DOLAN JAJAN

Reunian Menyusur Labirin Jagalan, Kotagede

  • Administrator
  • Kamis, 02 Mei 2024
  • menit membaca
  • 234x baca
Reunian Menyusur Labirin Jagalan, Kotagede

Reunian Menyusur Labirin Jagalan, Kotagede

Bantul, jogja-ngangkring.com - Lorong lebar 50 centimeter sepanjang sekitar 100 meter itu berkelok pada tiap beberapa puluh meter.  Diapit tembok tebal setinggi 10 meter, cukup untuk seseorang  berjalan kaki atau mengayuh pelan bila mengendarai sepeda mini. Ketika berpapasan dengan orang, terpaksa harus memiringkan badan. Tentu saja hal itu tidak berlaku bagi mereka yang memiliki tubuh jauh lebih besar di atas rata-rata umumnya orang Jogja. Bila hal itu terjadi, maka salah satu harus mengalah, putar balik ke tempat yang lebih lapang sembari menunggu jalanan lengang.  Itulah salah satu  lorong labirin yang masih tersisa di kota tua Kotagede, tepatnya di Kampung Krintenan, Celenan, Jagalan, Banguntapan, Bantul, DIY. 

Secara keseluruhan, ada sekitar 10 ruas lorong labirin di Desa Jagalan.  Ada yang berukuran lebih lebar,  yaitu satu meter. Menyusuri  labirin-labirin sempit di antara pemukiman penduduk itu  merupakan salah satu daya tarik bagi pelancong untuk berwisata di Kotagede.

 

Pada hari Minggu (28/4/24), tigapuluh orang alumni SD Muhammadiyah Bodon, Kotagede, yang lulus tahun 1983 melakukan reuni sekaligus mengenang masa-masa bersekolah dengan menyusuri labirin dan bangunan heritage di sekitar sekolahan.  SD Muhammadiyah Bodon merupakan salah satu sekolah tertua di Jogja, berdiri satu abad lalu yaitu pada tahun 1924. Di desa Jagalan terdapat puluhan bangunan joglo dan limasan khas Kotagede buatan tahun 1800 - 1900 yang sebagian besar diantaranya masih terjaga dengan baik.  Selain arsitektur tradisional, pada beberapa titik di Kotagede juga terdapat bangunan dengan pengaruh Eropa yang sangat kental, misalnya pada rumah  peninggalan Menteri Agama RI Prof. Dr. HM. Rosyidi, rumah Rudi Pesik, serta Omah Dhuwur. 

Untuk melindungi agar joglo Kotagede tidak dijual dan dibawa keluar daerah maka pemerintah DIY menetapkan sejumlah kebijakan agar cagar budaya di area berdirinya Keraton Mataram Islam itu tidak punah dan tetap terjaga. Begitupun dengan gedung tua bergaya Eropa penuh ataupun perpaduan gaya Jawa dan Eropa, keberadaannya dilindungi pihak pemerintah dengan menjaga keaslian bangunan utamanya. 

 

Selain sebagai ibukota pertama Mataram Islam, Kotagede pernah berjaya dengan kerajinan peraknya. Karena itu tidaklah mengherankan bila peninggalan bangunan lama di Kotagede sangat berkelas, baik yang menggunakan materi kayu jati ataupun materi lainnya seperti logam dan kaca. Meski kejayaan perak sudah berlalu sejak tahun 1940an, namun hingga kini Kotagede masih dikenal sebagai sentra pengrajin perak. Labirin Kotagede, bagian dari dinamika sebuah kota tua yang indah dan sangat layak untuk dikunjungi. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar