Menanam Pohon, Ibadah yang Tak Putus Pahalanya
Oleh: Yuliantoro
Setiap tanggal 28 November, bangsa ini memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar seremoni menancapkan bibit di tanah basah. Ia adalah ajakan moral, panggilan nurani, sekaligus alarm keras di tengah semakin menipisnya kesadaran ekologis manusia modern. Bumi tempat kita berpijak sedang sakit. Hutan-hutan primer menyusut, mata air mati satu per satu, banjir bandang bergantian dengan kekeringan ekstrem, udara dipenuhi racun yang kita ciptakan sendiri. Dalam situasi kritis ini, menanam pohon bukan lagi kegiatan pelengkap, melainkan tindakan penyelamatan peradaban.
Lebih jauh, bagi masyarakat beriman, menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan. Ia adalah ibadah, amal jariyah yang pahalanya tidak akan terputus sekalipun penanamnya telah meninggal. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dari tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menempatkan pohon sebagai sumber keberlanjutan pahala, bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh makhluk. Pohon membangun rantai keberkahan: oksigen, air, kesejukan, buah, kayu, dan tempat hidup bagi ribuan spesies.
Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya menjaga bumi. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Kerusakan ekologis yang kini kita rasakan—pemanasan global, polusi air dan udara, krisis pangan dan energi—tidak lain adalah akibat pelanggaran manusia terhadap amanah ini. Kita mengubah hutan menjadi industri rakus, menukar gunung menjadi tambang, mengeringkan sungai demi kepentingan jangka pendek. Kita memperkaya diri sambil memiskinkan generasi yang akan datang.
Pohon adalah guru kehidupan, bekerja terus-menerus memberi manfaat. Setiap helai daun adalah pabrik oksigen, setiap akar adalah penjaga mata air, setiap batang adalah penyimpan karbon. Tanpa pohon, tidak ada hujan. Tanpa hujan, tidak ada air. Tanpa air, tidak ada kehidupan.
Ilmuwan lingkungan, Lester R. Brown, menegaskan bahwa hutan adalah benteng terakhir stabilitas iklim global dan masa depan pangan dunia (Plan B 4.0: Mobilizing to Save Civilization, 2009). Namun, fakta di lapangan menunjukkan ironi. Indonesia kehilangan sekitar 650 ribu hektar hutan per tahun (FAO, Global Forest Resources Assessment). Kita seperti orang kaya yang membakar rumah sendiri demi seonggok emas. Karena itu, peringatan Hari Menanam Pohon harus berubah dari seremoni menjadi gerakan nasional yang sejati. Gerakan yang tidak berhenti pada bibit ditanam, difoto, lalu ditinggalkan. Kita perlu ekologi komitmen, bukan ekologi seremonial.
Para wali dan ulama besar Nusantara menanam pohon setiap membuka pesantren dan pemukiman. Mereka paham bahwa da’wah bukan hanya membangun manusia, tetapi juga menjaga bumi sebagai amanah Ilahi. Dalam perspektif ini, menanam pohon adalah ibadah ekologis, bentuk keimanan yang nyata, bukan hanya retorika.
Gerakan menanam pohon juga harus diletakkan dalam konteks keadilan ekologis. Banyak wilayah miskin yang menjadi korban dari kerakusan industri kayu dan tambang. Banjir bandang di Kalimantan, longsor di Jawa, kekeringan di Nusa Tenggara, semuanya menunjukkan bahwa alam membalas. Dalam teori ecological justice, manusia wajib memulihkan hak lingkungan yang telah dirampas—hak sungai untuk mengalir, hak tanah untuk bernapas, hak pohon untuk tumbuh (Martinez-Alier, Environmentalism of the Poor, 2002).
Menanam pohon berarti mengembalikan keadilan bagi bumi dan makhluk yang tidak bersuara. Karena itu, momentum 28 November harus menjadi tekad bersama:
satu orang satu pohon setiap tahun,
satu sekolah satu hutan pendidikan,
satu pesantren satu kebun wakaf,
Satu desa satu kawasan hijau produktif.
Gerakan kecil tetapi konsisten akan menghasilkan perubahan besar. Jika 10 juta warga Indonesia menanam satu pohon saja setiap tahun, dalam 10 tahun kita punya 100 juta pohon baru—sebuah pasukan hijau yang mengembalikan air, menahan banjir, memperbaiki iklim, dan menyelamatkan bumi untuk anak cucu kita.
Pada akhirnya, menanam pohon adalah pernyataan cinta kepada generasi masa depan. Saat bibit kecil itu tumbuh, ia membawa pesan: kita tidak egois, kita peduli, kita ingin dunia ini tetap layak dihuni setelah kita tiada. Kita boleh tidak sempurna, tetapi kita bisa meninggalkan warisan terbaik: bumi yang lebih hijau daripada saat kita menerimanya.
Maka marilah kita memulai dari langkah paling sederhana namun paling bermakna. Tanamlah pohon. Rawatlah pohon. Jadikan itu ibadah.
Karena ketika kita menanam pohon, kita sedang menanam harapan, menanam kehidupan, dan menanam pahala yang tak putus sampai akhir zaman. Selamat Hari Menanam Pohon Indonesia – 28 November. Mari hijaukan bumi, selamatkan masa depan. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar