SEKOKOH CEMARA: HIKMAH MENJADI MANUSIA YANG TAK MUDAH TUMBANG
Oleh: Yuliantoro
Di lereng-lereng Gunung Lawu yang berkabut berdiri barisan pohon cemara yang seolah sedang mengajarkan manusia tentang keteguhan hidup. Mereka tumbuh tanpa pernah tahu kapan hujan turun atau kapan badai menghantam. Mereka tak memiliki kalender musim, tak berpikir tentang arah angin, dan tak pernah memprotes keadaan tanah tempat mereka tumbuh. Meski begitu, mereka tetap berdiri tegak.
Cemara-cemara itu mencengkeram bumi dengan akar-akar kecil namun kuat. Tanpa fondasi buatan, tanpa rekayasa teknik, mereka mampu menopang tubuhnya yang besar dan menjulang tinggi ke langit. Mereka berdiri menghadapi terpaan angin, guyuran hujan, sengatan matahari, dan gigitan dingin. Dan dalam diamnya, mereka memberi manfaat, memberi keteduhan, menjaga tanah dari longsor, menyaring udara, menyimpan air, dan menyejukkan lingkungan bagi semua makhluk.
Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang ayat-ayat yang tersebar di alam: “Dan Dia-lah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan…” (QS. Al-An’am [6]:99). Alam adalah kitab terbuka—kitab kauniyah—yang menyimpan pelajaran spiritual, psikologis, dan moral. Pohon adalah salah satu guru terbaik di sana.
Pohon tidak pernah mempertanyakan cobaan yang datang. Ia menerima, berdiri, dan terus tumbuh. Inilah sifat makhluk yang tunduk pada sunnatullah. Manusia sering jauh lebih gelisah; padahal hidup pun penuh ketidakpastian yang tak kalah besar dari badai di puncak gunung. Kita tidak pernah tahu kapan sakit datang, kapan kehilangan menghampiri, kapan pekerjaan hilang, kapan rezeki seret, atau kapan badai persoalan keluarga dan jiwa menerpa.
Allah telah menegaskan, “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah [2]:155).
Ujian adalah keniscayaan. Yang membedakan manusia hanya satu, "seberapa kokoh akar yang ia miliki". Sebagaimana cemara bertahan karena akarnya tertanam kuat di tanah, manusia bertahan karena pondasi spiritual dan akhlaknya tertanam kuat di hati.
Dalam tradisi Islam, akar kehidupan manusia adalah iman, sementara batangnya adalah ibadah, dan buahnya adalah akhlak. Rukun Iman dan Rukun Islam menjadi fondasi kokoh yang membuat manusia tidak mudah tumbang. Shalat yang tepat waktu, zakat dan sedekah yang membersihkan jiwa, puasa yang mendidik nafsu, haji yang membentuk ketundukan, dan dzikir yang menenangkan hati—semua itu adalah akar yang mencengkeram tanah kehidupan.
Namun Islam tidak berhenti pada ritual. Kekuatan manusia juga terletak pada manfaat yang ia berikan pada sesama. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Seorang mukmin sejati bukan hanya pohon yang berakar kuat, tetapi pohon yang meneduhkan siapa pun di sekitarnya.
Contoh paling indah tentang akar spiritual dan akhlak ini tampak pada peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Ketika Rasulullah SAW pulang dalam keadaan menggigil karena bertemu Malaikat Jibril, Sayyidah Khadijah al-Kubra RA menenangkannya dengan kata-kata yang selalu dikenang sepanjang zaman:
“Tenanglah. Demi Allah, Dia tidak akan mencelakakanmu. Engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, memuliakan tamu, membantu orang yang terkena musibah, dan menegakkan kebenaran.” (HR. Bukhari).
Khadijah tidak menyebut kecerdasan, kedudukan, atau strategi. Ia menyebut kebaikan. Inilah yang membuat seseorang dicintai dan dijaga Allah. Bukan kekuasaan, bukan jabatan, bukan harta, tetapi karakter dan manfaatnya.
Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai syajarah thayyibah, pohon yang baik:
“Akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, dan ia memberi buah pada setiap musim dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim [14]:24–25).
Ayat ini bukan metafora biasa. Ia adalah blueprint kehidupan.
Menjadi syajarah thayyibah berarti. Akarnya tertanam dalam iman yang teguh.
Batangnya kuat oleh ibadah dan konsistensi.
Cabangnya luas oleh ilmu, karya, dan pengalaman.
Buahnya hadir sepanjang waktu berupa kebaikan dan manfaat bagi sesama.
Pohon yang baik tidak pernah memilih siapa yang ia teduhkan. Ia memberi kepada siapa saja: manusia, hewan, bahkan musuh sekalipun. Demikian pula seorang mukmin: ia memberi manfaat tanpa pandang bulu.
Di zaman serba cepat, penuh kegelisahan dan kecemasan, manusia mudah patah oleh tekanan. Namun seorang mukmin tidak diciptakan untuk roboh. Ia diciptakan untuk kokoh, untuk menjadi peneduh bagi orang lain, untuk menjaga lingkungan sosialnya dari “longsor moral”, untuk menyaring udara kehidupan dari fitnah dan kekacauan. Jika pohon cemara yang sederhana saja mampu bertahan tanpa perencanaan teknis, mengapa manusia yang dibekali akal, hati, dan wahyu tidak mampu menjadi sosok yang kokoh Kuncinya adalah menguatkan akar—iman, ibadah, kebaikan, empati, dan kemanfaatan sosial. Ketika akar itu kuat, maka badai apa pun tidak akan membuat kita tumbang.
Ketika akhlak itu hidup, maka Allah akan menolong, sebagaimana Allah menolong Rasul-Nya.
Semoga kita semua menjadi “pohon-pohon” yang kokoh. Berdiri tegar menghadapi ujian hidup, memberi teduh bagi siapa pun yang mendekat, menyaring udara moral masyarakat, menahan erosi jiwa, dan memberikan manfaat di mana pun kita berada. Semoga kita menjadi syajarah thayyibah—pohon-pohon kebaikan yang buahnya terus hadir sepanjang musim kehidupan. Amin. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar