Sleman, jogja-ngangkring.com - Minimnya minat anak muda terjun ke dunia pertanian menjadi kenyataan yang umum. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik untuk bekerja di kantor. Namun, Janu Muhammad memilih jalur berbeda. Sejak masih sekolah, ia menunjukkan minatnya pada dunia pertanian. Bahkan setelah meraih gelar S2 dari University of Birmingham (UoB) dengan jurusan Research in Human Geography, Janu tetap setia mengabdikan diri dalam dunia pertanian.
Saat ini, Janu fokus pada usaha sayur online. Terinspirasi dari orangtuanya yang sehari-hari berprofesi sebagai petani dan pedagang sayur di Pasar Sleman, Janu mengembangkan aplikasi Sayur Sleman. Dorongan untuk melakukan terobosan ini muncul ketika melihat dagangan orangtuanya sepi pembeli.
''Saya mencoba untuk memasarkan berbagai jenis sayur, buah, dan lauk secara daring melalui Instagram @sayursleman.id dan WhatsApp bersama istri. Tak terduga, pelanggan pertama datang dari tetangga sekitar yang mengetahui Sayur Sleman melalui akun Instagram tersebut. Pesanan terjauh yang pernah kami layani berasal dari Klaten dan Bantul,'' ungkap Janu.
Selain berbisnis, Janu juga memiliki program bernama Sayur Sleman Berbagi, yang bertujuan menyalurkan sedekah dari para donatur kepada masyarakat yang kurang mampu. Program ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 300 orang. Selain itu, ada program Sayur Sleman Bertani yang memberikan edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat di RT 34, Tegalrejo, Yogyakarta.
''Di sana, kami juga memberikan pendampingan untuk urban farming dan budidaya ikan nila. Dengan dukungan pendanaan dari UNDP Accelerator Lab Indonesia dan Ecoxyztem, program ini dapat berjalan dengan lancar,'' kata Janu, yang mendapatkan beasiswa LPDP selama menempuh S2. Dana hibah UNDP juga mendorongnya untuk membuat website www.sayursleman.id guna mempermudah proses bisnis Sayur Sleman. Terakhir, ada program Sayur Sleman Academy yang bertujuan untuk mencetak lebih banyak wirausaha muda di sektor pertanian, sejalan dengan target Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Janu mengakui bahwa minat anak muda terhadap pertanian masih kurang. Meski begitu, menurutnya, potensi di bidang tersebut sangat besar. Ia menekankan bahwa pangan merupakan kebutuhan sehari-hari, sehingga permintaan selalu ada.
Di tengah kesibukannya, Janu juga aktif memberikan pelatihan agribisnis kepada petani milenial dan kelompok tani. Meskipun bukan lulusan sarjana pertanian, ia membuktikan bahwa dengan kemauan, belajar, inovasi, kerja keras, kolaborasi, dan doa, seseorang dapat sukses berkiprah dalam dunia pertanian. (tor/*)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar