Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Arita Savitri, seorang seniman multitalenta kelahiran Medan pada 4 Januari 1968, menemukan kesembuhan dan ungkapan diri melalui seni, terutama melukis. Dalam perbincangan dengan jogja-ngangkring, Arita membagikan pengalaman hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan pencarian jati diri melalui karya-karya seninya.
Pengenalan Arita terhadap seni bermula dari keluarganya, yang memiliki cinta mendalam pada musik. Ayahnya secara aktif memperkenalkannya pada berbagai genre musik sejak usia dini, dan Arita mulai belajar not balok dan bermain piano pada usia empat tahun. Meskipun menghadapi tantangan dengan piano tua yang sulit dimainkan, Arita tetap gigih untuk menguasai alat musik tersebut. Seiring berjalannya waktu, Arita menggeluti dunia musik dengan serius, termasuk tampil di forum musik internasional dan meraih beasiswa untuk pendidikan musik di Jerman.
Namun, hidup Arita tidak selalu mulus. Selama masa sekolah di SMM Yogya, dia mengalami perundungan. Di tengah tekanan tersebut, seorang dokter memberikan vonis bahwa dia terkena Carpal Tunnel Syndrome, mengakhiri kemampuannya untuk bermain piano. Semua kekecewaan dan kesedihan tersebut diungkapkan Arita melalui seni kertas dan eksperimen dengan gunting. Awalnya menciptakan paper cutting dengan motif-motif tribal, karya-karya Arita semakin berkembang dan terlihat semakin halus. Dia telah menggelar tiga pameran tunggal di Jakarta, mendapat undangan untuk pameran di Tembi Rumah Budaya, dan menerima penghargaan Karya Unggulan untuk Jenis Kayu-kayuan dari DEKRANAS.
“Akibat perundungan di sekolah, kondisi mental saya menjadi 'down'. Ada kalanya saya tidak mampu mengungkapkan perasaan atau menyalurkan emosi negatif dengan baik. Berkesenian menuntun saya membaik sekaligus bisa mengekspresikan diri secara positif.”
Berkesenian sejak kecil, namun untuk melukis, barutiga tahun ini ditekuninya. Bermula dari Royal House, kala itu Arita diajak pelukis Bambang Haryana untuk mengikuti acara melukis bersama dan berkenalan dengan pelukis senior Chamit Arang dan Ibu Maria. “Mereka lah yang mensupport saya secara moril untuk terus mengembangkan diri dengan cara melukis.” Beberapa pameran lukisan telah diikuti Arita, diantaranya “Blessing of the earth”, pameran bersama Komunitas “Gores Warna’ yang dilaksanakan pada Desember 2023 dalam rangka memperingati Hari Ibu.
Arita menyukai segala bentuk seni yang dijalaninya, baik musik, paper cutting, maupun melukis. Baginya, semua kegiatan tersebut memberikan kejutan dan dinamika luar biasa dalam setiap karyanya. Melalui perjalanannya, dia telah mengatasi kondisi psikologisnya dan berhasil sembuh dari diagnosis bipolar, membuktikan bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga terapi yang efektif untuk mengatasi kesulitan hidup dan mengekspresikan keunikan diri. (yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar