BISIKAN SETAN: RAGU ALLAH MAMPU KABULKAN HAJAT
YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com - Ada satu penyakit hati yang sering tidak disadari manusia ketika sedang menghadapi persoalan hidup, yakni meragukan kemampuan Allah dalam mengabulkan hajat. Seseorang mungkin rajin berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah, tetapi jauh di dalam hati tersimpan keraguan. Ia berpikir bahwa persoalannya terlalu berat, keinginannya terlalu besar, atau jalan keluar yang diharapkan sepertinya mustahil terjadi. Pikiran semacam ini patut diwaspadai karena dapat mengikis keyakinan terhadap kemahakuasaan Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar senantiasa memiliki prasangka baik kepada Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan pentingnya husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah. Keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya tidak semestinya dibatasi oleh ukuran kemampuan manusia. Sesuatu yang menurut perhitungan manusia sulit bahkan mustahil, bukan berarti tidak mungkin bagi Allah. Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, kekayaan, kekuasaan, ataupun keterbatasan makhluk-Nya.
Meragukan kemampuan Allah untuk mengabulkan hajat merupakan bentuk buruk sangka yang sangat berbahaya bagi keimanan. Ketika seseorang merasa bahwa masalahnya terlalu besar untuk diselesaikan Allah, sesungguhnya ia sedang mengukur kekuasaan Allah dengan ukuran dirinya sendiri. Padahal, tidak ada satu pun persoalan manusia yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Bisikan yang membuat manusia kehilangan keyakinan terhadap pertolongan Allah inilah yang harus dilawan. Setan senantiasa berusaha menanamkan keraguan, ketakutan, dan keputusasaan agar manusia menjauh dari harapan kepada rahmat Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” Ayat ini menegaskan betapa luasnya rahmat Allah. Tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk menutup pintu harapan, sekalipun ia merasa telah melakukan banyak kesalahan atau sedang menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi. Selama masih hidup, pintu taubat, doa dan pertolongan Allah tetap terbuka.
Allah SWT bahkan menjanjikan jalan keluar dan rezeki bagi hamba-Nya melalui jalan yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Dalam QS. At-Talaq ayat 2–3, Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa datangnya pertolongan Allah tidak selalu mengikuti perhitungan manusia. Rezeki bisa hadir melalui orang yang tidak pernah diduga, kesempatan yang sebelumnya tidak terpikirkan, jalan usaha yang tidak pernah direncanakan, atau kemudahan yang muncul ketika berbagai pintu seolah telah tertutup.
Berbaik sangka kepada Allah bukan berarti manusia boleh berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban. Keyakinan harus berjalan bersama ikhtiar. Ikhtiar manusia terbesar adalah doa yang disertai sabar dan tawakal. Seseorang yang menginginkan rezeki harus tetap bekerja, yang mengharapkan kesembuhan harus berusaha mencari pengobatan, dan yang menginginkan perubahan hidup harus berani memperbaiki diri. Doa adalah kekuatan yang menyertai setiap usaha.
Ada kalanya doa tidak dikabulkan sesuai dengan waktu dan bentuk yang diminta. Ada pula hajat yang menurut manusia baik, tetapi Allah mengetahui bahwa sesuatu yang lain lebih tepat baginya. Husnuzan kepada Allah juga berarti percaya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tugas manusia adalah memohon dengan sungguh-sungguh, berusaha dengan maksimal, dan tidak mendikte bagaimana Allah harus memberikan jawaban.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seseorang tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.”
Keyakinan kepada Allah semestinya tidak kalah oleh besarnya persoalan. Jangan sampai manusia lebih percaya pada sulitnya keadaan daripada luasnya kekuasaan Allah. Jangan biarkan bisikan setan mengubah doa menjadi keraguan dan harapan menjadi keputusasaan.
Bagi Allah tidak ada sesuatu yang terlalu besar untuk diberikan dan tidak ada persoalan yang terlalu berat untuk diselesaikan. Teruslah berdoa, berikhtiar, dan berbaik sangka. Hajat boleh jadi belum terwujud hari ini, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh berhenti sampai kapan pun. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar