Incinerator Pintar dari UAD Diterapkan di Caturharjo Pandak
BANTUL, jogja-ngangkring.com — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyerahkan teknologi Incinerator Pintar kepada masyarakat Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, beberapa hari lalu. Inovasi tersebut dirancang untuk mengolah residu sampah sekaligus memantau emisi hasil pembakaran secara real time melalui sistem berbasis Internet of Things (IoT).
Serah terima sekaligus soft launching Teknologi Incinerator Sampah dan Deteksi Emisi Gas Berbasis IoT itu merupakan bagian dari Hibah LPDP melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI) Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya UAD menerjemahkan hasil riset menjadi solusi yang dapat digunakan masyarakat. Tim penelitian dipimpin Prof. Ir. Anton Yudhana, S.T., M.T., Ph.D., dengan anggota Prof. Ir. Maryudi, S.T., M.T., Ph.D., Prof. Dr. Anom Wahyu Asmorojati, S.H., M.H., Dr. Wiwiek Afifah, M.Pd., dan Ulaya Ahdiani, S.S., M.Hum. dari UAD, serta Asno Azzawagama Firdaus, S.Kom., M.Kom. dari Universitas Qamarul Huda Baadaruddin Bagu, Lombok Tengah, yang saat ini menempuh studi doktoral di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
Prof. Anton Yudhana, yang juga pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD, mengatakan penerapan teknologi tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi UAD dengan masyarakat Caturharjo yang telah dibangun selama sekitar empat tahun. Menurutnya, teknologi tepat guna diperlukan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang telah dikembangkan warga.
“UAD memiliki tanggung jawab bahwa kampus harus bermanfaat untuk kampung,” ujar Prof. Anton.
Ia menjelaskan, keunggulan Incinerator Pintar tidak semata-mata terletak pada proses pembakaran, tetapi pada sistem pemantauan emisi yang menyertainya. Melalui perangkat digital, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kondisi emisi dan mengetahui potensi keberadaan gas berbahaya dari proses pengolahan residu.
Teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi terlebih dahulu dipilah dan dimanfaatkan, sedangkan material yang tidak lagi dapat digunakan menjadi residu yang dapat diproses melalui incinerator.
Dengan pendekatan itu, incinerator tidak diposisikan sebagai solusi tunggal terhadap persoalan sampah. Teknologi justru menjadi salah satu mata rantai dalam sistem yang dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Direktur Program BESTARI Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, yang diwakili Dr. Aris Winarna, S.E., M.M., menekankan pentingnya mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat dalam menghasilkan inovasi. Menurutnya, perguruan tinggi tidak seharusnya berjarak dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Jika sebelumnya kampus kerap dipersepsikan sebagai “menara gading”, kini pengetahuan ilmiah perlu bergerak keluar dari ruang akademik dan berinteraksi dengan pengetahuan lokal yang telah berkembang dalam kehidupan warga.
Caturharjo menjadi salah satu contoh bagaimana pengelolaan sampah di wilayah ini dikembangkan dengan menghidupkan kembali kearifan lokal yang dikenal sebagai “Olah Sampah Coro Simbah”. Konsep tersebut merujuk pada kebiasaan masyarakat terdahulu dalam menangani sampah organik secara mandiri. Warga membuat jugangan, yakni lubang di pekarangan yang digunakan untuk mengembalikan sampah organik ke dalam tanah. Prinsip tersebut kemudian dipadukan dengan sistem pemilahan. Sampah organik dikelola melalui jugangan, material bernilai ekonomi dipisahkan untuk dimanfaatkan atau dijual, sedangkan residu yang tidak dapat diolah lebih lanjut diarahkan ke teknologi incinerator.
“Sekali lagi, inti pengelolaan sampah adalah di hulunya,” kata Aris.
Menurutnya, persoalan sampah tidak akan selesai jika penanganannya hanya berorientasi pada pemindahan limbah dari satu lokasi ke lokasi lain. Pengurangan timbulan, pemilahan, dan pengolahan sejak sumber menjadi fondasi penting untuk membangun sistem yang berkelanjutan.
Ia mencontohkan persoalan yang masih dihadapi sejumlah kawasan pengelolaan sampah berskala besar, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan persampahan membutuhkan intervensi sistemik, bukan sekadar penambahan fasilitas di hilir.
Program BESTARI juga menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai bagian penting dalam penerapan hasil riset. Karena itu, pengembangan sistem pengelolaan sampah di Caturharjo diarahkan pada terbentuknya ekosistem kolaboratif yang mempertemukan akademisi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
Aris menilai keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mengadopsi dan mempertahankan praktik tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Penguatan kolaborasi dan kerja sama dalam pengelolaan sampah sehingga akan menjadi budaya dalam mengelola sampah yang baik,” lanjut Aris.
Pendekatan itu sejalan dengan konsep living lab atau laboratorium hidup yang digunakan dalam penelitian. Dalam kerangka ini, masyarakat bukan sekadar penerima hasil penelitian, melainkan menjadi subjek yang terlibat dalam proses pengembangan, penerapan, dan evaluasi teknologi.
Lingkungan masyarakat menjadi ruang pengujian sekaligus pembelajaran. Persoalan nyata yang ditemukan di lapangan menjadi dasar pengembangan teknologi, sementara penerapannya memberikan umpan balik bagi penyempurnaan inovasi.
Dengan model tersebut, hasil riset tidak berhenti pada publikasi atau dokumen akademik. Pengetahuan diuji melalui kebutuhan riil, teknologi disesuaikan dengan kondisi lokal, dan masyarakat memperoleh ruang untuk ikut menentukan keberlanjutan penerapannya.
Lurah Caturharjo H. Wasdiyanto, S.Si., Panewu Pandak Nanang Dwi Atmoko, S.Sos., serta sejumlah tokoh dan unsur masyarakat turut hadir dalam kegiatan serah terima. Keterlibatan berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah di Caturharjo mulai diarahkan sebagai agenda bersama, bukan semata-mata program perguruan tinggi.
Bagi Caturharjo, kehadiran Incinerator Pintar menambah instrumen teknologi dalam sistem yang sebelumnya telah dibangun melalui praktik pemilahan dan pengelolaan berbasis masyarakat. Bagi UAD, penerapan tersebut menjadi ruang untuk menguji sejauh mana hasil penelitian dapat memberikan manfaat dalam konteks kehidupan nyata.
Serah terima teknologi ini sekaligus memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dapat tumbuh dari pertemuan antara kepakaran akademik, kebutuhan lapangan, serta kearifan lokal. Incinerator Pintar bukan sekadar perangkat untuk mengolah residu. Teknologi menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola persampahan yang lebih terukur, adaptif, dan mandiri. Teknologi bukan hanya sebagai produk penelitian, melainkan sebagai instrumen untuk membangun ekosistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. (Tor)

Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar