Makna Sukses: Belajar dari Hannah, Ibunda Maryam
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com –
وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Wa innī u'īżuhā bika wa żurriyyatahā minasy-syaithānir-rajīm.
"Dan sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan keturunannya dari godaan setan yang terkutuk." (QS. Ali 'Imran: 36)
Di tengah arus modernitas, makna sukses sering dipersempit menjadi ukuran materi, prestasi, jabatan, atau popularitas. Orang tua berlomba mempersiapkan anak agar mampu memenangkan persaingan hidup. Namun, di balik semua usaha itu, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: untuk apa Allah menghadirkan seorang anak ke dunia?
Al-Qur'an memberikan jawabannya melalui kisah Hannah, ibunda Maryam. Bahkan sebelum Maryam lahir, Hannah telah bernazar agar anak yang dikandungnya dipersembahkan untuk mengabdi kepada Allah. Nazar itu bukan lahir dari ambisi dunia, melainkan dari kesadaran bahwa setiap anak adalah amanah yang harus diarahkan sesuai tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah.
Ketika bayi yang lahir ternyata perempuan, Hannah tetap menerima ketetapan Allah dengan penuh keimanan. Doa pertamanya pun bukan memohon kekayaan, kecerdasan, atau kedudukan. Ia justru memohon agar Maryam dan keturunannya dilindungi dari godaan setan. Doa ini menunjukkan bahwa keberhasilan terbesar bukanlah menguasai dunia, melainkan menjaga diri tetap berada di jalan Allah.
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Akal, ilmu, harta, kekuasaan, dan berbagai kemampuan hanyalah sarana untuk menjalankan pengabdian tersebut. Ketika tujuan hidup bergeser hanya mengejar dunia, berbagai keberhasilan justru dapat menjauhkan seseorang dari kebahagiaan akhirat.
Anak harus dipandang sebagai amanah, bukan sekadar aset. Amanah adalah titipan yang harus dijaga sesuai kehendak Pemiliknya. Orang tua berkewajiban membimbing anak berdasarkan nilai-nilai yang Allah tetapkan, bukan semata mengikuti ambisi atau harapan pribadi.
Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menjadikan anak sebagai pelengkap cita-cita yang belum tercapai. Anak didorong mengejar profesi tertentu atau memenuhi standar keberhasilan keluarga. Padahal, pendidikan yang paling utama adalah membentuk pribadi yang tetap menjaga fitrah, berakhlak mulia, dan semakin dekat kepada Allah.
Doa Hannah mengajarkan bahwa ancaman terbesar bagi seorang anak bukanlah kemiskinan atau keterbatasan, melainkan ketika setan berhasil mengalihkan orientasi hidupnya kepada hawa nafsu, harta, kekuasaan, dan pujian manusia. Karena itu, memohon perlindungan dari godaan setan berarti memohon agar fitrah seorang hamba tetap terjaga.
Sukses perlu dimaknai kembali. Anak yang berhasil bukan hanya yang berprestasi, tetapi yang mengenal Tuhannya. Bukan sekadar kaya, tetapi menjadikan hartanya sebagai jalan ibadah. Bukan hanya memiliki jabatan, tetapi mampu menjalankan amanah dengan jujur dan adil. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang semakin dekat kepada Allah.
Doa ibunda Maryam mengingatkan bahwa tugas terbesar orang tua bukan menciptakan anak yang dikagumi manusia, melainkan mengantarkan amanah Allah kembali kepada-Nya dalam keadaan tetap menjaga fitrahnya. Sebab, sebaik-baik penerima amanah adalah mereka yang mengelolanya sesuai kehendak Sang Pemberi Amanah.
Jika kesadaran ini menjadi fondasi keluarga, ukuran keberhasilan pun akan berubah. Orang tua tidak lagi hanya bertanya, "Anakku kelak akan menjadi apa?" tetapi juga bertanya, "Apakah anakku sedang tumbuh menjadi hamba Allah yang mengenal, mencintai, dan taat kepada-Nya?"
Dari pertanyaan itulah pendidikan menemukan arah yang benar, karena tujuan akhir kehidupan bukan menjadi yang paling hebat di dunia, melainkan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan amal yang diridhai. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar