Bahagia Menyaksikan Buah Pendidikan Qurani

Bantul, jogja-ngangkring.com - Pagi itu, suasana di Kampus 2 TKIT Al Farabi, Tamantirto, Kasihan, Bantul, terasa berbeda. Di tengah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa-doa yang mengalun dari bibir anak-anak usia dini, puluhan pasang mata orang tua tampak berbinar. Sebagian tersenyum haru, sebagian lain sesekali mengusap sudut mata. Ada rasa syukur yang sulit disembunyikan ketika mereka menyaksikan secara langsung hasil dari proses pendidikan yang selama ini dijalani putra-putri mereka.
Sebanyak 74 siswa TKIT Al Farabi tampil dalam kegiatan Hubbul Quran yang digelar pada Sabtu (6/6). Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni akhir tahun pembelajaran, melainkan sebuah ruang uji publik yang memperlihatkan capaian pendidikan Al-Qur'an bagi anak usia dini.
Meski berlangsung dalam suasana khidmat, nuansa ceria khas anak-anak tetap terasa kuat. Dengan dipandu seorang ustadzah, para siswa secara bersama-sama melafalkan surat-surat pendek, hadits-hadits pilihan, serta doa-doa harian. Tidak berhenti pada penampilan kolektif, hadirin bahkan diberi kesempatan untuk menguji kemampuan anak-anak secara langsung dengan menunjuk siswa tertentu untuk membacakan hafalan yang diminta.
Hasilnya cukup mengesankan. Satu demi satu anak mampu melafalkan surat, hadits, maupun doa dengan baik dan lancar. Demonstrasi sederhana itu menjadi bukti bahwa proses pembelajaran yang berlangsung selama ini tidak sekadar berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga membangun kedekatan emosional anak dengan Al-Qur'an sejak usia dini.
Ke-74 siswa tersebut merupakan bagian dari 243 peserta didik yang saat ini dilayani oleh Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Al Farabi melalui layanan TKIT, Kelompok Bermain, dan Penitipan Anak. Keseluruhan proses pendidikan didukung oleh 31 guru dan tenaga kependidikan.
Dalam perspektif pendidikan Islam, kecintaan terhadap Al-Qur'an atau hubbul Quran bukan hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menghafal. Lebih dari itu, ia merupakan fondasi pembentukan karakter yang berorientasi pada nilai-nilai ilahiah. Karena itulah, keberhasilan seorang anak melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an sering kali menghadirkan kebahagiaan yang mendalam bagi orang tua. Mereka melihat bukan hanya capaian akademik, tetapi juga tumbuhnya benih-benih akhlak dan spiritualitas pada diri anak.
"Kegiatan ini dimaksudkan sebagai uji publik kemampuan dan keterampilan anak setelah memperoleh pendidikan di TKIT Al Farabi, khususnya dalam mencintai Al-Qur'an. Kami bekerja sama dengan Ummi Foundation sebagai lembaga penjamin mutu pembelajaran Al-Qur'an. Tadi kita saksikan siswa diuji langsung oleh hadirin mengenai surat-surat pendek, hadits sederhana, dan doa harian. Alhamdulillah mereka mampu melafalkannya dengan baik," ujar Kepala TKIT Al Farabi, Siti Lestari, S.Pd.AUD.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk membangun generasi Qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan spiritual yang kuat. Dukungan yayasan, komite sekolah, dan orang tua menjadi elemen penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Kebahagiaan yang dirasakan orang tua tercermin dari ungkapan Sri Murtini, salah seorang wali murid. Baginya, yang paling membahagiakan bukan hanya kemampuan anak menghafal surat-surat pendek, tetapi juga perubahan perilaku yang mulai terlihat dalam keseharian.
"Kami merasa bahagia dan terharu. Anak-anak mampu melafalkan surat pendek, hadits, dan doa dengan benar dan lancar. Dengan kelembutan serta kasih sayang para guru, kami juga melihat perkembangan akhlak mereka. Hari ini kami menyaksikan kegiatan berbagi kepada masyarakat sekitar sekolah. Itu menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Kami berterima kasih dan mendoakan semoga segala amal baik para guru mendapat balasan terbaik dari Allah SWT," tuturnya.
Momentum Hubbul Quran tahun ini juga menjadi penanda penting bagi perkembangan kelembagaan Al Farabi. Pada kesempatan yang sama dilakukan peresmian gedung pendidikan baru yang berdiri di atas lahan seluas 800 meter persegi. Bangunan dua lantai tersebut akan dimanfaatkan untuk layanan Kelompok Bermain serta pusat administrasi dan sekretariat lembaga.
Ketua Yayasan Al Farabi Mulia, Misbakhul Anwar, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas baru merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, pendidikan yang baik harus mampu mengembangkan seluruh aspek potensi anak secara seimbang, baik kecerdasan intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Karena itu, keberadaan sarana yang memadai menjadi salah satu faktor pendukung dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal.
"TKIT Al Farabi akan terus berupaya melahirkan generasi rabbani. Anak-anak dididik agar memiliki kecerdasan spiritual, akhlakul karimah, serta tumbuh kembang yang optimal. Harapan kami, kelak mereka menjadi pemimpin yang berakhlak mulia, kredibel, dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menjelang penutupan acara, Pendiri sekaligus Pembina Yayasan Al Farabi Mulia, Hary Sutrasno, menyampaikan pesan yang mengandung refleksi mendalam tentang hakikat pendidikan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menghafal, melainkan pada kemampuan mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan keterlibatan aktif keluarga. Sekolah dan orang tua tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus menjadi mitra yang saling menguatkan dalam membentuk karakter anak.
"Menghafal Al-Qur'an adalah sesuatu yang baik, tetapi yang lebih penting adalah mengamalkannya. Dan efektivitas pendidikan yang paling tinggi sesungguhnya adalah keteladanan. Keteladanan lebih baik daripada seribu nasihat. Karena itu, mari kita bersama-sama membuktikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa pribadi Islam adalah pribadi yang jujur, berintegritas, disiplin, dan kompeten," pesannya.
Di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan tersebut terasa relevan. Pendidikan anak usia dini bukan semata proses transfer pengetahuan, melainkan upaya menanamkan nilai yang kelak menjadi kompas kehidupan mereka. Dan pada pagi itu, di tengah senyum para orang tua yang menyaksikan putra-putrinya melafalkan ayat-ayat suci, harapan tentang lahirnya generasi Qurani tampak menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling membahagiakan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar