TERAS

TRIANGULASI, KETIKA ANAK DIJADIKAN PENENGAH DALAM KONFLIK ORANGTUA

  • Administrator
  • Kamis, 24 September 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
TRIANGULASI, KETIKA ANAK DIJADIKAN PENENGAH DALAM KONFLIK ORANGTUA

TRIANGULASI, KETIKA ANAK DIJADIKAN PENENGAH DALAM KONFLIK ORANGTUA

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Dalam sebuah keluarga, perbedaan pendapat antara ayah dan ibu merupakan hal yang wajar. Dua orang dewasa dengan latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda tentu tidak selalu memiliki pandangan yang sama. Konflik antara suami dan istri merupakan persoalan yang perlu diselesaikan oleh suami dan istri. Ketika anak dijadikan tempat curhat, pembawa pesan, hakim, atau sekutu, batas antara peran orang tua dan anak menjadi kabur. Persoalan muncul ketika perbedaan itu tidak diselesaikan di antara orang dewasa, tetapi justru menyeret anak ke dalam konflik. Dalam psikologi keluarga, kondisi semacam ini dikenal sebagai triangulasi. 

Triangulasi adalah pola ketika ketegangan yang terjadi di antara dua orang dialihkan atau melibatkan orang ketiga untuk meredakan, menengahi, atau menanggung konflik tersebut. Dalam keluarga, anak sering menjadi pihak ketiga yang paling mudah dilibatkan karena kedekatan emosionalnya dengan kedua orang tua.

Bentuknya bisa sangat halus. Seorang ibu meminta anak menyampaikan pesan kepada ayah karena sedang marah. Ayah menceritakan keburukan ibu kepada anak agar anak memahami "siapa yang benar". Ada pula orang tua yang bertanya, "Kamu sebenarnya lebih sayang Ibu atau Ayah?" Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak dapat menciptakan tekanan emosional yang tidak semestinya.

Masalah muncul ketika anak ditempatkan sebagai sekutu salah satu orang tua. Anak merasa harus membela ibu dari ayah atau membela ayah dari ibu. Dalam situasi perceraian, pola tersebut bahkan dapat berkembang menjadi konflik loyalitas: anak mencintai kedua orang tuanya, tetapi merasa bahwa menunjukkan kasih sayang kepada salah satu berarti mengkhianati yang lain. Padahal, anak seharusnya tidak memikul persoalan hubungan orang dewasa. 

Dampaknya tidak selalu terlihat segera. Anak mungkin menjadi pendiam, mudah cemas, merasa bersalah, atau terlalu berhati-hati dalam berbicara karena takut memperburuk keadaan. Dalam jangka panjang, keterlibatan terus-menerus dalam konflik orang tua dapat memengaruhi cara anak memahami hubungan, kepercayaan, batas pribadi, dan penyelesaian konflik.

Yang lebih berbahaya, triangulasi dapat membuat anak merasa bertanggung jawab atas keharmonisan keluarga. Ketika ayah dan ibu bertengkar, anak berusaha menjadi penengah. Ketika salah satu orang tua sedih, anak merasa harus menghibur. Anak akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa menjaga perasaan orang lain merupakan tanggung jawabnya, bahkan ketika harus mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri.

Triangulasi juga dapat muncul dalam hubungan antara orang tua dan keluarga besar. Misalnya, seorang anak diminta memusuhi kakek-nenek karena konflik orang tuanya dengan keluarga besar. Anak kemudian menerima informasi dan emosi yang seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa. Hubungan yang semestinya menjadi sumber rasa aman justru berubah menjadi arena tarik-menarik loyalitas.

Orang tua perlu membedakan antara melibatkan anak dalam keluarga dan melibatkan anak dalam konflik orang dewasa. Anak boleh mengetahui bahwa ayah dan ibu sedang memiliki perbedaan pendapat, tetapi tidak perlu mengetahui seluruh persoalan, apalagi diminta menentukan siapa yang benar.

Kalimat sederhana seperti, "Ini persoalan Ayah dan Ibu. Kamu tidak perlu memilih siapa pun. Ayah dan Ibu tetap menyayangimu," dapat memberikan rasa aman yang jauh lebih besar daripada menjadikan anak sebagai tempat mencari pembenaran.

Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah memiliki konflik. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang mampu menempatkan konflik pada tempatnya. Orang dewasa menyelesaikan persoalan orang dewasa, sementara anak tetap diberi ruang untuk menjalani dunianya sebagai anak.

Anak tidak seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan dua orang dewasa yang sedang retak. Ia juga tidak seharusnya menjadi hakim yang menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Ia membutuhkan satu hal yang sangat mendasar, kepastian bahwa ia boleh mencintai kedua orang tuanya tanpa harus memilih salah satunya.(*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

JALAN KEBERKAHAN

JALAN KEBERKAHAN

  • Selasa, 22 September 2026
PULANG

PULANG

  • Senin, 21 September 2026
SALING MEMBAHAGIAKAN

SALING MEMBAHAGIAKAN

  • Rabu, 16 September 2026