Festival Mudik 2026, Langit Wonosobo Kembali Berwarna

WONOSOBO, jogja-ngangkring.com — Langit pagi di Kabupaten Wonosobo kembali dipenuhi warna-warni balon udara. Hari pertama pelaksanaan Festival Mudik 2026 langsung menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan yang memadati sejumlah titik lokasi.
Salah satu pusat keramaian terlihat di Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar. Kawasan ini memang dikenal memiliki lanskap alam yang khas, berada di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Perpaduan bentang alam pegunungan dengan balon-balon udara beraneka motif menciptakan pemandangan yang menjadi daya tarik utama festival.
Sedikitnya 18 balon udara diterbangkan secara serentak. Balon-balon tersebut merupakan hasil karya kelompok masyarakat dari berbagai desa di Wonosobo, yang telah mempersiapkan desain dan konstruksinya jauh-jauh hari.
Antusiasme tidak hanya datang dari warga lokal. Wisatawan dari luar daerah turut memadati lokasi. Salah satunya Ruansha, pengunjung asal Solok yang mengaku terkesan dengan pengalaman menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Pemandangannya luar biasa. Balon-balon itu seperti menyatu dengan alam pegunungan. Ini bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman visual yang kuat,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival tahun ini diperluas secara signifikan. Jika sebelumnya terpusat di beberapa titik, kini kegiatan digelar di 23 lokasi berbeda.
“Tahun lalu jumlah pengunjung mencapai sekitar tiga juta orang. Tahun ini kami perluas agar dampak ekonominya lebih merata, terutama bagi pelaku UMKM dan sektor pariwisata lokal,” jelasnya.
Festival Mudik 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 29 Maret, dengan puncak acara dipusatkan di Alun-Alun Wonosobo. Selama periode tersebut, langit Wonosobo akan terus dihiasi balon udara di berbagai wilayah.
Pemerintah daerah juga memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Seluruh balon diterbangkan secara terkontrol dengan sistem tambat, serta dibatasi ketinggiannya maksimal sekitar 150 meter. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keamanan sekaligus menghindari gangguan terhadap lalu lintas penerbangan.
Lebih dari sekadar hiburan, Festival Mudik menjadi representasi kuat tradisi lokal yang terus dirawat. Di saat yang sama, ia juga menjelma sebagai motor penggerak ekonomi berbasis budaya yang menghubungkan warisan leluhur dengan peluang masa depan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar