TERAS

JALAN KEBERKAHAN

  • Administrator
  • Selasa, 22 September 2026
  • menit membaca
  • 4x baca
JALAN KEBERKAHAN

JALAN KEBERKAHAN

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Orang bekerja untuk apa? Salah satu jawaban paling sederhana adalah untuk mendapatkan uang. Uang dibutuhkan untuk makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, keluarga, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. 

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memiliki banyak uang bekerja keras dengan cara yang sama. Ada yang bekerja sepanjang hari tetapi penghasilannya pas-pasan. Ada pula yang tampak tidak bekerja keras, tetapi uangnya datang dari berbagai sumber. Lalu, apa yang membedakan keduanya?

Perbedaannya tidak semata terletak pada jumlah uang yang diperoleh. Ada hal yang sering luput dari ukuran manusia, yakni keberkahan.

Berkah bukan sekadar banyaknya sesuatu, melainkan adanya kebaikan yang terus bertambah  dan membuat sesuatu itu memberi manfaat serta mencukupi. Penghasilan yang tidak terlalu besar dapat terasa cukup ketika digunakan untuk kebutuhan yang baik. Sebaliknya, penghasilan yang besar belum tentu menghadirkan ketenteraman apabila diperoleh dengan cara yang salah.

Penjemputan rezeki tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Islam mengajarkan bahwa rezeki berada dalam ketetapan Allah. Kehidupan manusia tidak berlangsung tanpa pengaturan. Sejak lahir hingga meninggal, manusia berada dalam rangkaian ketetapan yang tidak dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri. Kelahiran, kesehatan, kesempatan, pertemuan dengan orang lain, pernikahan, pekerjaan, umur, bahkan berbagai pintu rezeki yang terbuka dalam kehidupan merupakan bagian dari perjalanan yang berada dalam pengetahuan dan kehendak-Nya.

Keyakinan semacam ini bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru sebaliknya, keyakinan terhadap Allah semestinya melahirkan ikhtiar yang benar.

Manusia diberi akal, pikiran, hati, dan kemampuan untuk belajar. Karena itu, tugas manusia bukan sekadar menunggu datangnya rezeki, melainkan menjemputnya dengan cara yang baik.

Belajar sebelum bertindak, memahami pekerjaan sebelum menjalankannya, memperhitungkan risiko, mencari ilmu, dan menggunakan kemampuan secara optimal merupakan bagian dari ikhtiar.

Sumber daya manusia yang paling utama bukan hanya tenaga, tetapi juga akal budi.

Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan peluang dan jebakan. Dengan pengetahuan, seseorang dapat menentukan langkah dengan lebih hati-hati. Dengan akal budi, seseorang memahami bahwa tidak semua jalan menuju uang layak ditempuh.

Uang yang diperoleh melalui penipuan, korupsi, manipulasi, mencuri hak orang lain, atau cara-cara yang diharamkan mungkin secara kasatmata terlihat menyenangkan. Rumah besar, kendaraan bagus, rekening tebal. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi ukuran keberhasilan hidup tidak berhenti pada apa yang terlihat.

Kebudayaan Jawa dikenal ungkapan “pasok tukon”, sebuah gambaran tentang adanya konsekuensi atau harga yang harus dibayar dari suatu perbuatan. Apa yang diperoleh dengan cara yang tidak benar pada akhirnya dapat membawa persoalan yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Bentuk dan waktunya tidak selalu dapat dipastikan. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa akibatnya pasti menimpa anak atau keturunan tertentu.

Secara moral, perbuatan manusia memang memiliki konsekuensi, baik terhadap dirinya sendiri, keluarganya maupun lingkungan sosialnya. Harta yang diperoleh secara tidak halal juga dapat mengubah cara seseorang menjalani kehidupan. Ketika cara memperoleh harta sudah mengabaikan batas benar dan salah, kebutuhan dapat berubah menjadi keserakahan. Keinginan untuk mempertahankan kekayaan dapat membuat seseorang terus melakukan cara yang sama. 

Niat mencari uang dapat diperbudak oleh uang. Bekerja bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan pendapatan. Bekerja adalah bagian dari ikhtiar manusia dalam menjalani amanah kehidupan.

Ada bagian yang menjadi wilayah manusia: belajar, bekerja, berusaha, memilih jalan, menjaga kejujuran, memperbaiki kemampuan, dan mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya. Ada pula wilayah yang berada di luar kendali manusia: hasil akhir, waktu datangnya rezeki, pertemuan dengan orang tertentu, perubahan keadaan, bahkan berapa lama seseorang dapat menikmati apa yang dimilikinya.

Di antara dua wilayah itu ada tawakal. Tawakal bukan menyerahkan semuanya tanpa usaha. Tawakal adalah bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, lalu menyadari bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada di tangan manusia.

Karena itu, seseorang tidak perlu iri terhadap rezeki orang lain. Jalan kehidupan setiap manusia berbeda. Ada yang cepat mendapatkan pekerjaan, ada yang harus menunggu. Ada yang membangun usaha bertahun-tahun sebelum berhasil. Ada yang mendapatkan banyak uang tetapi menghadapi persoalan lain yang tidak terlihat. Ada pula yang penghasilannya sederhana, tetapi kehidupannya terasa cukup dan keluarganya tenteram.

Rezeki tidak selalu berbentuk uang. Kesehatan adalah rezeki. Ilmu adalah rezeki. Keluarga adalah rezeki. Kesempatan memperbaiki kesalahan adalah rezeki. Dipertemukan dengan orang-orang baik adalah rezeki. Bahkan kemampuan untuk mengenali bahwa suatu jalan itu salah lalu memilih untuk meninggalkannya juga merupakan bentuk nikmat yang tidak selalu disadari. Yng perlu dikejar bukan sekadar banyaknya rezeki, melainkan baiknya jalan menuju rezeki.

Manusia tidak mengetahui seluruh rancangan hidupnya. Yang dapat dilakukan adalah menjalankan bagian yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Gunakan akal untuk belajar. Gunakan ilmu untuk menentukan langkah. Gunakan tenaga untuk bekerja. Gunakan hati untuk menjaga niat. Dan gunakan iman untuk memastikan bahwa jalan yang ditempuh tetap berada dalam batas yang diridai Allah.

Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan harta. Yang lebih penting adalah apakah harta itu membawa kebaikan, mencukupi kebutuhan, memberi manfaat kepada orang lain, dan dapat dipertanggungjawabkan ketika seluruh perjalanan hidup selesai. (Y)

Tags: Berkah

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

JALAN KEBERKAHAN

JALAN KEBERKAHAN

  • Selasa, 22 September 2026
PULANG

PULANG

  • Senin, 21 September 2026
SALING MEMBAHAGIAKAN

SALING MEMBAHAGIAKAN

  • Rabu, 16 September 2026