Debora kembali aktif melukis dan terlibat dalam berbagai pameran bersama. Hingga kini, ia tercatat telah mengikuti sekitar 37 pameran bersama dan dua kali menggelar pameran tunggal. Pameran tunggal pertamanya berlangsung di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, pada 2024.
Pameran di Karangdowo menjadi istimewa karena digelar di galeri yang ia bangun sendiri, dari rumah sederhana yang kemudian diolah menjadi ruang seni dan bengkel kerja. Lingkungan persawahan dan alam hijau di sekitar Karangdowo turut memberi pengaruh pada proses kreatif Debora. Dalam keterbatasan penglihatan, ia justru mengolah tangkapan visual yang terbatas menjadi ekspresi yang melampaui batas fisik. Baginya, proses berkarya adalah upaya terus-menerus menajamkan kepekaan, menjaga konsistensi, dan menemukan kembali jati diri sebagai seniman.

Selain pameran lukisan, pembukaan D’Galeri 5 Jari juga dirangkai dengan peluncuran tiga lagu ciptaan Debora Rini, yakni Jangan Kuatir, Anakku, dan Ada Waktunya. Lagu-lagu tersebut diaransemen oleh Didik Lare Desa, musisi yang pernah bergabung dengan mendiang Didi Kempot. Hingga kini, Debora telah menciptakan sekitar sepuluh lagu yang merefleksikan semangat hidup, spiritualitas, dan ketahanan pribadi.
Kehadiran D’Galeri 5 Jari diharapkan menjadi simpul baru pertemuan seniman dan masyarakat di Klaten. Dari ruang yang lahir melalui proses panjang berkarya dan bertahan, galeri ini membuka peluang kolaborasi lintas disiplin sekaligus memperluas akses publik terhadap seni dan budaya. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar