TERAS

Mengubah Rutinitas Harian Menjadi Pahala Abadi

  • Administrator
  • Sabtu, 27 Desember 2025
  • menit membaca
  • 168x baca
Mengubah Rutinitas Harian Menjadi Pahala Abadi

Mengubah Rutinitas Harian Menjadi Pahala Abadi

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Peringatan Hari Ibu 2025 dimaknai secara reflektif dalam pengajian rutin PKK RW 04 Tinalan, Prenggan, Kotagede, yang digelar di Masjid Al-Barokah, Sabtu sore, 27 Desember 2025. Pengajian tersebut menghadirkan Ir. Ridwan Wicaksono, PhD, dosen Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada sebagai pemateri.

Di tengah realitas sosial hari ini, angka perceraian terus meningkat. Sebagiannya disebabkan oleh suami yang tidak mampu menjemput nafkah, sebagian lain justru oleh suami yang sukses secara ekonomi namun tergelincir pada perselingkuhan. Di sisi lain, banyak rumah tangga rapuh bukan karena kekurangan materi, melainkan karena miskinnya komunikasi. Suami dan istri sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing, hingga kehilangan ruang dialog dan empati.

Padahal, pernikahan ideal adalah pernikahan yang sakinah: tenang, penuh ridha, dan saling menguatkan. Sakinah bukan berarti tanpa konflik, melainkan rumah tangga yang mampu mengelola konflik dengan niat yang lurus dan komunikasi yang jujur.

Islam mengajarkan bahwa kelak di akhirat manusia akan berada dalam “wana-wana” yang berbeda. Ada wana yang suram, ada pula wana yang cerah. Perbedaannya bukan semata pada hasil, tetapi pada niat dan jalan yang ditempuh. Ada kelelahan yang bernilai ibadah—seperti lelah mencari rezeki yang halal—dan ada pula lelah mengurus rumah tangga dengan penuh kesabaran.

Ketika suami dan istri sama-sama ridha atas perannya, kelelahan itu tidak sia-sia. Rezeki yang halal menumbuhkan ketenangan, dan ketenangan adalah fondasi rumah tangga sakinah. Dari ridha itulah terbuka jalan menuju surga.

Allah SWT menegaskan pentingnya keikhlasan dan ikhtiar dalam Surah Al-Bayyinah... mukhlisina lahud-dina hunafa... Kebahagiaan yang berkelanjutan tidak lahir dari rutinitas mekanis, tetapi dari kesadaran bahwa setiap aktivitas—sekecil apa pun—adalah bentuk penghambaan kepada Allah.

Surah-surah setelah Asy-Syams hingga Al-Fajr mengingatkan manusia agar tidak menjadi golongan yang merugi. Salah satu sebab kerugian itu adalah menjalani hidup tanpa niat ilahiah. Karena itu, kemuliaan seorang istri yang mengurus rumah tangga, maupun suami yang bekerja mencari nafkah, terletak pada niatnya. Semuanya harus diniatkan untuk Allah, agar hidup mengarah pada surga, bukan sekadar selesai di dunia.

Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa iman mencakup keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab, nabi, hari kiamat, dan takdir. Takdir Allah bersifat pasti, namun manusia diberi ruang ikhtiar. Ada takdir yang mutlak, ada pula yang melibatkan usaha manusia.

Apa pun profesinya—ibu rumah tangga, buruh, akademisi, atau pengusaha—setiap orang sedang berjalan di jalur takdir yang telah ditetapkan Allah. Karena itu, respons terbaik manusia adalah sabar dan syukur, terutama ketika menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Ingatlah bahwa “CCTV Allah” bekerja 24 jam; tidak ada satu pun kelelahan yang luput dari pengawasan-Nya.

Mayoritas manusia memilih kebahagiaan dunia dan mengabaikan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Padahal Islam menawarkan pilihan yang lebih luhur: hidup mulia atau mati syahid. Ilmu sendiri adalah salah satu jalan jihad, termasuk ilmu tentang keluarga, kesehatan, dan pengelolaan diri.

Taqwa tidak berada di luar diri, melainkan di dada. Organ-organ di rongga dada sangat memengaruhi ketenangan dan cara berpikir manusia. Kesehatan fisik berhubungan langsung dengan kualitas ibadah. Ibadah tidak akan maksimal jika manusia tidak sehat.

Ketenangan batin membantu menstabilkan asam lambung. Sebaliknya, stres, pola tidur yang buruk, dan makanan yang tidak terjaga dapat memicu gangguan lambung yang kemudian berdampak pada organ tubuh lain. Islam mengajarkan keseimbangan: menjaga ruhani sekaligus jasmani.

Untuk kesehatan otak, Islam bahkan mendorong aktivitas menghafal. Menghafal Al-Qur’an terbukti merangsang perkembangan otak dan mencegah demensia. Sebaliknya, terlalu banyak menonton televisi atau gawai justru berpotensi menghambat perkembangan kognitif. Mendengar—seperti mendengarkan kajian atau murrotal—merangsang imajinasi dan membuat otak lebih aktif.

Intinya, Hari Ibu 2025 mengajak kita semua—terutama para ibu—untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di era kecanggihan teknologi. Rutinitas harian tidak perlu ditinggalkan, tetapi ditinggikan nilainya melalui niat yang benar. Mengurus rumah, mendidik anak, bekerja, belajar, dan beribadah adalah rangkaian jihad jika diniatkan untuk Allah.

Sebuah pengingat bahwa di balik rutinitas yang sering dianggap biasa, tersimpan peluang pahala yang abadi. Hari Ibu bukan hanya tentang bunga dan ucapan, tetapi tentang kesadaran bahwa setiap lelah yang diniatkan untuk Allah akan berbuah surga. (Yun)

Tags: Tinalan

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

Radio, Dulu dan Sekarang

Radio, Dulu dan Sekarang

  • Selasa, 13 Januari 2026
Mendengar dengan Cara yang Berbeda

Mendengar dengan Cara yang Berbeda

  • Minggu, 11 Januari 2026