UNY Kembangkan Sistem Peringatan Dini Banjir Sungai Bawah Tanah Karst di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, jogja-ngangkring.com - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan perangkat sistem peringatan dini banjir luapan sungai bawah tanah karst di Padukuhan Jragum, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Program tersebut menjadi upaya mitigasi bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan karst yang memiliki karakteristik hidrologi unik dan berpotensi mengalami banjir luapan secara tiba-tiba.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 6 Juni 2026 itu dipimpin oleh Ketua Tim PKM UNY, Dr. Eko Budiyanto, M.Si., bersama anggota tim yang terdiri atas Garin Darpitamurti, S.Pd., M.Pd., Elinda Tria Wati, S.Pd., M.Sc., dan Pratidina Izza Rahmasyah, M.Pd. Program tersebut berfokus pada pengembangan perangkat sistem peringatan dini yang dapat memberikan informasi lebih cepat kepada warga ketika debit air sungai bawah tanah mengalami peningkatan signifikan.
Dr. Eko Budiyanto menjelaskan bahwa kawasan karst Gunungkidul memiliki sistem aliran sungai bawah tanah yang berbeda dengan daerah lain. Kondisi tersebut membuat potensi banjir luapan sering kali sulit diprediksi oleh masyarakat karena air dapat muncul secara tiba-tiba dari lorong-lorong bawah tanah ketika curah hujan tinggi terjadi di wilayah hulu.
“Karakter kawasan karst sangat khas. Aliran air tidak selalu terlihat di permukaan sehingga masyarakat sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk mengantisipasi ketika terjadi peningkatan debit air. Melalui program ini kami berupaya mengembangkan perangkat sistem peringatan dini yang dapat membantu warga memperoleh informasi lebih cepat sebelum banjir meluas,” ujar Dr. Eko saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurutnya, pengembangan teknologi mitigasi bencana berbasis masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi. Sistem peringatan dini tidak hanya berfungsi sebagai alat pendeteksi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan warga menjadi faktor utama dalam keberhasilan program tersebut. Oleh karena itu, tim PKM UNY tidak hanya memasang dan mengembangkan perangkat, tetapi juga memberikan pendampingan serta sosialisasi mengenai mekanisme penggunaan sistem peringatan dini.
“Kami ingin teknologi ini benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan hanya aspek teknis, tetapi juga pemberdayaan warga agar mampu mengelola dan memanfaatkan sistem secara mandiri,” katanya.
Sementara itu, Kamituwa Desa Ngeposari, Sutiyo menyambut baik pelaksanaan program pengabdian tersebut. Menurutnya, keberadaan sistem peringatan dini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Padukuhan Jragum yang berada di wilayah karst dan memiliki hubungan langsung dengan sistem sungai bawah tanah.
“Kami mengapresiasi UNY yang memilih Ngeposari sebagai lokasi pengabdian masyarakat. Program ini sangat relevan dengan kebutuhan warga karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat. Harapan kami, sistem yang dikembangkan dapat menjadi alat mitigasi yang efektif dan berkelanjutan,” ujar Sutiyo
Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat mengandalkan pengamatan manual terhadap kondisi cuaca dan perubahan aliran air untuk mengantisipasi kemungkinan banjir. Namun metode tersebut memiliki keterbatasan, terutama ketika hujan deras terjadi di wilayah yang jauh dari lokasi permukiman.
Dengan adanya perangkat sistem peringatan dini, lanjutnya, masyarakat diharapkan memperoleh informasi lebih cepat sehingga dapat melakukan langkah-langkah penyelamatan secara lebih terencana. Selain itu, perangkat tersebut juga dapat mendukung upaya pemerintah kalurahan dalam memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap bencana.
Program pengabdian yang dilaksanakan oleh tim Pendidikan Geografi FISIP UNY ini juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah berbasis pengurangan risiko bencana. Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, berbagai inovasi teknologi diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan yang dihadapi warga di lapangan.
Gunungkidul sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah karst terbesar di Indonesia dengan jaringan sungai bawah tanah yang kompleks. Kondisi geologis tersebut memberikan manfaat besar bagi ketersediaan sumber daya air, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan risiko bencana, termasuk potensi banjir luapan sungai bawah tanah.
Melalui pengembangan perangkat sistem peringatan dini ini, masyarakat Padukuhan Jragum diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi ancaman banjir sejak dini. Kehadiran teknologi tersebut menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya siaga bencana sekaligus meningkatkan keselamatan warga yang tinggal di kawasan karst Gunungkidul. (*/)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar