TERAS

Gawai, Ruang Sosial Baru Generasi Baby Boomer

  • Administrator
  • Sabtu, 29 Agustus 2026
  • menit membaca
  • 23x baca
Gawai, Ruang Sosial Baru  Generasi Baby Boomer

Gawai, Ruang Sosial Baru  Generasi Baby Boomer

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Dasawarsa lalu, pagi hari dimulai dengan koran di meja, radio atau televisi yang menyala, secangkir kopi, lalu percakapan dengan tetangga atau teman kerja. Informasi datang secara perlahan, melewati jeda, ruang, dan proses perbincangan. Kini, sebuah telepon genggam dapat menghadirkan puluhan kabar sebelum sarapan selesai. Satu pesan masuk, disusul video, tautan, gambar, komentar, dan berbagai informasi yang berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain. Dunia seolah datang sekaligus ke dalam genggaman.

Perubahan itu tidak hanya dialami anak-anak dan generasi muda. Kelompok yang sebelumnya relatif berada di luar ekosistem digital kini semakin aktif menjadi bagian di dalamnya. Generasi baby boomer, mereka yang berusia enam dasawarsa bahkan lebih, semakin akrab dengan telepon pintar, media sosial, dan terutama WhatsApp. Bagi sebagian dari mereka, aplikasi tersebut bahkan telah berkembang jauh melampaui fungsi komunikasi. WhatsApp menjadi tempat bertukar kabar, berdiskusi, mengenang masa lalu, mencari informasi, mengikuti perkembangan politik, berbagi nasihat kesehatan, hingga membangun kembali jejaring pertemanan yang sempat terputus selama puluhan tahun. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan perubahan tersebut.

Pada 2024, sekitar 26,42 persen lansia Indonesia pernah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2020 yang berada pada 11,44 persen. Hampir separuh lansia, 49,27 persen, juga telah menggunakan telepon seluler. Akses teknologi paling banyak dinikmati kelompok lansia muda berusia 60–69 tahun. Angka tersebut memang belum menunjukkan bahwa mayoritas lansia telah menjadi pengguna internet aktif. Batas antara generasi yang tumbuh bersama teknologi digital dan generasi yang baru mengenalnya ketika dewasa semakin tipis. Telepon genggam tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi. Ia mulai mengambil tempat dalam struktur kehidupan sehari-hari.

Kekhawatiran terhadap dampak media sosial selama ini banyak diarahkan kepada anak-anak. Orang tua diminta mengawasi durasi penggunaan gawai, jenis tontonan, permainan, hingga pergaulan digital. Pendekatan tersebut penting, namun  siapa yang mengawasi orang tua ketika mereka memasuki ruang digital?

Pertanyaan itu semakin relevan karena persoalan digital pada kelompok usia lanjut tidak selalu berbentuk kecanduan dalam pengertian sederhana. Perubahannya bisa lebih subtil. Waktu untuk membaca pesan menjadi lebih panjang. Percakapan keluarga sesekali terganggu oleh notifikasi. Pertemuan dengan teman dapat berubah menjadi aktivitas memeriksa grup. Berita yang belum tentu benar ikut menjadi bahan percakapan sehari-hari. Bahkan rasa cemas terhadap suatu ancaman dapat tumbuh hanya karena seseorang berulang kali menerima pesan mengenai bahaya yang sama.

Dalam psikologi, paparan berulang memiliki pengaruh terhadap cara manusia memproses informasi. Sesuatu yang berkali-kali muncul dapat terasa semakin familier. Masalahnya, familiaritas tidak sama dengan kebenaran. Informasi yang terus muncul dalam sebuah grup dapat memperoleh kesan kredibel bukan karena telah diverifikasi, melainkan karena disampaikan berkali-kali oleh orang-orang yang dikenal.

American Psychological Association menjelaskan bahwa manusia sering kali menerima informasi terlebih dahulu dengan berusaha memahami maknanya, bukan langsung memeriksa akurasinya. Informasi yang salah tetapi terdengar masuk akal dapat dipelajari sebagai fakta. Faktor seperti kecemasan, pengulangan, emosi, identitas, serta cara seseorang memproses informasi ikut memengaruhi kerentanan terhadap misinformasi.

Ada karakteristik khusus yang membuat WhatsApp menarik untuk melihat fenomena ini. Media sosial terbuka mempertemukan seseorang dengan orang yang tidak dikenal. WhatsApp, sebaliknya, sering kali membawa seseorang ke dalam ruang yang sudah memiliki hubungan sosial sebelumnya. Sebuah grup alumni sekolah, misalnya, dapat mempertemukan kembali orang-orang yang pernah duduk di kelas yang sama lima puluh tahun lalu. Grup teman sekantor menghidupkan kembali relasi setelah pensiun. Kelompok keluarga besar menjadi tempat bertukar kabar setiap hari. Dalam ruang semacam itu, pesan tidak datang dari sumber anonim. Ia datang dari “Pak Budi”, “Bu Siti”, teman sekelas, saudara, mantan kolega, atau seseorang yang telah dikenal selama puluhan tahun.

Kedekatan sosial menghasilkan modal kepercayaan. Sebuah informasi yang dikirim oleh teman lama cenderung diperlakukan berbeda dibandingkan informasi yang muncul dari akun anonim. Penerima tidak hanya membaca isi pesan, tetapi secara tidak sadar juga mempertimbangkan siapa yang mengirimkannya. Hubungan interpersonal dapat menjadi semacam legitimasi sosial terhadap informasi. Grup WhatsApp akhirnya menyerupai sebuah ruang sosial digital berbasis kesamaan pengalaman. Mereka memiliki sejarah, bahasa, nostalgia, referensi budaya, bahkan pandangan hidup yang relatif berdekatan. Kondisi seperti ini memiliki sisi positif karena mempertahankan kohesi sosial. Namun, ia juga dapat membentuk echo chamber, yaitu lingkungan komunikasi ketika pandangan serupa terus berulang sementara informasi korektif dari luar semakin jarang masuk.

Psikologi komunikasi digital menunjukkan bahwa informasi yang sesuai dengan identitas atau keyakinan seseorang, memiliki muatan emosional, atau terasa baru lebih mudah dibagikan. Lingkungan media sosial juga memungkinkan informasi bergerak cepat dari satu orang ke orang lain tanpa melalui mekanisme penyuntingan seperti pada media massa konvensional.

Salah satu kekeliruan yang perlu dihindari adalah menganggap seseorang menyebarkan hoaks karena tidak cerdas. Persoalannya jauh lebih rumit. Seseorang dapat membagikan informasi palsu justru karena merasa sedang melakukan tindakan yang benar. Pesan mengenai penipuan, penyakit, penculikan, bencana, ancaman keamanan, perubahan kebijakan pemerintah, atau bantuan sosial mungkin diteruskan dengan niat memperingatkan orang lain.

“Sebarkan agar semua tahu.”

Kalimat semacam itu memperlihatkan bahwa penyebaran informasi tidak selalu digerakkan oleh keinginan menipu. Ada mekanisme psikologis berupa altruistic sharing, keinginan melindungi orang lain.

Persoalannya muncul ketika niat baik tidak disertai verifikasi. Kecemasan juga dapat mempercepat proses tersebut. Informasi yang menimbulkan rasa takut memperoleh perhatian lebih besar karena otak manusia memang memiliki kecenderungan memberi prioritas terhadap sesuatu yang dianggap mengancam. Ketika sebuah pesan terasa mendesak, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memeriksa kebenarannya dapat berkurang. Itulah sebabnya hoaks tidak harus selalu terdengar meyakinkan. Cukup dibuat mendesak, emosional, dan relevan dengan kehidupan penerimanya.

Pada 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital beberapa kali menemukan hoaks yang menggunakan video dan suara hasil manipulasi AI, termasuk klaim bantuan pemerintah bagi pensiunan maupun lansia. Pada salah satu kasus, suara dalam video bahkan terindikasi kuat dihasilkan oleh teknologi AI. Artinya, tantangan generasi yang lebih tua tidak berhenti pada kemampuan membedakan berita benar dan salah. Mereka menghadapi lingkungan informasi yang secara teknologis semakin sulit diverifikasi. Jika dahulu sebuah foto atau video dianggap sebagai bukti kuat, era deepfake dan AI generatif membuat asumsi tersebut tidak lagi memadai.

Pendidikan digital bagi generasi baby boomer tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi. Yang diperlukan adalah literasi psikologis dalam menghadapi informasi. Mereka perlu memahami mengapa informasi tertentu membuat takut, marah, terharu, atau merasa harus segera meneruskannya. Mereka perlu mengetahui bahwa rasa akrab terhadap sebuah kabar tidak menjadikannya benar. Mereka juga perlu menyadari bahwa banyaknya orang dalam sebuah grup yang mempercayai suatu informasi bukan merupakan bukti validitas informasi tersebut. Sebuah penelitian psikologi menunjukkan persoalan ini tidak sesederhana “orang tua lebih mudah tertipu”. 

American Psychological Association mencatat bahwa orang dewasa yang lebih tua dalam beberapa penelitian justru dapat lebih baik dalam mengenali informasi yang salah dibandingkan kelompok lebih muda, tetapi pada saat yang sama mereka ditemukan lebih mungkin melihat dan membagikan informasi palsu di media sosial. Dengan kata lain, kemampuan mengenali informasi dan kecenderungan membagikannya merupakan dua persoalan yang berbeda. Perbedaan tersebut penting. Seseorang mungkin sebenarnya mampu memahami bahwa sebuah informasi meragukan, tetapi tetap meneruskannya karena dorongan sosial, kekhawatiran terhadap keluarga, kebiasaan, atau keinginan membantu orang lain. Persoalan utamanya bukan sekadar apakah generasi baby boomer mampu menggunakan teknologi namun apakah teknologi telah mengubah cara mereka berpikir, berinteraksi, mengatur perhatian, dan menentukan sesuatu sebagai benar?

Gawai dapat menjadi jendela menuju dunia yang lebih luas. Ia juga dapat menjadi pintu menuju ruang informasi yang semakin sempit ketika seseorang hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa. WhatsApp dapat mempertemukan kembali sahabat lama, menjaga hubungan keluarga, dan mengurangi kesepian. Namun, ruang yang sama dapat berubah menjadi lorong gema ketika setiap pesan dipercaya karena datang dari orang yang dikenal. Literasi digital bagi generasi tua tidak bisa dibangun dengan nada menggurui. Mereka tidak perlu diposisikan sebagai kelompok yang “tidak mengerti teknologi”. Sebaliknya, mereka perlu ditempatkan sebagai warga digital yang memiliki pengalaman hidup panjang, tetapi sedang berhadapan dengan jenis lingkungan informasi yang sama sekali baru.

Generasi yang dahulu belajar membaca dunia melalui koran, radio, televisi, dan percakapan tatap muka kini harus belajar membaca dunia melalui layar kecil yang tidak pernah berhenti memberi informasi. Tantangannya bukan membuat mereka menjauh dari gawai, tetapi menempatkannya sebatas alat bantu komunikasi.  Obyek yang mampu dikendalikan, bukan ruang yang perlahan mengendalikan cara melihat dunia. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar