ALUMNI FISIPOL UGM 1991 BANTU ATASI KEKERINGAN DI GUNUNGKIDUL
GUNUNGKIDUL, jogja-ngangkring.com – Kekeringan yang berulang setiap tahun masih menjadi persoalan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul. Menghadapi persoalan tersebut, Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) Angkatan 1991 mengambil langkah nyata melalui penyaluran air bersih dan rencana pembangunan sumur bor artesis.
Aksi kemanusiaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, tersebut merupakan bagian dari program Tanggap Kemanusiaan dan Bencana. Mengusung semangat “Tatas, Titis, Tetes”, kegiatan ini diarahkan untuk memberikan bantuan secara cepat, tepat sasaran, sekaligus menghadirkan solusi yang berkelanjutan.
Dua lokasi menjadi sasaran kegiatan. Di Dukuh Slametan, Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, prioritas pada pembangunan sumur bor artesis untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Sekitar 60 kepala keluarga di wilayah tersebut selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan air. Warga bahkan harus mengandalkan sumur bor pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penggunaan sumber air tersebut telah melampaui kapasitas yang semestinya dan berisiko sewaktu-waktu tidak lagi dapat dimanfaatkan. Karena itu, pembangunan sumber air mandiri menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat.
Perwakilan panitia, Endang Sri Wahyuni, mengapresiasi inisiatif dan kemandirian warga Dukuh Slametan. Menurutnya, masyarakat telah menunjukkan kesungguhan dengan mengumpulkan dana swadaya dan membentuk kepengurusan secara mandiri. Partisipasi warga tersebut menjadi modal penting untuk memastikan fasilitas air bersih nantinya dikelola dan dimanfaatkan bersama.
Untuk menjawab kebutuhan yang lebih mendesak, alumni juga menyalurkan bantuan air bersih melalui dropping tangki di Dusun Trosari 1. Koordinator penyaluran, Arkham Efendi, menjelaskan bahwa distribusi dilakukan agar warga yang mengalami kesulitan air dapat segera memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bantuan air tangki menjadi langkah penanganan sementara, sedangkan pembangunan sumur artesis di Dukuh Slametan diharapkan menjadi solusi jangka panjang. Kedua langkah tersebut dirancang agar penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi juga memperkuat ketersediaan sumber air bagi masyarakat.
Perwakilan alumni, Nuning Hapsari, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud tanggung jawab sosial alumni terhadap lingkungan sekitar. Kedekatan geografis Gunungkidul dengan Kampus UGM di Bulaksumur menjadi salah satu alasan kuat bagi alumni untuk ikut berkontribusi dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan kekeringan.
Aspek teknis pembangunan sumur juga menjadi perhatian panitia. Arif Wibowo dari bidang survei lapangan menjelaskan bahwa penentuan titik pemboran dilakukan melalui kajian kondisi geologi dan kelayakan lokasi. Survei mencakup perkiraan kedalaman lapisan batuan, potensi debit air, serta pertimbangan kualitas air berdasarkan standar kesehatan lingkungan. Melalui pendekatan tersebut, pembangunan sumur diharapkan menghasilkan sumber air yang dapat diandalkan dalam jangka panjang. Keterlibatan warga sejak tahap awal juga menjadi bagian penting agar sarana yang dibangun dapat dikelola secara berkelanjutan.
Gerakan alumni Fisipol UGM 1991 ini memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan membutuhkan penanganan berlapis. Bantuan air bersih diperlukan untuk menjawab kebutuhan mendesak, sementara penyediaan infrastruktur air menjadi investasi penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan setiap musim kemarau. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar