TERAS

Lawan Stigma Disabilitas dengan Tulisan

  • Administrator
  • Rabu, 02 September 2026
  • menit membaca
  • 13x baca
Lawan Stigma Disabilitas dengan Tulisan

Lawan Stigma Disabilitas dengan Tulisan

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Lokakarya Penulisan Bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas yang diselenggarakan oleh Komunitas Suku Sastra Yogyakarta di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) D.I Yogyakarta mendapat apresiasi penuh dari Anggota DPD RI dari D.I. Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. Acara ini dinilai sebagai kegiatan yang hebat karena melibatkan sinergi dari banyak pihak yang luar biasa.

“Acara yang luar biasa, acara yang super-super hebat, saya memberikan apresiasi luar biasa pada apa yang Bapak Ibu semuanya lakukan pada pagi hari. Dan acara ini adalah acara yang mempertemukan banyak pihak, banyak hal, tiada lain sesungguhnya adalah untuk kemaslahatan kita semuanya, masyarakat bangsa Indonesia,” kata Gus Hilmy di hadapan para peserta dalam acara pembukaan rangkaian Lokakarya Penulisan Bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas di kantor DPD RI DIY, Rabu (02/09/2026).

Dalam arahannya, Gus Hilmy, panggilan akrabnya, mengawali pandangannya dengan merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat al-Isra’ Ayat 70. Ia menegaskan bahwa esensi dari memuliakan manusia adalah menempatkan sesama manusia dalam keadaan setara, menjamin berlakunya hak asasi mereka, serta menghindarkan segala bentuk kesewenangan dan perlakuan aniaya di antara sesama. 

“Jadi, ayat itu kalau kita cermati, dimulai dengan penguat. Ada laqod yang artinya ‘sungguh benar-benar’. Karramna, kami memuliakan Bani Adam. Allah memuliakan seluruh anak manusia. Allah menciptakan manusia segala sesuatunya itu fi ahsani taqwim, dalam penciptaan yang sempurna, yang paling baik, yang mengarahkan semuanya, semua makhluk, ini adalah manusia,” papar Gus Hilmy.

Kepada para orang tua yang hadir, salah satu salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tersebut berpesan agar senantiasa berjiwa besar dalam menerima takdir, yang dimaknai sebagai pengetahuan mendalam atas ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah Ta’ala. 

“Kalau kemudian ada di antara kita diberikan putra atau turunan yang dalam keadaan difabel, maka itu semua adalah ujian. Di sisi lain, juga merupakan anugerah. Tugas kita adalah menerima takdir itu. Sebagaimana ungkapan penyair ‘Bila Anda rela dengan apa yang menjadi ketentuan Allah, maka Anda akan merasa nyaman menjalani hidup. Sebaliknya, bila Anda tidak rela dengan apa yang sudah dibagi oleh Allah, Anda justru akan merasa hidup Anda senantiasa dalam kesusahan’,” kata Gus Hilmy.

Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut juga menekankan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana menyikapi takdir itu. Terutama dalam menghadapi bullying dari teman-temannya.

“Orang tua juga penting untuk memahamkan takdir tersebut kepada anak, bagaimana menyikapi ini. Di antaranya dengan cara menyalurkan apa yang dirasakan secara positif tanpa perlu membanding-bandingkan kondisi anak dengan yang lain,” tutur Gus Hilmy.

Selain itu, Gus Hilmy memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya mendokumentasikan dan menuliskan pengalaman nyata yang dialami oleh keluarga. Langkah menulis ini dinilai krusial untuk menghilangkan stigma negatif di masyarakat terkait literasi disabilitas yang saat ini masih sangat kurang. Melalui catatan dan kisah pengalaman tersebut, masyarakat luas diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas secara manusiawi. 

“Dengan membaca tulisan Bapak Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’ Mungkin menjadi salah satu alternatif cara dalam memperlakukan anak disabilitas. Melalui penulisan pengalaman nyata oleh para orang tua, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami cara penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat, sehingga stigma yang melekat pada penyandang disabilitas dapat dikikis secara bertahap. Stigma negatif ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi mengenai disabilitas,” ungkap Gus Hilmy.

Sementara itu, ketua Suku Sastra Fairuzul Mumtaz menjelaskan bahwa lokakarya tersebut akan diselenggarakan selama satu bulan di gedung DPD RI DIY. Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Program ini juga terselenggaran atas kerja sama dengan Komunitas Bawayang.

“Selama satu bulan, para orang tua akan didampingi untuk menulis karya sastra dan akan dibukukan. Ini menjadi hal penting, selain untuk penguatan literasi bagi masyarakat umum terkait disabilitas, juga menyumbangkan narasi-narasi baru bagi hazanah karya sastra Indonesia,” kata Fairuz. (*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar