DARI WAYANG KE WEDANG
Agus Nuryanto, A.Md.
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Beberapa orang beranggapan bahwa seniman itu sering semau sendiri, idealis tapi tidak professional, sehingga berimbas pada buruknya relasi atau lemahnya ekonomi. Hal itu terpatahkan bila bertemu Agus Nuryanto, salah satu sosok seniman yang berhasil menggabungkan dunia seni dan bisnis. Pria kelahiran Wates 17 Agustus 1970 alumnus SMSR Jogja dan ISI Solo ini memulai karier sebagai desainer grafis tanpa meninggalkan hobi melukis. “Setiap pulang kerja, meski hanya 15 menit, saya selalu menyempatkan diri menggores kanvas, entah membuat sketsa atau menyapukan kuas.”
Belasan tahun bekerja di satu tempat, Agus merasakan kebosanan. Keinginan untuk keluar dari rutinitas itu muncul sejak tahun 2005 dan pernah terbesit ingin dilaksanakan pada tahun 2010. Namun ia belum juga menemukan alternatif jalan rezeki. Peluang itu akhirnya muncul pada 2019, ketika ia mulai menjual kopi Lampung, terinspirasi oleh kebiasaan teman-teman senimannya yang gemar begadang sambil ngopi. Untuk melengkapi jualannya, Agus mencoba menjadi reseller wedang uwuh. "Saya melihat potensi wedang uwuh lebih menjanjikan, sehingga akhirnya saya memutuskan fokus di sana."
Tahun 2020 menjadi titik balik besar bagi Agus. Ia meninggalkan pekerjaannya dan sepenuhnya beralih mengembangkan bisnis wedang uwuh, yang ia beri nama Djewery. Awalnya, usaha ini dijalankan tanpa memikirkan aspek legalitas atau branding. Namun, pada tahun kedua, Agus mulai membangun relasi, mengikuti berbagai pelatihan, dan memahami pentingnya izin usaha. Ia pun segera mengurus perizinan dan mendaftarkan merek dagangnya untuk melindungi produknya dari plagiarisme.
Hasilnya mulai terlihat di tahun ketiga. Produk Djewery sudah masuk pasar konsinyasi di berbagai toko oleh-oleh. Kini, di tahun kelima, Djewery telah hadir di 53 titik toko oleh-oleh, dengan produksi harian minimal 30 paket, yang bisa melonjak hingga tiga kali lipat saat permintaan meningkat, terutama dari pelanggan di luar sistem konsinyasi.
Relasi itu penting dalam bisnis. Melalui Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), saya banyak belajar dan memperluas jaringan.
Meski kini fokus utamanya adalah bisnis, Agus tetap meluangkan waktu untuk berkesenian. Saat ini, pembagian waktunya 90% untuk Djewery dan 10% untuk seni. “Dulu, satu lukisan dekoratif dengan gaya sungging pengerjaannya 1-2 bulan. Sekarang, saya beralih pada karya yang lebih sederhana namun tetap membawa pesan humanisme yang relevan dengan isu sosial.”
Agus Wayang, demikian kalangan seniman memanggilnya, memiliki sebuah impian besar yaitu menggabungkan dunia seni dan bisnis dalam sebuah toko visual. “Harapan saya, toko ini nantinya menjadi tempat di mana pengunjung bisa menikmati wedang uwuh sambil menyaksikan karya seni. Sebuah kombinasi antara galeri seni dan ruang nongkrong.”
Ketekunan Agus dalam menjaga keseimbangan antara seni dan membuktikan bahwa sinergi antara seni dan bisnis bisa menjadi kekuatan besar. Wayang dan wedang, seni dan bisnis , adalah bukti dedikasi Agus yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar