TERAS

Peringati 201 Tahun Perang Diponegoro "Hidupkan Kembali Spirit Perjuangan"

  • Administrator
  • Kamis, 16 Juli 2026
  • menit membaca
  • 7x baca
Peringati 201 Tahun Perang Diponegoro

Peringatan 201 Tahun Perang Diponegoro "Hidupkan Kembali Spirit Perjuangan"

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com – Komunitas Jaringan Masyarakat Peduli Budaya Mahasabha Purbakala akan menyelenggarakan Peringatan 201 Tahun Perang Jawa (Perang Diponegoro) pada Minggu (19/7/2026) mulai pukul 18.25 WIB di DC Café Reborn, Jalan Damai No. 5A, Palagan, Sariharjo, Sleman. Kegiatan ini mengusung tema "Meluruskan Kembali Arah Perjalanan Bangsa Berbasis Spirit Perjuangan Pangeran Diponegoro".

Persiapan kegiatan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak. Sejumlah aktivis Mahasabha Purbakala dari beragam latar belakang keilmuan dan minat berdiskusi bersama jajaran Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Diskusi tersebut juga dihadiri arkeolog Prof. Dr. Inajati Adrisijanti serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X DIY, Dr. Nahar Cahyandaru, sebagai bentuk sinergi dalam menghadirkan peringatan sejarah yang memiliki nilai akademis, kultural, dan edukatif bagi masyarakat.

Acara tersebut dirancang tidak hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai ruang refleksi kebangsaan. Sejumlah tokoh pemerintahan, budayawan, akademisi, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum dijadwalkan hadir. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dikonfirmasi akan menyampaikan pidato kunci mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan Diponegoro dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa saat ini.

Ketua penyelenggara, Hary Sutrasno, menjelaskan bahwa Perang Jawa yang pecah pada 20 Juli 1825 merupakan salah satu perang terbesar dalam sejarah kolonial Hindia Belanda. Perang yang berlangsung selama lima tahun tersebut menelan lebih dari tujuh ribu korban di pihak Belanda serta menguras sekitar sepertiga anggaran Kerajaan Belanda.

"Perang Diponegoro adalah peristiwa dahsyat yang hampir membangkrutkan pemerintah kolonial. Jika dikonversikan dengan nilai ekonomi saat ini, biaya perang tersebut dapat mencapai lebih dari tiga ribu triliun rupiah, hampir setara dengan APBN Indonesia tahun 2026," ujar Hary.

Hary menyampaikan bahwa kondisi sosial yang melatarbelakangi lahirnya Perang Jawa masih memiliki relevansi dengan situasi bangsa saat ini. Sebagian masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang membatasi akses terhadap kesejahteraan, meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.

"Diponegoro menunjukkan teladan seorang pemimpin yang telah selesai dengan kepentingan dirinya sendiri. Ia meninggalkan kenyamanan hidup demi memperjuangkan rakyat. Nilai inilah yang perlu dihidupkan kembali sebagai inspirasi bagi seluruh anak bangsa," katanya.

Rangkaian acara akan diawali dengan pementasan fragmen penangkapan Pangeran Diponegoro, dilanjutkan sarasehan dan dialog interaktif. Keturunan Pangeran Diponegoro, Rahadi Saptata Abra, akan mengulas aspek historis perjuangan Diponegoro. Arkeolog dan budayawan M. Basir Zubair membahas dimensi spiritual Perang Jawa, sedangkan guru sejarah Mukhtar menguraikan nilai-nilai Perang Jawa bagi generasi muda. Selain itu, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko dijadwalkan menyampaikan pandangannya mengenai implementasi semangat Diponegoro dalam mewujudkan tujuan bernegara.

Pada sesi seni budaya akan ditampilkan Repertoar Awangan Erucakra oleh Icuk Munandar dan Kubroglow, dilanjutkan pertunjukan musik bertema kerakyatan oleh Heri Samsara dan Agung Dahono. Acara ditutup dengan pengantar sekaligus lelang karya bertema Diponegoro oleh perupa Rudi Winarso untuk tujuan donasi. Seluruh pertunjukan dikemas oleh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dari berbagai program studi.

Arkeolog dan budayawan M. Basir Zubair menilai peringatan ke-201 memiliki makna simbolik yang lebih mendalam dibandingkan peringatan dua abad Perang Jawa.

"Angka 201 adalah saat gegap gempita peringatan telah mereda. Yang tersisa adalah pertanyaan bagi generasi sekarang: apa yang benar-benar dapat diwarisi dari Perang Jawa 1825–1830, dan apakah nilai perjuangan Diponegoro masih relevan bagi Indonesia hari ini?"

Menurut Basir, sarasehan tersebut bukan sekadar seremoni sejarah, melainkan ruang akademik untuk membaca kembali Perang Jawa secara kritis.

"Diponegoro bukan hanya milik masyarakat Jawa. Ia adalah milik setiap bangsa yang pernah dihadapkan pada pilihan antara tunduk atau melawan ketidakadilan. Dan ia memilih melawan, meski mengetahui harga yang harus dibayar."

Kolaborasi unsur pemerintah, akademisi, budayawan, komunitas, dan generasi muda, penyelenggara berharap peringatan 201 Tahun Perang Diponegoro tidak hanya menjadi agenda mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum membangun kembali kesadaran kebangsaan yang berpijak pada nilai keberanian, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar